HEADLINE

Edisi Selasa, 22 Agustus 2017_ PUISI PUISI NURIMAN N. BAYAN (Ternate)

Dari Redaksi:
Kirim Puisi, Esai, Cerpen, Cersing (Cerita Singkat) untuk kami Siarkan setiap hari ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com beri subjek_LEMBAR KARYA HARIAN MAJALAH SIMALABA




PUISI PUISI NURIMAN N. BAYAN


KALAU HUJAN TAK NYARIS TURUN

Kalau saja langit tak nyaris mendung
bagaimana cara angin menumpahkan hujan?
selain kita menebak-nebak kemungkinan di antara terik
menghidupkan bayang-bayang di sepanjang musim
menunggu Tuhan, mengirimkan kehendak.

Kalau saja hujan tak nyaris turun
bagaimana cara bumi menumbuhkan pohon-pohon?
selain kita merawat harapan demi harapan
sambil berharap sekali-kali matahari mesti tertidur.

Ternate, 2017.


SAJAK MALAM GIGIL

Diam diam
tapi kau tumpah
menepikan jejakku ke muara yang jauh
pelan, pelan
tapi menembus tubuhku
meski tak menggigil.

Hai, sampai bertemu di kaki terik.

Ternate, 17 Agustus 2017.



RINDU ITU SEPERTI KITA

Rindu itu, ketika engkau dan aku berada pada derasnya jarak
sementara cinta tumbuh 
semacam hujan di bulan Juni
tapi angin tak putus-putus menghantam jendela kamarmu
dan laut tak henti henti menyanyikan lagu lagu ombak
sedangkan pantai benar benar lepas dari pandangan
seperti kita--

yang menjinakan sepi di garis tanpa batas
sementara sunyi
membawa kita, dalam doa yang tak pernah berakhir.

Ternate, 19 Agustus 2017.


GAMBARAN DUKACITA

Kau telah mengubah negeriku 
gambaran dukacita yang menyedihkan
kau telah menyulap manusiaku
seperti seekor tikus jantang yang kegilaan.

Kau telah mengubah negeriku
hujan air mata dan rumah kematian
kau telah menyulap manusiaku
seekor rusa yang diburu kegetiran.

Ternate, 21 Oktober 2016.



HUJAN DI FKIP

Matahari tertidur
tapi waktu memilih aku mengemasi cerita
membenahi pagimu
yang baru saja beranjak dari bangku ketiga.

Ketika kata kata melesat melepaskan anak panahnya
hujan tumpah membentur atap gedung
sementara perahu pikiranku tak henti-henti 
merembeskan nadinya ke daun daun hijau
menepikanmu ke banyak bahasa
ke banyak jejak
ke banyak istilah, tentang asal muasal kebersamaan
yang mengalir sebelum jejakku menetap
dan keluar--

mengabdikan setiaku padamu, negeri yang aku junjung
tapi kau memilih diam dan membiarkan hujan tersenyum
seperti orang merdeka.

Ternate, 19 Agustus 2017.


SAJAK UNTUK ANAKKU

Anakku, esok, tujuh puluh dua tahun aku merdeka
tapi sungguh, masih bukan untukmu
tapi lihatlah gedung-gedung berlarian ke langit
perusahan perusahan tumbuh di timur, tumbuh di barat
rumah-rumah melesat ke angkasa (bagai hasrat manusia)
mobil-mobil (mewah) mengapung-ngapung di jalan raya
berguling-guling di garasi-garasi rumah
sesungguhnya itu sebagian untukmu
tapi sayang, bukan milikmu
kalau begini jangan tidur dulu, anakku
karena tak mungkin malam nyenyak
memikirkan mataku diremas-remas
semacam cemasku memikirkan nasibmu, nasib anak cucumu.

Anakku, memang esok, tujuh puluh dua tahun aku merdeka
tapi sungguh, ini masih bukan untukmu
maka pulangkanlah sesakmu pada sunyi
karena untuk memelihara harapan
negeri ini belum punya katapan
untuk engkau meratapkan keluh.

Ternate, 16 Agustus 2017.


SEHABIS MALAM INI

Sehabis malam ini
kita lihat esok
ke mana angin mengirimkan hujan
apa menepi kotamu atau ke kotaku?
sebab--   

setelah malam itu
purnama tak lagi di langit, tapi pindah ke hatiku.

Ternate, 2017.


