HEADLINE

Edisi Jum'at, 11 Agustus 2017_ PUISI PUISI NURIMAN N BAYAN (Ternate-Maluku Utara)

Dari Redaksi:
Kirim Puisi, Esai, Cerpen, Cersing (Cerita Singkat) untuk kami Siarkan setiap hari ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com beri subjek_LEMBAR KARYA HARIAN MAJALAH SIMALABA





PUISI PUISI NURIMAN N BAYAN


SEHABIS HUJAN

Kupandang, kupandang malam yang naik pelan pelan
kurasa ada sepenggal jarum telah menikam kepalaku
maka kuseduh segelas teh manis
ketika satu demi satu menetes ke rongga dada
kunyalakan sebatang rokok
memanggang diriku yang sedari tadi dijilat hujan.

Aku ingin berhijrah dari pikiran siang tadi
melepas berjumlah kenangan tentang kampus tua
tentang seekor nyamuk yang suka menghisap darah
dari ratusan hingga jutaan
tapi cerita adikku terlalu hitam untuk aku putihkan
apa lagi jiwaku terlampau lama menampung bahasa keluh
bahkan ingatan ini masih sangat mentah membuang muka.

Sejujurnya aku muak, dengan nyamuk satu ini
karena siulan-siulan yang tumpah di mimbar-mimbar
begitu pun mata kuliah sastra yang ia asuh
tak bisa kami jadikan sumur untuk menimba air kebaikan
sementara dewa-dewa kampus terlihat abai atas tingkahnya
jika begini, aku tak ingin tidur lebih lama lagi
selain kembali menyalakan kata kata
di antara dinding kampus, sebagai penanda
bahwa kebenaran dan kejujuran belum benar-benar mati
meski untuk menaklukkan kecongkakan ini
membutuhkan tangan dan taring berlipat-lipat.

Ternate, 10 Agustus 2017.


DI BATAS PENANTIAN

Aku masih di sini kawan
menebak-nebak arah angin
pada malam di antara kenangan
meninggalkan sepenggal jejak
yang mungkin esok, habis dimakan bola api
sementara segelas teh manis
gelasnya telah pecah
sejak wacana dan asap rokok mulai asing.

Aku masih di sini kawan
menatap wajah malam 
pelan pelan menyesap batang-batang udara
menghitung-hitung hari pergi
membawa sampan pikiranku ke negeri yang jauh.

Aku masih di sini kawan 
sebab ada mimpi, kita tanam di kota ini
tapi untuk menanti cerita dari jejak tualanganmu
barangkali dua daun di kepala belum benar setia meliput cerita
karena dua darah dari tubuhku sudah keluar dari tanah asal
pergi ke kota kota mencari bekal hari depan
dan aku mesti mengirimkan tiket di tiap pendakian
namun jika waktu masih menyediakan 
tempat duduk dan meja-meja diskusi
aku tak pandai menolak cerita, apa lagi keberatan 
membuka catatan lampau
menyalakan api di kamar-kamar kecil
kita bercerita tentang mimpi-mimpi kecil yang belum tunai.

Ternate, 09 Agutus 2017.


DI SANA KITA TUJU

Di sini kita berjalan 
di atas kaki jalan 
hujan menghantam tubuh-tubuh kecil
dingin tertawa panas meleleh.

Di sini kita bergegas 
di bawah mendung awan hitam
hujan tumpah
kita berteduh di bawah pohon rimbun
berselimut dedauan
sementara senyummu mulai keriput
aku menghitung dari gigil tubuhmu.

Di sini kita menuju jalan panjang itu
dingin mencambuk tubuh kita
maka kutulis jalan kita tuju
sementara debu-debu lari dihantam hujan 
air tergenang 
bagai nyanyian 
yang berpacu dalam melodi
di mana senja dan fajar takut menyatu.

Morotai, 5 Maret 2015.


