HEADLINE

PUISI PUISI ISMI SOFIA ANANDA

Dari Redaksi:
Kirim Puisi, Esai, Cerpen, Cersing (Cerita Singkat) untuk kami Siarkan setiap hari ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com beri subjek_LEMBAR KARYA HARIAN MAJALAH SIMALABA




PUISI PUISI ISMI SOFIA ANANDA


MERDEKA

Tujuh puluh dua tahun
bukan lagi waktu yang muda
usia yang renta bagi kita
waktunya mendulang segala cita, segala impian
yang diamanatkan para kusuma bangsa.

Merdeka!
pekik-pekik kemerdekaan membahana
tujuh puluh dua tahun yang lalu
pejuang bangsa memerdekakan Indonesia.

Merdeka itu telah diraih
dengan darah dan jiwa
dengan derai air mata
yang membasahi tanah persada.

Merdeka!
tujuh puluh dua tahun berlalu
namun masih saja terdengar rintihan pilu
di simpang-siurnya waktu.
anak-anak menjajakan bahu.

Pekik kemerdekaan mengumandang
merah putih pun berkibar di ujung-ujung tiang

Merdeka! Dirgahayu Indonesia.

Jakarta, 30 Juli 2017.

INDONESIAKU

Aku mengaku kalah
kalah secara berjamaah
saat suara rumput lenyap
tergilas mati dan kalap.

Suara merdeka bersimpah darah
kini kian terkulai pasrah
mati bersama cacatnya edukasi
terkubur di tanah pertiwi.

Retorita kian ramai terjadi
sampai berujung Bom panci
kanapa tak disudahi saja
kami bukan sebuah boneka.

Memang--

kami bukan siapa-siapa
kami bukan apa-apa
namun ingatlah-
ini tanah kelahiran kami, tumpah darah leluhur kami
di sini tertanam jasad pemberani
bukan pembuat onar yang kemudian lari.

Terima kasih tuan
untukmu yang menggerogoti negeri
yang memilih memperkaya diri
tolong-

sisakan sedikit untuk anak cucu kami
mereka butuh damainya negeri ini.

Jakarta, 31 Juli 2017

BATINKU

Kamar yang sepi
terisi cahaya kecil
teranglah sudah seantero hati.

Aku yang bersemedi
dalam batin kusyuk
memanggilmu hadir di sini.

Sesunyi inikah mata terpejam?
menelisik ke penjuru hati.

Adakah sejenak kau temui?

Jakarta, 30 Juli 2017.

DI HENING MALAM

Dan dada ini pun berdebar
ayat-ayat mengalun syahdu.

Tuhan-
di hening malam ini
aku masih ingin berbincang-bincang dengan-Mu.

Jakarta, 29/07/2017.

MEMETIK AIR MATA

Setelah lambaian kau hadiahkan
aku memetik airmata di ranting kenangan
satu-satu mimpi pun beterbangan, lalu hilang.

Jakarta, 29/07/2017.

PEREMPUAN HUJAN

Ka Juli Yulia
aku menyebutnya perempuan hujan
derainya yang bersih
mengingatkanku pada kasih sayangnya
engkaulah rindu dari segala syahdu.

Jakarta, 28 Juli 2017.

PESAN UNTUK KEKASIH

Ciumilah, setiap inci luka
tak usah menangis, berjumpa duka
maknai semua denyut
bukankah cinta: harus melewati perjuangan yang hebat?

Tersenyumlah saat bersedih
meski ragaku, nanti tiada
cinta ini takkan pernah meninggalkanmu
semayamkanlah, selamanya dalam hati
sirami, dengan air doa-doa
seharum kesturi
dan-

kutitipkan rasa ini, andai kau cari pengganti
abadilah cinta ini bersamamu
tetap semangat menempuh kehidupan ini
meski nanti, berjalan tanpaku
Harapan: Tuhan wujudkanlah doa-doa
andai raga tiada bisa menuntun lebih jauh
membimbingnya dari kegaiban alam lain
sekadar memenuhi janji, pernah terpatri.

Jakarta, 27/07/2017.

AKU YANG SELALU KAU SAKITI

Tak henti-hentinya
kuringkas air mata
kutampal luka dari sekian musim
berganti musim.

Sekarang, aku putuskan
untuk tidak bicara
meski sesak akan meledak
di malam buta.

Jakarta, 27/07/2017.

KENANGAN DI KESUNYIAN

Kau berlari melewati temaram panjang
meninggalkan sebaris kisah di pelataran tanya
hingga selaksa rindu terkatung bisu
terdampar sendirian di pusaran ruang tak berwaktu.

Kau guratkan sajak-sajak dingin pada langit hitam
mengapur di sela kerutan awan menangis
nada duka berbisik dari derit pintu hening
melayah melewati helai demi helai geliat aksara.

Cinta telah melipat waktu di sekujur ruang
memasung figura retak dari kisi-kisi cerminan jiwa
hasrat terkulai di antara serpihan puing-puing cerita
membeku berkalang tonggak bayang abadi kekasih.

