HEADLINE

Cerpen Novri Irawan_TRESNALIVIA

TRESNALIVIA


Sejak tadi, aktivitas emak telah mengusik tidurku. Padahal emak tau jika semalam aku main judi, emak juga tau kalau aku pulang subuh. Sekedar membuang kantuk, dan melupakan kekalahan semalam, semestinya jam segini aku masih molor. Tapi ya sudahlah. Kopi hitam telah terlanjur diseduh, nanti keburu dingin. Aku wajib menghargai secangkir kopi, persembahan dari orang tua tunggalku.
Sambil menyalakan rokok, aku membaca gelagat wanita paruh baya yang menuruku cantik itu. Apa cantik! Benarkah dia cantik? Ups, jangan protes dulu, itukan menurutku,  karena wanita itu adalah ibuku.
Firasatku berkata, emak ingin menyampaikan sesuatu. Sebab aku faham sekali prilaku emak jika dia dalam keadaan suntuk. Dan, selang beberapa detik, ternyata tepat sekali;
"Qodir, kapan kau ke Kalimantan? Jangan lama-lama dikampung!"
"Dua hari lagi. Emak ngusir, ya? "
" Emak nggak ngusir, Dir. Tapi masyarakat kampung mulai risih dengan prilaku burukmu itu. Justru emak khawatir, nanti kau dilaporkan orang ke polisi ". Wajah emak cemas.
Lalu. Kurespon.
" Emak enggak usah khawatir. Jangankan polisi, Tentara Diraja Malaysia aja sekarang diam, mulutnya sudah kusumpel pake duit. Buktinya, di negeri jiran usaha kayu ilegalku laris manis. "
" Kau jangan takabur, Dir. Dari zaman nenek moyang dulu, tikus itu selalu takluk sama kucing ". Sambung emak, mulai jengkel.
Jika kutanggapi, ocehan emak akan semakin meluas. Aku tak mau berdebat soal jalan hidup, apalagi dengan sosok yang sangat kuhormati ini. Dengan kalimat sederhana, aku menenangkan kerisauan hatinya.
" Sudahlah, Mak. Doakan saja anakmu ini. Yakinlah, suatu saat nanti aku akan berdamai dengan hatiku sendiri."
Emak diam. Aku juga diam. Beliau menatapku, aku senyum sambil membalas tatapan matanya. Sebab aku mengerti, bahwa di balik pelupuk yang keriput itu, terdapat bola mata yang memancarkan cahaya kasih sayang yang begitu dalam.
Suasana lengang; Emak telah kembali dalam kesibukannya, aku beralih posisi kebaranda rumah. Ditemani secangkir kopi, dan sebatang rokok, kupandangi langit yang seakan terbalik. Halusinasi terbang malayang menggerayangi mantan istriku. Sumiati, wanita keras kepala yang sempat menjadi tulang rusukku. Karena hal sepele aku mengusirnya dari kehidupan ini, sebab aku tidak mau hidup di ujung telunjuk. Pergilah engkau jauh-jauh, Sumiati, temuilah laki-laki di luar sana sesuka hatimu.
Sialnya, bayangan kusut itu datang lagi. Aku lupa dengan komitmenku untuk mengubur dalam-dalam peristiwa sakral bersamanya. Aku tak ingin terjebak ke lingkaran masa lalu. Sungguh itu sama sekali tidak penting. Dalam perangkat otakku, Sumiati telah ku anggap 'spam'. Ah, celaka lagi, selain bayangan Sumiati yang membuatku galau saat ini adalah ramuan dopingku yang mulai sekarat, bukan tentang wanita kurus berhidung bungkuk itu, sebenarnya. Aku berkilah sendiri.
Bayangan silam baru saja pergi. Dan belum sempat aku memikirkan tentang kebutuhan syahwat duniawiku, tiba-tiba handpone bergetar. Teman mengirim pesan.
New Message;
Dir, aku dapat kabar kau lagi di kampung?
Replay;
Iya, Bos! Tapi enggak lama, lusa o-tewe lagi
 Kau masih ingat Handayani?  Teman SMP kita, yang dulu sering kita cemplungin ke kolam. Selama ini dia merantau ke Jakarta, sekarang dia pulang bawa duit banyak. Kabarnya  dia mau buka usaha di kampung.
Ya, aku ingat, Handayani. Tapi apa urusannya denganku? Enggak penting, Bos!
Ada kejutan, Dir. Usahakan sebelum o-tewe kau temuilah dulu Handayani