KAKIKU TERPAKU 

Ma, sejatinya aku rindu teh manis di senja itu
tapi  kaki seakan terpaku di bumi kota ini
sementara pintu laut tiba tiba tertutup
ketika perahu pelayaran aku tancapkan.

Ma, semalam ada burung putih 
diam diam memasuki kepalaku
menerbangkan isi pikiran 
ke rimba-rimba yang jauh
merekam kembali seberkas musim 
ketika aku datang menggendong air mata.

Ma, aku tak ingin lagi ada hujan
dalam musim dan cerita yang sama.

Ternate, 16 Agustus 2017.


TAMPAKNYA SURGA MASIH TIDUR

Semalam kudengar gemuruh di dadamu
apakah kau mencium aroma kebakaran?
tampaknya surga masih tertidur
dan neraka masih berjaga-jaga untuk tumbal selanjutnya.

Aku menoleh ke selatan, melihat ibumu terbaring di tanah yang gundul
dikelilingi  beberapa lelaki berpakaian rapi dengan wajah tak kukenal
sementara anak-anak di jalan ini, bagai ayam kehilangan kandangnya
apa lagi yang indah dari sudut pandangan ini?
ketika tuan tuan lebih sibuk memikirkan kebahagiaannya masing-masing.

Ternate, 2017.


HUJAN DAN BUJANG

Hujan dan bujang, kita menyatu malam ini
menyajak-nyajakan mimpi-mimpi yang belum tunai
dan engkau tembakau
tetaplah setia di garis batas udara
sebab dingin mesti kita jinakan
meski segelas teh manis terlampau tumpah dari gelasku
membasahi tanah
di antara ingatan yang singgah di dabur rumahmu.

Ternate, 19 Agustus 2017.


SAJAK HARI INI

Hari ini, kita manusia Indonesia 
ramai-ramai menyanyikan 
lagu-lagu kemerdekaan 
sebab bendera tak lagi di lemari 
dan tangan tak lagi di laci
tapi kita lihat esok!
apakah lagu-lagu kemerdekaan masih tetap sama
atau aroma nadanya berpaling ke Istana
dan bau anyir menyumbat hidung hidung rumah kecil?
hingga sesak semacam ombak merindukan pantai.

Ternate, 17 Agustus 2017.



Tentang Penulis:
Abi N. Bayan atau Nuriman N. Bayan, lahir desa Supu Kec. Loloda Utara Kab. Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara 14 September 1990. Anak dari Hi. Naser Dano Bayan dan Rasiba Nabiu, anak keenam dari sembilan bersaudara. Abi adalah salah satu Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Khairun Ternate (September  2016). Ia menyukai (menulis) puisi sejak menjadi mahasiswa dan hampir setiap kegiatan literasi ia diundang untuk membaca/mendeklamasikan puisi dan beberapa kali kegiatan besar  kedaerahan (Legu Gam dan Festival Teluk Jailolo) ia bersama teman-teman komunitasnya (Komunitas Parlamen Jalanan Maluku Utara) diundang untuk mementaskan teaterikal. 

Saat ini ia dipercayakan sebagai Pembina Komunitas Parlamen Jalanan Maluku Utara (Komunitas Teater) dan pada Desember 2016 ia bergabung di (sebagai anggota) Komsas Simalaba (Komunitas Sastra Silaturahmi Masyarakat Lampung Barat), Abi juga tergabung di Komunitas Kita Halmahera dan salah satu anggota Dapur Sastra Jakarta. Karya-karyanya dipublikasikan di media online (www.wartalambar.com, litera.id.com, dan www. Simalaba.com) juga tergabung dalam antologi bersama: Kita Halmahera, Kitab Penyair Maluku Uatara (Garasi Genta, 2017), Embun-Embun Puisi (Perahu Litera, 2017). Dan pernah terbit di Majalah Simalaba (2017), dan Majalah Mutiara Banteng (2017). Selain menulis puisi, ia juga menulis berjumlah naskah teater, di antaranya: (Potret Pendidikan Bermata Uang, Lihat Tanda Tanya Itu, Biarkan Kami Bicara, Indonesiaku Kau Hilang Bentuk Remuk, Membuka Nestapa Yang Hilang), telah dipentaskan pada setiap kegiatan (kampus maupun luar kampus). Kini tinggal di Ternate Utara.
“Menulis adalah merekam jejak waktu, dan puisi adalah salah satu ruh dari waktu.”
Facebook : Abi N. Bayan
Nomor TG: 081343630934/082271230219.

No comments