Kau masih terus berlari merambahi kegelapan panjang
meninggalkan barisan sajak pasi yang merintih ke ulu hati
namun engkau masih menghapus jejak tak sempurna
yang tak pernah henti merobek mata kakimu.

Jakarta 28/07/16.

KEMBALI SENJA

Di pantaiku angin sepoi bersama ombak pantai
kunikmati sambil memandang pulangnya mentari.

Ada desir rindu menerpa diri
tapi hangatnya begitu kuresapi
bagai tangan kasih membelai sukma.

Kemesraan nan selalu kudamba
terlena dalam indah
kembali malam
remang cahaya di pantaiku
akankah malam ini ada rindu menemani
melangkah pelan
menatap pembaringanku.

Dari jendela kupandang dan berharap
Sinar rembulan datang menyejukkan.

Jakarta 26/07/16.

LUKISAN WAJAH

Teringat lagi asa, sempat hilang
bagai merajuk pergi, bersama musim-musim yang labil
pernah kita sandar pada tiang-tiang waktu
gugur jua dalam detik-detik berlalu
Seakan malam demi malam, kembali
sodorkan kanvas-kanvas penuh kesunyian
melukis wajah kita, meski samar
di mana rindu-rindu , pernah berkencan.

Ah,
ada apa dengan diriku ini?
seakan bayangannya terus tersenyum, menari
membawakanku selaut rinai
lama nian, kemarau hati menepi.

Jakarta, 20 Juli 2017.

DOA YANG JATUH

Hatimu lautan tabah
persinggahan paling indah.

Kasih-

kau - doa yang tumpah
dari mataku yang jatuh di sajadah.

Jakarta, 19/07/2017.


MUSAFIR

Malam kian laju berlari
kerlip bintang perlahan pergi
aku masih di sini
berdiri merangkul gelap hari
Jauh jalan telah tertapaki
radius tak terhitung lagi
peluh kian tak berarti
tertinggal asa sisa mimpi.

Wahai perih yang tercipta
sudikah kiranya menjauh saja?
aku lelah terus berharap
di ujung panahmu menikamku sadis.

Bersama angin kutitip rindu
rindu usang yang berdebu
biarlah alam terus menertawaiku
yang begitu angkuh memujamu.

Jakarta, 14 Juli 2017.

KITA

Dari peraduan yang sama
kita pernah merekam makna angin
mengening jiwa, membacok rasa
tentang rindu yang menyerang.

Mengisi relung terdalam
kumpulan asa kita
walau entah terjadi
tenda tanya hadir kini
selimut hati.

Jakarta, 12/07/16.


NEGERI TUKANG SULAP

Ada hujan di matamu
serupa lautan dalam angan-angannya
begitu indah segala biota
meronta seakan ingin mengukir realita.

Langkah-langkah halus namun serakah
berjalan-jalan tenang di hadapan
menyulap arogansi dengan segala kebaikan
lalu menjadi keindahan dangan racun mematikan.

Negeriku, Negeri tukang sulap
menyulap racun menjadi madu, tak peduli kami meratap
menggantungkan harapan bagai layangan
memotong hak lenyapkan tanggung jawab.

Tidakkah kau lihat di sini, Tuan?
berjumlah penantian menjadi basi
sedangkan kepercayaan menjelma cacing-cacing
lalu berkuasa mencari apa,Tuan?
Sementara keabadian punya Tuhan.

Jakarta, 2017.

LUKISAN HUJAN

Gemericik hujan senja hari
melukis kembali rindu-rindu yang pergi
sekian sudah waktu berlalu
menjadi kisah masa nan rancu.

Masihkah kau simpan
ketika semua kau rasa samar?
bagai rerintik berjatuhan
seperti siksa rindu, tanpa penawar
kau lukis jejak-jejak, nun pergi.

Jakarta, 15 May 2017.

KETIKA DATANGNYA MALAM

Nak, kelak ketika engkau sudah mengenal musim
ada sisi kehidupan yang mesti kau pahami
mereka datang bergantian
seperti siang dalam malammu
malam pada siangmu.

Ketika datangnya malam
jangan mengeluh tentang gelapnya
tapi carilah lentera
sebab siang sedang menantimu.

Bila lenteramu masih juga padam dikecup angin
maka nyalakanlah doa-doa
biar Tuhan menjagamu dengan Nur-Nya.

Jakarta, 24 Juli 2017.

JIKA AKU PUISI

Jika aku puisi
maka tulislah aku
dengan rasa paling rahasia
sebagaimana engkau mengangkat doa doa sunyi
di malam paling gerimis
sebab, aku mencintaimu
dalam bahasa paling sepi.
Jakarta, 12 Juni 2017.

PERCAKAPAN SENJA

Terima kasih Tuhan
langit-Mu masih memberi ruang
untuk kami mengirimkan bahasa rindu
di antara bumi yang terpisah.

Semoga percakapan senja ini
selalu melekat di ingatan kami.

Jakarta, 04 Juni 2017.

