HEADLINE

(Edisi hari Rabu, 09 Agustus 2017)_ PUISI PUISI NURIMAN N BAYAN

Dari Redaksi:
Kirim Puisi, Esai, Cerpen, Cersing (Cerita Singkat) untuk kami Siarkan setiap hari ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com beri subjek_LEMBAR KARYA HARIAN MAJALAH SIMALABA





PUISI PUISI NURIMAN N. BAYAN


AKU MENGEJA TAK DAPAT JALAN

Aroma yang menyelinap malam ini
menembus ke laut dada paling dalam
ada sebab tanpa sebab
tiba tiba mengotak-atik wilayah bukit.

Ini seperti pertikaian sunyi dan sepi
aku mengeja tak dapat jalan
selain sebuah isyarat
berderet-deret di sekujur dinding
dan balon balon menatapku sedari tadi.

Di luar, hujan tumpah
tak memberi alasan
sedang alamat belum aku temukan-

maka tak henti-henti
aku meluruskan layar perahu pikiran
sebelum gelisah menghancurkan malamku
karena memang kapal prasangka
sering kali melukai nurani
ketika ketinggian ombak aku salah memperhitungkan.

Ternate, 08 Agustus 2017.


TIADA PUISI MALAM INI
(teruntuk Tia)

Tiada puisi malam ini
selain seberkas catatan kecil
kubenamkan ke dalam puisi
untukmu
di batas kota yang lelah-

maaf, ketika engkau dihimpit 
sikap kebinatangan manusia
aku tak bisa berbuat banyak
selain mengetuk pintu langit
agar engkau baik baik di sana.

Sungguh, tiada puisi malam ini
selain sunyi, di antara sepi
dan asap rokok mengepung dinding kamar
sebab satu, belum aku genapi
untuk membawamu, mengendarai motor kehidupan
tapi kutahu, engkau kukuh
meski hujan dari matamu belum tunai
ketika ombak merindukan teluk
dan bujang merindukan peluk.

Ternate, 8 Agustus 2017.


MENCINTAIMU DALAM DIAM

Dalam sunyi
aku memilih mencintaimu
dari jarak paling jauh
agar kau lebih dekat dalam rinduku.

Dalam sepi
aku memilih mencintaimu
dari tabah yang tak selesai
agar kau lebih rekat dalam sabarku.

Ternate, 20 Juli 2017.


JIKA SEJARAH ADALAH ULAR PITON

Jika sejarah adalah ular piton, pelingkar tubuh waktu
apakah puisi adalah kobra? melilit jiwa hingga mati
kemudian hidup, lalu mati
atau kelak, setelah mati dan bangkit
baru kita paham, bahwa kita pernah mati
berulang kali mati
semenjak akar-akar warisan dicabut dari tanah asal.

Apalah arti pembangunan?
jika gedung-gedung tinggi menganga
tapi gelisah orang orang kecil, bagai film berepisode
sementara angin-angin sibuk mengampanyekan mimpinya
padahal basi, ya basi--

sebab terlalu sering mimpi basah dalam air mata .

Barangkali kini--

kita mesti kembali ke habitat
mengemasi mimpi 
dan menutup pintu harap kepada manusia.

Ternate, 25 Juli 2017.


ANGIN ANGIN PUISI

Vi, rabalah dadaku, lewat pusara angin
biar tanganku yang melangit
menyeka hujan dari matamu
sekedar membunuh gelisah 
dari malam malam kesendirian kita
di antara dua sudut yang belum kita lipat.

Sejatinya Vi, barangkali Tuhan 
sudah menjodohkan jiwa kita
sehingga terasa
engkau bagai telah lama menetap
menguratnadi di pembulu darah
bermukim di sepanjang ingatan
dan barangkali, takkan terhapus
sejak sepasang merah putih kita kibarkan
sambil melihat wajah langit-

di tempat, takdir dan doa-doa berkelahi
sebagai pengantar kewujudan nasib
meski memang benar, benar benar
belum mampu kita tebak arah kehidupan
tapi toh Vi
setidaknya kekhawatiran tidak menjadi benalu
karena terkadang, kehendak dan keteguhan kita 
menjadi kehendak langit.

Ternate, 08 Agustus 2017.



YANG BARU AKU KENAL

Kau, laksanan imajinasi yang baru saja menetas
menjelma puisi, lalu pergi 
mengembara ke taman taman yang ramai
meski sapaan baru saja dimulai
tapi kita, bagai sepasang burung
mengembara ke lembah dan bukit-bukit.

Sementara, berjumlah mata di sepanjang jalan
menghitung kibasan sayap kita 
hingga satu demi satu terpengarah
ketika ranting dan daun-daun persinggahan kita
tertulis nama-nama penulis tepi.

Kelak, jadilah puisi
walau untuk menjelma sajak sajak 
penampung air mata dan gelisah
meski banyak bacaan mesti engkau telan
banyak fenomena mesti engkau jaring 
bahkan perenungan sunyi mesti jadi karib
tapi tak perlu berkecil hati
sebab kita sama, sajak sajak seumur embun
yang baru saja tumbuh di daun-daun pagi
tapi kebersamaan kita, adalah ikatan
takkan pupus-

karena memang, kita punya mimpi.

Ternate, 08 Agustus 2017.


SEJAK KAU AJARI AKU MENGENAL RINDU II

Sejak kau ajari aku mengenal rindu
jiwaku hilang dalam tubuh
pergi, mencari temannya
sementara tubuhku 
menjelma patung di jalan kota
entah kenapa
mulut, tak henti-henti mengomel.

Namun diam diam, sangat diam diam
ia bangkit menjadi manusia
ketika jiwanya ditalak
dengan bahasa paling egois.

Kini, ia telah menjadi puisi
karena untuk menjadi sejarah
takdir dan nasib tak dapat menyimpan luka.

Ternate, 09 Agustus 2017.


Tentang Penulis:
Nuriman N. Bayan atau lebih dikenal dengan Abi N. Bayan, lahir di Desa Supu Kecamatan Loloda Utara Kab. Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara pada 14 September 1990. Anak dari Hi. Nasir Do Bayan, dan Rasiba Nabiu. Anak keenam dari sembilan bersaudara. Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP-Ukhair. Saat ini membina Komunitas Parlamen Jalanan Maluku Utara (Komunitas Teater) dan tergabung di Komsas Simalaba. Karyanya dipublikasikan di media online (www.wartalambar.com dan litera) dan tergabung dalam antologi bersama: Kita Halmahera, Kitab Penyair Maluku Uatara (Garasi Genta, 2017), Embun-Embun Puisi (Perahu Litera, 2017), Majalah Simalaba (2017), dan Majalah Mutiara Banteng (2017). Selain menulis puisi, ia juga menulis berjumlah naskah teater (Potret Pendidikan Bermata Uang, Lihat Tanda Tanya Itu, Biarkan Kami Bicara, Indonesiaku Kau Hilang Bentuk Remuk, Membuka Nestapa Yang Hilang), telah dipentaskan pada setiap kegiatan (kampus maupun di luar kampus). Kini tinggal di Ternate Utara.
Facebook : Abi N. Bayan
Nomor TG: 081343630934/082271230219.

No comments