HEADLINE

Edisi Jumat, 25 Agustus 2017_ PUISI PUISI NURIMAN N. BAYAN (Ternate)

Redaksi menerima tulisan
Puisi minimal 5 judul, Esai, Cerpen, Cersing (Cerita Singkat) untuk kami Siarkan setiap hari. Semua naskah dalam satu file MS Word dikirim ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com beri subjek_LEMBAR KARYA HARIAN MAJALAH SIMALABA





PUISI PUISI NURIMAN N. BAYAN


BURUNG BURUNG YANG LELAH

Lihat burung keadilan itu
lelah melawan angin
sementara burung burung janji 
tertawa riang di ranting ranting pohon istana
tak tahu malu.

Lihat juga burung kejujuran itu
lelah mengeja udara
sementara burung kebohongan terus berkicau
seenaknya saja.

Ternate, 2017.



SEPENGGAL KEMUNGKINAN

Kita tak pernah tahu
apa yang dikampanyekan tuan dalam mimpinya
barangkali: dendam, dusta
atau sepotong cinta dan selangit doa.

Kita baru tahu, ketika kata kata membasi
matahari menyala di antara kepala
dan orang orang menangisi
keperawanannya yang hilang.

Ternate, 09 Juni 2017.



TAK SEMPAT SALING MENGUCAP 

Seakan-akan hidup membuat kita tertawa 
kemudian memukul dengan kesedihan
lalu-- tiba tiba sesal bertalu 
gerimis bartamu
bahkan diam diam doa doa pun bersyahdu.

Mungkin pernah engkau merasakan peristiwa yang mengacak emosi?
membuatmu mengunyah-ngunyah bara api
memotong-motong kaki hujan
sebab renjana masih lekat di tubuhmu
tapi terus-terus engkau memilih tersenyum
lalu-- membiarkan masa depan menggenggam tanganmu
kemudian menikahimu.

Sudah tentu, lagu lagu lampau
engkau biarkan gugur dalam doa
dan mungkin itulah kita
tak sempat saling mengucapkan bahasa selamat tinggal.

Ternate, 17 Juni 2017.




HUJAN DI SUATU PAGI

Terima kasih hujan
sudah bertandang semalaman
hingga pagi menggigil kedinginan.

Aku harap, sihir yang engkau kirimkan
ke punggung bukit ini
tidak membuat aku terpelanting jauh
atau mabuk satu hari
sebab bibirku terlalu sukar
mengucapkan bahasa bahasa curiga.

Ternate, 17 Juni 017.



TERLALU SERING KEKASIH

Terlalu sering engkau mengabaikan bahasa bahasa kecilku 
di antara getirnya jalanan
dan suara dapur tua yang menandakan ibuku menanak air mata
juga jeritan perahu semang meneriaki nelayanku pulang membawa gelisah
riak sungai dan gemuruh tala
penggiring luka petaniku menangisi keperawanan tanah yang hilang.

Sungguh, sungguh pedih kekasih
sebab terlalu sering-
engkau datang dari kota pura-pura
dengan kapal hura-hura
menuju ke samudra huru-hara.

Terlalu sering, engkau mentalak jumpa kita
dengan bahasa bahasa tak kunjung aku mengerti
padahal-- berulang-ulang kusambut namamu
dengan tarian kalimat Tuhan.

Itukah engkau?
jika terlalu mengudara sering lupa bahasa tubuh
maka biarlah aku bicara
dengan bahasa bahasa yang tak sempat puisi
sebab engkau masih ingin memuja-muja
kalimat awan yang terlalu sering menyesakkan dada.

Ternate, 18 Juni 2017.

Catatan : 
Tala : gunung/puncak (bahasa Galela).



SEBAB MATAHARIMU

Kekasih, andai kelak aku menjadi surat kabar 
tulislah gelisahmu di dadaku dengan damai
biar kukabarkan kepada dunia
dengan bahasa yang sejujur-jujurnya.

Kekasih, sesungguhnya 
gelisahmu adalah gelisahku
meski kita tak pernah menjadi karib
sebab mahatarimu adalah matahariku.