RINDU DI BANGKU RAMADHAN

Di bangku suci ini, malam dan siang mengajari kita
untuk menyimpan potongan-potongan rasa
sebab ada beberapa ayat yang mesti kita tunaikan.

Namun aku tak ingin melukai nurani
apa lagi membiarkannya terkatung-katung mendulang pandangan
sebab mimpi mimpi kemarin adalah suci.

Maka biarlah aku merebahkan doa doa ini ke dalam puisi
untuk mengingatkanmu
tentang bahasa yang tak sempat aku ucapkan.

Jakarta, 02 Juni 2017.

KAKASIH MAYA

Ada rindu di sini
terukir di belahan jantung
sebiru laut membawa biduk.

Hai, kekasih
tak jemu mata memandang
menanti--

mencari-cari
bahkan diam diam mencurimu.

Di sini, di dada kiri
kusematkan satu nama
harumnya seperti dulu
ketika cinta kukecup.

Kekasih
meskipun engkau berdiam di dada ini
tapi sepasang sungai masih kerap mengairi muaranya
ketika rindu teraniaya sunyi.

Jakarta, 21 Mei 2017.

MEMBACA JEJAK

Membaca mimpi terbentang jauh
di antara destinasi hari
dan gumpalan awan.

Begitu jauh kaki melangkah
mengeja jarak antara angan
dan harapan
atas usia dalam hitungan.

Sedangkan lembar tangan terbuka
pada garis tergurat
terlintas doa- titian cita-cita lampau.

Seperti warna semesta
ratapan jiwa ini
tetapi impian selalu ada.

Jakarta, 2017.

TARIAN CINTA

Walau tersimpan dalam bahasa
dan terbungkam oleh indahnya bunga
tapi kulihat bukanlah tubuhmu.

Kurasa, syair-syair itu tertulis bersama nuranimu
sebab pertemuan bukanlah pelukan dan ciuman abadi
bernada bukanlah yang dipecahkan gerak dan irama
namun rindumu, selalu menyapa
di kala sepi melanda diri.

Jakarta, 03 April 2017.

SAJAK ORANG ORANG KALAH

Adalah orang orang kecil
senang dibesar-besarkan, di waktu kata-kata saling beradu
merebut garis nasib, di langit yang bukan milik siapa-siapa.

Aku melihat mereka di kolom-kolom basah
berkelahi dengan cacing dan bau anyir
bahkan di jalan-jalan itu
mereka terpanggang api sepanjang matahari
bersama gerimis yang meruncing.

Adakah tuan di sana, membacakan mantra untuk mereka?
mengusir kekalahan dari tanah kelahiran
sementara negeri ini kaya
tapi juga berbahaya.

Duhai lelakiku, seberapa asin rasa di lautmu?
ketika lapar dan airmata bertengkar di sudut-sudut kota.

Sungguh pedih, penglihatan ini
membaca wajah dari cerminku sendiri
tapi apalah kuasa diri
jika drama dan tragedi belum usai dipentaskan
dalam istana berpanggung sandiwara.

Jakarta, 10 Mei 2017.

PENCARIAN

Jika kelak engkau dewasa
pergilah dengan ikhtiar, anakku
biar kubacakan mantra untukmu
agar menjunjungmu dalam pencarian.

Jakarta, 07 Mei 2017.


TARIAN HUJAN

Biarlah aku menjadi halilintar di langitmu
meski harus bertengkar dengan kabut hitam
sebab aku, adalah hujan pemubunuh api dari tungkumu.

Jakarta, 6 Mei 2017.

BIARKAN DOA-DOA BERKELAHI

Sejauh kata masuk ke tubuh puisi
dan irama-irama berkecamuk di dadanya
aku tak ingin mempertanyakan apa-apa
selain kembali kepada rencana-rencana semula
lalu diam-diam meminta Tuhan mengirimkan perjumpaan.

Sia-sialah musim dan cuaca kemarin
jika lisan melepaskan seribu kesepakatan
tetapi kita masih saling membunuh
mengutuk kesepian
serta menggugat rimbun belalak mata yang merekah di bangku fajar.

Duhai ... mari kita pastikan asinnya samudra
bengisnya kabut hitam
dan nyala api di tungku masing-masing
serta pikiran-pikiran mana yang mesti kita patahkan getirnya.

Ya, lalu kita biarkan doa-doa berkelahi di sepertiga malam
untuk mengibarkan bendera hati
bertarung di langit-langit teratas
sebab cinta ini, sebuah harapan
ingin engkau dekap dalam damai jiwamu.

Jakarta, 5 Mei 2017.


Tentang Penulis:
Ismi Sofia Ananda, lahir di Jakarta 22 Desember 1988. Pekerjaan sebagai Wirausaha. Ia pendiri EVENT PUISI MINGGUAN. Puisi-puisinya dipublikasikan di media online www.wartalambar.com, Majalah Simalaba (10 Nominator Terbaik, 2017).
Alamat : Depok 2 Timur
Email: ismisofiaananda88
Facebook : Ismi Sofia Ananda






No comments