HEADLINE

MENYUSURI PUNGGUNG BORNEO DAN SEGALA YANG TERPENDAM DI LIPATANNYA


Kami menyebutnya Borneo,” Kata masyarakat di pulau itu. “Permata hijau yang eksotik dikelilingi Eusideroxylon zwageri yang tumbuh subur di Khatulistiwa. Dimana matahari selalu bersinar terang sepanjang tahun, memberi nafas kehidupan pada celah akar dan hijau dedaunan juga misteri tersimpan dalam pelukan deretan punggung punggung bukit di ketinggian pegunungan Muller atau Meratus yang selalu dihuni kabut.Silsilah menggeliat merupa nama nama sungai yang menetas di hulu dan tumpah ke hilir sebagai Kapuas, Mahakam juga Barito mengalir deras di lekuk pembuluh darah menjadi ruh yang hidup abadi dalam mitologi nenek moyang kami, suku pengembara yang beratus tahun hidup berdampingan dengan damai dan harmonis bersama alam. Demikian sejumlah orang pernah menuturkan sejarah yang hingga kini terus mereka rawat dalam ingatan dengan baik.

Alam mengajari kita banyak kearifan tentang hutan dan sungai-sungai yang menari dengan liukannya itu. Menciptakan ketulusan selama berabad-abad seperti layaknya ibu bagi makluk yang ada disekelilingnya. Hutan yang lebih banyak memberi tanpa pernah bertanya kapan ia menerima.

Namun Borneo kini tak lagi seperti dulu. Kerusakan ekosistem dalam beberapa dekade terakhir ini menyebabkan banyak perubahan yang signifikan. Suhu bumi semakin panas meninggalkan udara lengket di kulit juga matahari terik membakar dengan sangar. Mulai tak bersahabat. Beberapa tahun terakhir degradasi hutan di wilayah Indonesia menyentuh rekor fantastis sebagai negara dengan laju deforestasi terbesar di dunia dengan tingkat kerusakan mencapai angka 2 juta hektar per tahun. Angka tersebut tidak hanya sekedar mengkhawatirkan tapi sekaligus sangat mengerikan.

Tanpa sadar sebenarnya kita telah begitu banyak melukai hutan. Kita tak lagi mampu memperlakukan hutan dengan arif. Ilegal logging, pembakaran lahan seakan terus berjalan tanpa bisa dihentikan meski di kota segelintir orang berteriak teriak menyuarakan tentang hukum dan peraturan perundang-undangan. Sekelompok orang lainnya juga menggunakan berbagai alasan pembenaran untuk mengalih-fungsikan hutan jadi perkebunan sawit dan beramai ramai menancapkan tiang pemukiman.
Begitu banyak jejak luka yang kini tertinggal. Ya, perlahan tertinggal jadi kenangan masa kecil kami.
(oleh: R Tia / staf redaksi)


No comments