Ternate, 2017.



PEREMPUAN DI SUATU MALAM

Lelakiku adalah merapi
ketika ia meletus
tubuhku hancur berkeping-keping
terpelanting ke banyak tempat
ke banyak sungai
menjadi batu
menjadi pasir.

Sehabis hujan
kusarankan padamu
damaikan manusiamu
sebab-

untuk bertahan
doa dan nasib
tak sanggup lagi untuk bertarung.

Ternate, 22 Agusutus 2017.




AKU DI ANTARA KAMAR YANG MURUNG

Bila engkau penat membaca sajakku
tak perlu risau menghitung pekat
aku di antara kaki bukit
di punggung punggung hujan
di meja meja puisi
di mata para pelajar
di jendela jendela kamarmu
yang berhari-hari engkau tutup.

Aku di antara bangku-bangku yang pernah engkau singgahi
seperti para bujang menunggu matahari
ketika awan awan berkelahi
dan petir petir--
menampar telinga bukit-bukit.

Aku masih ada
di antara kamar kamar yang murung
kunyanyikan lagu lagu sunyi
berteman puisi, kipas angin
batang batang udara
dan sebuah layar yang sejak lama aku cumbui.

Ternate, 18 Juni 2017.



SEBAGAIMANA OMBAK

Akulah pengagum rahasiamu
tiada senja
kukirimkan puisi puisi rindu
meski dalam setiap gubahan hanyalah doa 
tapi segala telah kuringkas
ketika matahari tak sempat lagi merekam jejak kita.

Kala purnama di langit mulai ranum
tunggu aku di bangku senja itu
tempat kita mengabarkan aroma tubuh
sebab-- kenangan di tumit ini
akan beranjak menujumu
sebagaimana ombak beranjak dari laut Desember.

Ternate, 14 Juni 2017.



Tentang Penulis:

Abi N. Bayan atau Nuriman N. Bayan, lahir desa Supu Kec. Loloda Utara Kab. Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara 14 September 1990. Anak dari Hi. Naser Dano Bayan dan Rasiba Nabiu, anak keenam dari sembilan bersaudara. Abi adalah salah satu Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Khairun Ternate (September  2016). Ia menyukai (menulis) puisi sejak menjadi mahasiswa dan hampir setiap kegiatan literasi ia diundang untuk membaca/mendeklamasikan puisi dan beberapa kali kegiatan besar  kedaerahan (Legu Gam dan Festival Teluk Jailolo) ia bersama teman-teman komunitasnya (Komunitas Parlamen Jalanan Maluku Utara) diundang untuk mementaskan teaterikal. 

Saat ini ia dipercayakan sebagai Pembina Komunitas Parlamen Jalanan Maluku Utara (Komunitas Teater) dan pada Desember 2016 ia bergabung di (sebagai admin) Komsas Simalaba II (Komunitas Sastra Silaturahmi Masyarakat Lampung Barat II), Abi juga tergabung di Komunitas Kita Halmahera dan salah satu anggota Dapur Sastra Jakarta. Karya-karyanya dipublikasikan di media online (www.wartalambar.com, litera.id.com, dan www. Simalaba.com) juga tergabung dalam antologi bersama: Kita Halmahera, Kitab Penyair Maluku Uatara (Garasi Genta, 2017), Embun-Embun Puisi (Perahu Litera, 2017). Dan pernah terbit di Majalah Simalaba (2017), dan Majalah Mutiara Banteng (2017). Selain menulis puisi, ia juga menulis berjumlah naskah teater, di antaranya: (Potret Pendidikan Bermata Uang, Lihat Tanda Tanya Itu, Biarkan Kami Bicara, Indonesiaku Kau Hilang Bentuk Remuk, Membuka Nestapa Yang Hilang), telah dipentaskan pada setiap kegiatan (kampus maupun luar kampus). Kini tinggal di Ternate Utara.
“Menulis adalah merekam jejak waktu, dan puisi adalah salah satu ruh dari waktu.”
Facebook : Abi N. Bayan
Nomor TG: 081343630934/082271230219.

No comments