Stop. Tidak ada balasan dariku lagi. Namun tak bisa dipungkiri, pesan terakhir dari sahabat lamaku itu cukup mengundang rasa penasaran. Ada apa dengan Handayani? Seingatku dia adalah wanita bertubuh gempal, wajahnya sedikit bengap, dan banyak sekali kutu di kepalanya. Di sekolah dia adalah peserta didik yang paling dekil, dan juga termasuk anak yang susah nyambung. Nyaris tidak ada hal istimewa dari mahluk yang bernama Handayani.
Tetapi setelah dipikir-pikir, tidak ada salahnya jika rasa penasaran ini dilampiaskan. Kebetulan rokok habis, stok alkohol juga telah menipis, itu artinya aku harus keluar rumah, mengurai jenuh yang hampir saja kronis.
Di rumah Handayani, dan di kawasan ilegal tempat minuman haram di jajakan, kejenuhan ini harus dituntaskan. Hanya butuh waktu 10 menit, aku telah berdiri didepan rumah Handayani. Tidak ada kata bertele-tele, daun pintu segera kuketuk. Jantungku tersentak seakan diterjang kuda belang, mata terbelalak, mulut terkunci. Oh my god! Siapa gerangan yang membuka pintu ini?
" Eh, Qodir. Apa kabar ? Udah lama banget, ya, enggak kesini! "
Lelaki itu menyapaku sambil tersenyum. Sementara aku masih terpaku, masih terhipnotis oleh suara lembut wanita itu. Detak jantungku semakin tidak karuan, kemudian hatiku pun diserbu pertanyaan. Inikah jawaban dari rasa penasaran itu? Benarkah Handayani telah berubah wujud?
Mungkinkah ini kinerja teknologi. Sehingga Handayani telah berkamuplase, cantik seperti wanita korea.
"Hello, Qodir, kok bengong. Qodir lupa, ya, dengan Yani? Hmm..Yani, tau, Qodir pangling kan?! "
Dalam situasi terdesak jawabanku kurang terkontrol, karena kepalaku baru saja tersengat hipnotis. " Oh, enggak biasa aja. Boleh aku masuk ?"
" Boleh dong, masa enggak boleh! Mari silahkan," Demikian kalimat welcome dari Handayani, lalu kami mulai berbincang-bincang.
"Yani di jakarta, ya?" Sekedar mencairkan kebisuan, aku berpura-pura tenang.
"Iya, Dir. Setelah lulus DIPLOMA, aku berkerja di salah-satu perusahaan asuransi di Jakarta. "
" Berarti cuma liburan aja, nih, dikampung? "
"Bukan liburan, rencananya mau usaha di kampung aja. Pengen ngurus Abah, lagian beliau sekarang mulai sakit-sakitan. Udah tua, ka!"
"Oh, gitu. Yani sudah berkeluarga?" Meski sedikit gagap, kupaksakan juga pertanyaan ini. Tema utama yang kubawa dari rumah.
"Belum, Dir. Calon imamnya masih diseleksi, hehe "
Akupun ikut tertawa. Dan, di balik ekspresi itu perasaan nervousku nyaris tak terbendung. Hanya saja aku berlagak sedikit tegas padahal sebenarnya terjebak dalam kekakuan, entah mengapa baru kali ini aku merasa grogi setengah mati. Aku rasa arah pertemuan ini bukan lagi masalah penasaran, tapi sudah menjurus ke perasaan. Mungkinkah.
Pertemuan dengan Handayani berlangsung singkat saja. Aku pamit, mencari apa yang semestinya lebih mendesak: alkohol. Tapi yang terus menggelayuti hatiku saat ini adalah, mahluk tuhan yang dulu sering kucela, dan dia adalah Handayani.
Handayani sukses mematahkan kritikan orang-orang bengal sepertiku, sebab saat ini keadaan telah berubah. Metamorfosa dari seorang Handayani membuat kepalaku pusing. Tubuhnya sekrang begitu proporsional, parasnya eksotis serupa aktris, dan alangkah indah tatapan matanya. Dulu aroma tubuhnya hanyir, sehingga aku merasa mual jika ada sosok Handayani melintas di hadapanku namun sekarang keadaan terbalik, saat ini aroma tubuhnya semerbak laksana bunga. Dan yang lebih tragis lagi adalah, tuhan juga telah membalik hatiku. Dulu alangkah alerginya aku jika dia berada di dekatku, tapi sekarang justru aku ambisi ingin memilikinya. Egoisme di dadaku membuncah, tak rela jika ada cinta lain yang menikungnya lebih dulu.



