HEADLINE

(Edisi hari ini_Senin, 07 Agustus 2017)_ PUISI PUISI ISMI SOFIA ANANDA

Dari Redaksi:
Kirim Puisi, Esai, Cerpen, Cersing (Cerita Singkat) untuk kami Siarkan setiap hari ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com beri subjek_LEMBAR KARYA HARIAN MAJALAH SIMALABA






PUISI PUISI ISMI SOFIA ANANDA



KEDAMAIAN JULI

Cemara pun rindang, saat Juli kita berteduh
mengejewantahlah asa yang kukuh.

Jakarta, 2017.



MAWAR DAN MUSYAFIR

Aku ini rangkaian duri
ketika rantingku patah, kelopakku layu berhamburan
hilangkan indah warna mahkota
helai daunku menguning berguguran 
hingga datang seseorang yang menopang rantingku
aku berdiri sendiri, menatap mentari penghangat diri.

Ya Allah--

izinkanlah daunku bersemi lagi
dibelaian dia pemilik kasih suci
kuingin memberi beribu mawar 
untuk ditanaminya di taman hati
dengan cinta kasih Ilahi.

Jakarta, 2017.




DALAM KEMBARA HIDUPKU

Dalam letihnya kembaraankumemapak dunia
melakoni sandiwara hidup
menitip airmata di derai tawa
mengunci luka di gurau canda
menyimoan derita di rona ceria

Aku yang telah lelah melawan sakit 
yang merongrong raga dan derita hidup
tapi aku coba bangkit dari ketepurukan
dari ketidakmampuan.

Telah kupintal gulungan awan menjadi benang
dan jurajut menjadi selembar harapan
kubingkai indah dunia, semampuku.

Ya Allah--

andai Kau hentikan napasku saat ini
aku tak menyesali
karena telah berulangkali kucoba mencari makna.

Ya Allah--

andai Kau beru napasku lebih panjang
berikanlah untukku sebuah bintang yang terang.

Jakarta, 2017.



PEREMPUAN DI BALIK JERUJI

Untuk kesekian kali
air tumpah dari matanya
derai-derai menjilat pipinya
tatkala ia dikunjungi buah hati.

Hari ini, kembali ia membalik kata
memutar cerita 
“Mengapa ibu tak pernah ada
temani aku meniti masa?”

“Peluk aku ibu, biar aku bermanja”
tapi air terus tumpah dari matanya
hingga menciptakan telaga.

Sesal di hati tak jua pergi
sementara raga terbelenggu di balik jeruji
sehingga di keheningan malam
ia menemui Tuhan
agar mimpinya tak dicuri pagi.

Jakarta, 12 Juni 2017.



AKULAH PEREMPUANMU

Kulukis lagi kenangan
sebab angan memutar sejarah
dan kesunyian bagai altar
aku persembahkan doa-doa.

Senyum itu,  adalah sisa isakan
yang pergi meninggalkan darah-darah tak berwarna
namun memerah dalam jejak-jejak kesepian.

Semua berlalu, sebelum senja menepi
bagai matahari redup di balik punggungmu
sesekali tertutup derai rambutmu
yang tak terhitung itu terakhir kali
ketika engkau menciumku.

Akulah perempuanmu
pernah kau cumbu dalam desa kesunyian
dari setiap kedip mimpi-mimpi
pernah tersempat indah di kali rembulan.

Jakarta,  05 Juni 2017.



Tentang Penulis:
Ismi Sofia Ananda, lahir di Jakarta 22 Desember 1988. Pekerjaan sebagai Wirausaha, dan pendiri EVENT PUISI MINGGUAN. Mempublikasikan puisi-puisinya media online www.wartalambar.com. Dan tergabung dalam Majalah Simalaba (10 Nominator Terbaik, 2017).
Alamat : Depok 2 Timur
Email: ismisofiaananda88
Facebook : Ismi Sofia Ananda

No comments