KEPADA GADIS PANTAI

Entah kapan, sepasang hari di pantai itu
dapat beranjak dari bangku ingatan ini
jika malam tersenyum selalu saja
mengirimkan geletar geletar sunyi
bahkan diam diam mencuri waktuku.

Sesungguhnya, sampai di perut musim ini
tangisan anak-anak ombak itu, masih juga berdenyar
meliput kembali, kalimat yang pernah kita sepakati
di atas butiran pasir
di bawah aroma angin, dari selatan pantai pesisir.

Ya, waktu itu-

kita berada di pantai merdeka
memandang ke laut lepas, dengan rasa paling rahasia.

Ternate, 18 Mei 2017.


RIWAYAT HUJAN

Bila engkau bertanya tentang hujan
bertanyalah pada ia, dari waktu ke waktu
hingga siang keluar masuk dari perut malam
ia mengukur deras air mata, sebab
berkali-kali ia ditikam pisau pengkhianatan.

Bertanyalah, bertanyalah pada ia
ketika langit berawan
ia duduk di bangku bangku sunyi
membelah-belah kepalanya
menyambung-nyambung kaki senyum 
dan mulutnya dipenuhi berita berita dari langit.

Ternate, 10 Juni 2017.


DI TIANG AIR MATAKU

Dari ladang ini
aku belajar mencintai apapun 
cengkeh, pala, kelapa digusur
kawanku
semua kekayaan kita dirampas
api dan minyak membuat tanahmu lebih mendidih daripada tangisku
akankah kutemukan tangismu di pucuk tanah yang kering
ketika malam berombak dan gelap sudah larut
semua kekayaan kita dirampas.

Kawanku
cengke, pala, kelapa digusur 
Maloku Kie Raha terbakar
tapi ada yang lebih terbakar
tanah tergusur sepi dan langit bertanya 
siapakah yang memutuskan ia tak boleh berwarna.

Kawanku
jangan cari tangismu di catatan yang kau tinggalkan di ruang belajarmu
jangan tangisi tangismu di atas kulit tanah kering dan dari untaian tuanmu
tangismu jadi selimut di tiang air mataku
tanpa kau tahu kuselimutkan di pengeras suara 
sebagai bentuk perlawanan atas kekalahan sekaligus kemenangan.

Kau cari sisa-sisa kekayaanmu sepanjang jalan menuju kampus
kau menduga lahanmu tak lagi digusur
kawanku
tak ada lagi yang perlu kau cari
tak ada lagi tanah yang harus kau tanamkan buah untuk anakmu
karena bukit doamu telah dicabik-cabik bersama lahanmu.

Ternate, 26 Desember 2013.



Tentang Penulis:
Nuriman N. Bayan atau lebih dikenal dengan Abi N. Bayan, lahir di Desa Supu Kecamatan Loloda Utara Kab. Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara pada 14 September 1990. Anak dari Hi. Nasir Do Bayan, dan Rasiba Nabiu. Anak keenam dari sembilan bersaudara. Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP-Ukhair. Saat ini membina Komunitas Parlamen Jalanan Maluku Utara (Komunitas Teater) dan tergabung di Komsas Simalaba. Karyanya dipublikasikan di media online (www.wartalambar.com dan litera) dan tergabung dalam antologi bersama: Kita Halmahera, Kitab Penyair Maluku Uatara (Garasi Genta, 2017), Embun-Embun Puisi (Perahu Litera, 2017), Majalah Simalaba (2017), dan Majalah Mutiara Banteng (2017). Selain menulis puisi, ia juga menulis berjumlah naskah teater (Potret Pendidikan Bermata Uang, Lihat Tanda Tanya Itu, Biarkan Kami Bicara, Indonesiaku Kau Hilang Bentuk Remuk, Membuka Nestapa Yang Hilang), telah dipentaskan pada setiap kegiatan (kampus maupun di luar kampus). Kini tinggal di Ternate Utara.
Facebook : Abi N. Bayan
Nomor TG: 081343630934/082271230219.

No comments