*****
Handayani berhasil menciptakan kemelut persaingan. Karena menurut keterangan temanku, Handayani sudah lama diincar oleh para jomblo yang kebelet kawin. Sudah bisa dipastikan, bahwa saat ini para arjuna  tengah sibuk mengasah mata panah. Aku sadar betul, bahwa ruang kompetisi untuk seorang duda sepertiku begitu kompetitif, tapi sebagai jawara di hutan Borneo aku tidak boleh terlambat star, kerena seorang QODIR ALSUNGKAWA masih punya finis terdepan.
Waktu actionku hanya dua hari dari sekarang, itu artinya aku harus mempersiapkan diri untuk pertemuan nanti malam. Pertemuan berikutnya bukan dengan Handayani, tapi dengan abahnya. Akan kujemput suatu kepastian, restu dari abah Handayani. YA atau TIDAK.
Handayani dan Abahnya tidaklah asing bagiku. Di mata mereka, sebenarnya, trekreccod-ku buruk, tapi karena gelanggang persaingan telah terlanjur dibuka, aku harus nekat menabrak Role Of The Game sayembara terselubung ini. Selepas magrib, aku ke rumah Handayani. Tentunya membawa niat baik, dan jika misi ini sukses, aku tidak akan kembali ke tapal batas Indonesia-Malaysia. Itu artinya aku akan berhenti meniru gaya hidup orang-orang atheis yang tak mengenal tuhan. Tampa sepengetahuan Handayani, diam-diam aku telah menemui abah. Dan langsung angkat bicara, sebab aku tidak mau disalip oleh para pesaing di kampung ini.
"Assalamualaikum.. Abah, gimana kabarnya, sehat?" Terasa kaku lidahku melafazkan salam pada seorang lansia yang tengah duduk manis di hadapan televisi itu.
"Wa'alaikumssalam. Alhamdulillah abah dalam keadaan baik.  Eh, Qodir, apa kabarmu?" Laki-laki itu kaget dengan kehadiranku.
"Alhamdulillah baik, bah "
"Kayaknya Qodir, ada perlu, ini? " Pertanyaan itu sangat menguntungkan buatku, sebab ruang To The Point telah terbuka otomatis.
"Betul sekali, abah. Aku sengaja datang nemuin abah, karena ada hal penting yang perlu diungkapkan, "
"Baiklah, Dir. Silahkan utarakan kepentinganmu, Abah jadi penasaran ini!" Orang  terdekat Handayani itu menanggapi serius ucapanku.
Kutarik nafas, lalu kuutarakan kalimat, " Jadi begini, Bah. Maksud kedatanganku ini, mau minta doa restu dari Abah. Jika diperkenankan, aku ingin mempersunting Handayani putri semata wayang Abah. "
Gubrak..!! Mendengar letupan nekatku, lansia itu langsung ngap-ngapan, sorot matanya tajam menatapku. Wajahnya pucat, dan bibirnya bergetar. Hampir saja stroknya meledak.
Situasi keruh. Pria tua itu bungkam, masih enggan bergeming. Sepertinya dia tersungkur ke masa silamnya yang sempat di teror oleh ulah nakalku dulu, kini ia traumatik tingkat tinggi, sebab  anak gadisnya dipersunting oleh seorang tikus.
Oke, aku masih menunggu kepastianya sampai besok, lalu aku pergi meninggalkanya dalam keadaan sesak.
