HEADLINE

(Edisi hari ini: Minggu, 06 Agustus 2017) PUISI PUISI NURIMAN N. BAYAN

Dari Redaksi:
Kirim Puisi, Esai, Cerpen, Cersing (Cerita Singkat) untuk kami Siarkan setiap hari ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com beri subjek_LEMBAR KARYA HARIAN MAJALAH SIMALABA






PUISI PUISI NURIMAN N. BAYAN


MEMUNGUT SISA MALAM

Hai, siang yang tak kukenal
aku telah memungut sisa malam
bahkan telah kutidurkan, di sini
di tempat, kata kata mengalamatkan cerita
sebab untuk menunggu
purnama tak jua tumbuh di kaki gerimis.

Ya---

telah kupungut, telah kuhimpun
tanpa bicara
meski sepenggal nadi
tak henti henti, mendentamkan kalimat.

Ternate, 6 Agustus 2017.

PULANGLAH KE DALAM TUBUHKU

Puisi, sejauh mana pun pengembaraanmu
kelak, pulanglah ke dalam tubuhku.

Pulanglah, sampai ke hitungan paling kecil
sebab kita adalah satu
kalimat terkecil
di antara planet yang berserakan.

Ya, pulanglah
sebab terasa, engkau bukan milik sesiapa.

Ternate, 6 Agustus 2017.

KEPADA KEKASIH

Kekasih, bahkan dalam mimpi
aku masih menyebut namamu
sebab untuk berpaling
aku tak sanggup
menjinakan hantu hantu ketidakpastian.

Kekasih, bahkan ketika aku mengembara
ke urat urat kota
hingga ke udara yang bingar
engkaulah, nadi dari perjalananku.

Kekasih, hingga kini
susah sungguh aku berpaling.

Ternate, 6 Agustus 2017.

POTRET SUNYI

Sepi sekali rumahmu
saat kuintip--

hanya potret sunyi bergantung
di antara dinding
tapi kurasa-
jejak kemarin belum benar benar kering.

Apakah waktu tak pernah rekat dalam nadimu?
ataukah nyamuk nyamuk kecil terlampau memikat malam
di saat sepasang kepala menciptakan sungai
menenggelamkan perahu-perahu fajar itu.

Hm---

setidaknya aku masih bisa mengintip
meski jejak ini, menuju sepi.

Ternate, 14 Juni 2017.

TARIAN SUNGAI MALAR

Sekarang, aku ini si aliran sungai malar
mengalir tak mengenal musim
dan esok menjadi ombak
penggiring riak riak kasih sayang
ke pantai pantai kejujuran
sehingga ketika aku pulang
orang orang memanggilku rindu.

Ternate, 20 Juli 2016.

RIWAYAT HUJAN

Pernah, kau bertanya kepada puisi
mengapa sering kali hujan tumpah tanpa awan
mengguyur sekujur bumi
mendatangkan kemungkinan kemungkinan
sementara orang orang masih saling mengadu pandangan.

Apa mungkin gerimis yang terkadang membludak
dari mata surga seorang hamba, sama halnya dengan hujan?
sedangkan sejauh sungai menjaring perhatian
segala yang tercipta, tak lepas dari tangan sebab musabab.

Ternate, 27 Mei 2017.

DALAM REMANG

Dalam remang, sepi ruang ini
sunyi yang kurasa cukup penat
tapi lama lama terasa lezat
ketika aku mulai terbiasa
tak mendengar riak dan petir sesiapa.

Ternate, 01 Juni 2017.

ASSALAMU’ALAIKUM PEREMPUANKU

Terasa, aku ini anakmu
uratmu, uratku
meski gelisah dan air mata
tapi mana mungkin, aku lukai.

Kini, benar benar terasa--

kita mengakar dari satu silsilah
maka sudahi saja, pertikaian ini.

Ternate, 2017.

PEREMPUAN DARI LIPATAN MALAM

Setelah kubuka lipatan demi lipatan malam
seorang perempuan memasuki mataku
senyumnya, tak sekedar purnama
tapi aku tak ingin berlebihan memujanya
sebab kami sama dalam bahasa Tuhan.

Ya, ia benar-benar cantik
tapi kemudian aku berpikir
adakah yang lebih cantik dari ini?
sudah tentu, engkau paham, kawanku
sebab tatapan ini, sungguh relatif.

Ternate, 2017.

ANGIN ANGIN KEMARAU

Sampai genap musim ini
angin angin kemarau masih juga menghuni kepalaku
entah sudah berapa kali waktu mengganti pakaian
dan berjalan di malam malam lekang.

Hai, sampai jua--

hujan tumpah tak memberi isyarat
sementara, sihirmu tak henti-henti melibas otakku.

Ternate, 2017.



LUMBA LUMBA

Timbul, tenggelam
timbul, tenggelam makhluk ini
kehadirannya musim-musiman
kegerangannya seperti cuaca.

Bila aku percaya, ia berjaya
ah, sudahlah
tak mungkin mata berkunang-kunang ini
bersahabat lagi dengan lumba-lumba.

Ternate, Agustus 2017.





Tentang Penulis:
Nuriman N. Bayan atau lebih dikenal dengan Abi N. Bayan, lahir di Desa Supu Kecamatan Loloda Utara Kab. Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara pada 14 September 1990. Anak dari Hi. Nasir Do Bayan, dan Rasiba Nabiu. Anak keenam dari sembilan bersaudara. Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP-Ukhair. Saat ini membina Komunitas Parlamen Jalanan Maluku Utara (Komunitas Teater) dan tergabung di Komsas Simalaba. Karyanya dipublikasikan di media online (www.wartalambar.com dan litera) dan tergabung dalam antologi bersama: Kita Halmahera, Kitab Penyair Maluku Uatara (Garasi Genta, 2017), Embun-Embun Puisi (Perahu Litera, 2017), Majalah Simalaba (2017), dan Majalah Mutiara Banteng (2017). Selain menulis puisi, ia juga menulis berjumlah naskah teater (Potret Pendidikan Bermata Uang, Lihat Tanda Tanya Itu, Biarkan Kami Bicara, Indonesiaku Kau Hilang Bentuk Remuk, Membuka Nestapa Yang Hilang), telah dipentaskan pada setiap kegiatan (kampus maupun di luar kampus). Kini tinggal di Ternate Utara.
Facebook : Abi N. Bayan
Nomor TG: 081343630934/082271230219.

No comments