HEADLINE

(Edisi hari ini_Senin, 07 Agustus 2017)_ PUISI PUISI NURIMAN N BAYAN

Dari Redaksi:

Kirim Puisi, Esai, Cerpen, Cersing (Cerita Singkat) untuk kami Siarkan setiap hari ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com beri subjek_LEMBAR KARYA HARIAN MAJALAH SIMALABA




PUISI PUISI NURIMAN N. BAYAN


INI HUJAN KESEKIAN

Ini hujan kesekian aku menulis
semenjak burung burung 
bertamasya ke bumi seberang
menjinakan getirnya kehidupan.

Ini negeri memang punya kita?
sejak darah 45 menjadi bendera
dan kata kata mengantar kita ke pintu gerbang
tapi di sini aku bertanya--  

sejak kapan gedung, tanah, dan laut berpaling?
ketika burung-burung mencatat nasib di luar tanah asal
sedang rumah tuan, dipenuhi mobil dan ATM.

Sesungguhnya, Tuhan 
tak henti-hentinya mengajari kita tentang isyarat
bahkan lima butir telah menetaskan bahasa kemakmuran
tapi mengapa, ada apa?
atau memang sudah menjadi hakiki
membiarkan burung-burung keluar dari sangkarnya
sementara burung-burung asing 
begitu gembira menikmati sarang peninggalan.

Ternate, 24 Juli 2017.



SEBELUM PAGI 

Sebelum pagi mengalirkanku ke selokan senja
aku belajar meraba dada
mengukur kadar tawar dan asin
agar dapat kupahami
jumlah ombak yang beradu setelah ini.

Sebelum kutulis lebih banyak lagi
catatan harian untuk hari depan
kutulis dahulu arah jalan pulang
di antara kopi dan malam malam patah
agar ketika segelas teh manis aku teguk
gerutu tak begitu ramai membilas otakku.

Ternate, 2017.



SELAIN KEMBALI

Lama nian, pintu-Mu tak kuketuk
bahkan dalam mimpi
berulang kali, aku lupai.

Namun aku debu
mana mungkin aku berpaling
selain kembali
membawa
tubuh dan jiwa pinjaman ini.

Ternate, 04 Agustus 2017.



KUNANG KUNANG TANPA SAYAP II

Gembira benar, kunang-kunang ini
meski tak ada nyala
nyala, dan nyala.

Aku menemukannya di pintu kota
ketika malam lekang 
dan
mimpi mimpi begitu ramai bangkit dari kepala manusia.

Ternate, Agustus 2017.



KEKASIH DI JALAN INI BERLARI

Kekasih, kini, kita harus berlari
sebelum matahari jatuh
dan malam malam tercipta.

Kekasih, di jalan ini, kita berlari
menyusuri musim sunyi
memecahkan batu-batu
di antara lembah dan bukit-bukit.

Kekasih, di jalan ini, kita berlari
mengikuti jejak-jejak sungai 
mengembara di laut-laut yang sungguh.

Ternate, 03 Agustus 2017.



BERLAYAR TANPA PERAHU

Pernakah kau berlayar tanpa perahu?
menjelajahi pulau pulau
menyaksikan di sepanjang pantai
seribu manusia berjalan tak kaki 
sementara di pegunungan--   

singa, macan dan harimau berkumpul
setiap musim turun ke bibir pantai
pernah, atau tidak
sudah tentu, tubuhmu nyeri
menyaksikan episode perjalanan ini.

Ternate, 2017.



SEJARAH MERAH

Di lembar sejarah
tertulis tinta emas
kita bangsa
yang berdiri dari cucuran darah.

Merdeka!
buah perjuangan.

Batang-batang bambu
mermata keyakinan
meruncing semangat, menancapkan hari-hari.

Di lembar sejarah, kita mencuci bendera
agar hanyirnya mengalir ke sungai-sungai
hingga membasuh ubun-ubun, tunas-tunas bangsa.

Ternate, 2 Januari 2017.



KEPADA PUISI YANG MENGALIR

Puisimu mengalir deras 
dari sungai sungai kesunyian
mengepungku
aku coba beringsut
bahkan berkali-kali berlari
tapi aku terpelanting di lautnya
hingga bergaram.

Kini, apapun kata matahari
aku tidak peduli
sebab aku-- 

bukan hujan dalam lamunan
atau sungai tak berisyarat.

Aku kini, ombak
takkan berhenti melompat ke teluk
melompat ke peluk
hingga langit memanggil
dalam bahasa paling rahasia.

Ternate, 6 Agutus 2017.



Tentang Penulis:


Nuriman N. Bayan atau lebih dikenal dengan Abi N. Bayan, lahir di Desa Supu Kecamatan Loloda Utara Kab. Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara pada 14 September 1990. Anak dari Hi. Nasir Do Bayan, dan Rasiba Nabiu. Anak keenam dari sembilan bersaudara. Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP-Ukhair. Saat ini membina Komunitas Parlamen Jalanan Maluku Utara (Komunitas Teater) dan tergabung di Komsas Simalaba. Karyanya dipublikasikan di media online (www.wartalambar.com dan litera) dan tergabung dalam antologi bersama: Kita Halmahera, Kitab Penyair Maluku Uatara (Garasi Genta, 2017), Embun-Embun Puisi (Perahu Litera, 2017), Majalah Simalaba (2017), dan Majalah Mutiara Banteng (2017). Selain menulis puisi, ia juga menulis berjumlah naskah teater (Potret Pendidikan Bermata Uang, Lihat Tanda Tanya Itu, Biarkan Kami Bicara, Indonesiaku Kau Hilang Bentuk Remuk, Membuka Nestapa Yang Hilang), telah dipentaskan pada setiap kegiatan (kampus maupun di luar kampus). Kini tinggal di Ternate Utara.
Facebook : Abi N. Bayan
Nomor TG: 081343630934/082271230219.


No comments