Esok harinya, aku kemabali menemui wali dari Handayani. Sekedar memastikan hasil dari setitik peluang yang sempat kuperjuangankan. Sebenarnya ada rasa pesimistis di benakku, tapi apapun hasilnya bagiku sudah tidak penting sebab ini adalah gaya melamar ala koboy. Dalam perjalan, tepatnya di area perikan yang terletak di kampung kami, secara kebetulan aku bertemu dengan Abah. Di pematang kolam itulah aku menagih kepastian dari seseorang yang paling dihormati Handayani itu.
" Wah, kebetulan sekali kita ketemu, niatnya sih mau ke rumah Abah. " Dengan sopan aku menyambut tangannya, dan melontarkan basa-basi yang sebenarnya telah basi.
" Oh, iya, Abah paham. Masalah lamaran semalam, kan? " Dia menjawab sinis. Laki-laki tua itu rupanya telah siuman, kondisi psikologinya telah kembali normal, feeling nya begitu akurat menerka isi kepalaku.
" Betul, Bah. Itulah tujuanku, " Penuh harapan.
"Sebelumnya Abah minta maaf, Dir. Abah enggak setuju. Handayani juga enggak setuju, dengan tegas dia menolak lamaran Qodir." Tidak ada ekspresi menyesal di wajahnya meskipun jawabnya cukup mengguncang dada lawan bicaranya.
Pupus sudah harapanku. Aku terperosok dalam jurang kegagalan, kalah telak dalam sayembara percintaan. Mau tidak mau aku harus legowo menelan pil pahit ini. Tapi anehnya, hatiku sama sekali tidak merasa berkabung, justru yang muncul adalah niat jahil. Mataku mulai melirik-lirik kolam keruh. Sebelum otw ke Kalimatan,  sepertinya kampung ini akan diguncang oleh peristiwa yang sangat menggelikan.
Ekspektasiku mulai ngawur. Seolah serius, namun membingungkan.
"Baiklah, jika keputusan Abah seperti itu, aku terima. Tapi nangkap ikan sambil berenang, Abah setuju enggak?"
" Maksudnya? Abah jadi gagal paham, Dir?"
Laki-laki itu sepertinya menuntut penjelasan dariku. Baiklah, watak kriminal akan memberi penjelasan. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan perbuatan gila. Kudekati dia.  Lalu kuangkat tubuhnya yang tua itu, dan dalam hitungan detik, raga senja itu terbang melayang, lalu terhempas ke tengah-tengah permukaan kolam. Dan..!! Buuuurrrrrrr...bluk..bluk..bluk. Air kolam bergelembung keruh. Tubuh tua berkubang lumpur, nyaris tenggelam bersama kebencian yang membuncah di hatinya.
Sumpah serapah menyerupai belati, tajamnya menikam urat nadi. Bahasa kutukan seolah buih, latah mengotori lidah. Namun kata-kata keramat itu tidak berlaku untuk mahluk  berhati batu sepertiku.
Dalam perkara ini, orang-orang seantero kampung memvonisku sebagai tersangka. Aku dinyatakan bersalah atas insiden yang menimpa Abah. Berdasarkan bukti, motif dan kronologisnya semuanya sudah jelas, akulah pelakunya. Tapi di negeri ini hukum hanyalah slogan, seolah tak berdaya menghakimi orang-orang bermental curut sepertiku, para pecundang yang dekat dengan penguasa. Maafkan aku Handayani, niat suciku padamu harus ternodai oleh kubangan lumpur. Engkau dan Abah sama-sama pernah menjadi korban kebrutalan egoisku. Aku tau, perasaan malu dan benci telah berkarat di hatimu.

*****
Aku menghilang bukan karena pengecut, bukan pula aku melarikan diri, tapi aku telah kembali mengembara di tengah belantara, kembali menumbangkan kayu-kayu raksasa. Karena aku adalah tikus. Tikus terhebat yang mampu mencuri pohon merbau dan kayu ulin. Tikus berduit yang pandai berdiplomasi. Bergaul dengan pejabat, berteman dengan aparat, dan levelitas relasiku tinggi, yakni para bos ilegaloging.
Dunia tak bertepi. Tapi adrenalinku semakin liar, Ingin Kujadikan hamparanya sebagai lapak perjudian. Duniaku adalah fantasi yang disesaki obsesi. Tak mengenal keadilan apalagi cinta sejati. Aku mengklaim diriku sebagai gerilyawan yang tak pernah ciut dalam memperjuangkan kebebasan. Militan. Siap hancur. Tak pernah takut game over. Karena bagiku dunia ini bukanlah kolosal ataupun drama, dunia ini adalah realita yang harus dihadapi dengan pertaruhan.
Namun aku menyadari dunia ini bulat, dia berputar sesuai porosnya, dan aku yakin kehidupan di dalamnya pun pasti akan berputar sesuai kehendak penciptanya.
            
*****
Tidak ada yang tetap di dunia ini, yang ada hanyalah ketetapan. Perlahan aku faham, bahwa aku adalah bagian dari takdir yang juga adalah ketetapan. Dalam putaran waktu yang terus bergulir, palan-pelan aku terhanyut dalam kejemuan. Lama-lama aku merasa muak dengan kemiskinan dan krisis berkepanjangan ini; miskin moral dan krisis akhlak. Aku terlalu bodoh. Hancur karena gempuran takdir di masa lalu. Aku terlalu lemah memahami arti dari sebuah hikmah.
"Aku lelah dengan semua ini!" Demikian jeritan yang selalu terdengar dari sudut jiwaku yang paling jauh. Aku bermental jahiliyah bukanlah tanpa sebab. Waktu itu aku masih terlalu dini untuk menghadapi peristiwa batin. Usiaku labil, masih belum siap berhempas dengan gelombang peristiwa.
November 1999. Catatan lauhulmahfuz tertulis di bumi, melukiskan sepenggal kisah dalam hidupku, lalu mengukir sebuah keniscayaan yang harus kuterima. Benih cintaku pernah tumbuh di rahim Sumiati, tapi sayang buah cintaku tidak sempat berkembang. Hanya merekah sejenak, kemudian layu, lalu mati.
Sejak peristiwa itu, batinku terguncang. Aku seakan tenggelam ke dasar lautan. Dadaku sesak, tubuhku gemetar kedinginan. Menelan sampah dan buih. Alangkah pahit rasanya. Dan akhirnya kehidupanku pun menjadi gagap. Tak kuasa menoleh masa lalu, serta pesimis menatap masa depan. Aku mencoba untuk berlari, tapi kekalutan telah membutakan mata hatiku, sehingga aku terjerumus ke lembah hitam yang menjijikkan.
Aku terjebak di tengah-tengah zona merah, aku seolah berlayar di kawasan misterius segi tiga bermuda. Bahtera hidupku mulai kehilangan radar kendali, sangat sensitif pada terpaan badai. Terombang ambing di tengah samudra yang begitu menakutkan. Akal sehatku terkunci. Sehingga perseteruan antara logika dan kejujuran hati kian memanas. Kutepis bisikan nurani, kulampiaskan segala frustrasi. Hidupku semakin berantakan. Sebab kala itu aku telah menjelma pengikut DAJJAL yang paling setia.
                   
******
Tresna levia. Belum genap 40 hari engkau pergi, ayah bercerai dengan ibumu. Entah, ayah lupa alasanya mengapa kami harus berpisah. Yang jelas inilah yang disebut takdir. Ayah ibumu, dan juga engkau Tresna, harus terpisahkan oleh kehendak tuhan.
Tresna Levia. Terimakasih engkau telah menyempatkan diri hadir dalam kehidupan ayah. Terimakasih engkau telah memberikan sebatang senyuman untuk ayah. Ayah memang tidak sempat menyimpan gambarmu, tapi geliat tangis juga tubuh mungilmusenantiasa bersemayam dalam kerinduan ayah. Tresna Levia. Aroma tubuhmu, namamu, telah menduduki tahta tertinggi  dalam ingatan ayah. Ayah sangat bahagia meski kehadiranmu hanya sekejab. Terimakasih Tresna Levia. Terimakasih anakku sayang...
Aku tengah berjuang menghapus catatan buram yang mengotori lembaran hidup. Aku ingin menyalinnya dengan bait-bait puisi, aku ingin mewarnainya dengan seni. Aku  ingin kembali fitrah seprti Tresna Levia ketika baru dilahirkan, aku ingin belajar merangkak, aku ingin belajar berdiri, dan aku ingin belajar berjalan. Aku ingin meniti jalan yang lurus. Aku ingin berladang, untuk menyemai biji-biji kebaikan. Aku ingin belajar menemukan kembali cahayaku yang hilang, sebab selama ini aku benar-benar lupa cara bersujud. Tresna Levia. Dengan bait-bait puisi ayah mengsketsakan wajahmu, dengan bait-bait puisi ayah menetaskan kerinduan padamu.

(Ciptagara, April 2017)

Tentang Penulis:

Novri Irawan, alumni jurusan matematika Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) Serang, Banten. Ia menekuni Cerpen sejak bergabung di Komsas Simalaba. Saat ini tinggal di Kp. Ciptagara Gang Puisi, Desa Tugu Mulya kec. Kebun Tebu, Lampung Barat. Ia juga salah satu crew Majalah Simalaba. Dan, saat ini dia masih jomblo.
  








No comments