HEADLINE

PUISI PUISI NURIMAN N. BAYAN

Dari Redaksi:


Kirim Puisi, Esai, Cerpen, Cersing (Cerita Singkat) untuk kami Siarkan setiap hari ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com beri subjek_LEMBAR KARYA HARIAN MAJALAH SIMALABA






PUISI PUISI NURIMAN N. BAYAN


MERIANG AKU MERIANG

Terbangun dengan muka gosong
kala malam beranjak pulang
tapi di suatu sudut ruang, seseorang termangu
aku menepi, menggenggam segelas teh manis.

Tiba tiba adzan subuh bergumam
dalam satu larik tertentu
aku menyapu dada, membuang bola mata ke langit
meriang, aku meriang
diam diam waktu beranjak pulang.

Ternate, 25 Juni 2017.


LANGIT GERIMIS

Malam rebah
bulan resah
awan mengelambuana.

Petir memukul
menjilat
menusuk
perih--
aku cemas meletakkan gigilmu ini.

Ternate, Juni 2017.



24 KAKI

Kemudian kusaksikan 
orang orang menggantungkan nasib
di gedung-gedung besar
gelisah dan bahagia pun beradu
ada tawa terbahak-bahak di sana
barangkali waktu.

Kemudian zaman mengganti pakaiannya
tapi waktu tetap berdiri pada 24 kaki.

Ternate, 31 Juli 2017.


BILA HUJAN TELAH MENYATU

Bila angin telah menyatu dengan hujan dan petir semakin getir
menggelegar--- mengirimkan geletar
hingga kota kota dan desa desa gemetar
siapa lagi yang ingin kau kejar?
jika jejak telah pudar dan kata kata tak lagi mundar.

Sebaiknya kau tidak mondar-mandir
di punggung punggung berair
sebab harapan belum mencair
dan aku belum benar benar mahir
mentafsirkan bahasa bahasa lahir
dari lidah-lidah zahir
menjalar ke bibir bibir
lalu tiba tiba menjadi sihir
sedang aku hanya punya syair.

Ternate, 20 Juni 2017


BULAN SENJA

Bulan senja dan esok kau pulang
membawa kurik-kurik cahaya
entah ke mana waktu menjembatanimu.

Masih adakah sepotong waktu
untuk kita bertemu di pintu depan?
sebab kemarin aku abai
bahkan belum benar benar setia menjagamu.

Ternate, 23 Juni 2017



SEPASANG LEBAH

Di kaki bukit ini
pernah, dua ekor lebah berkelahi
"ini maduku."
"bicara apa kamu? ini maduku."
kemudian aduh mulut pun makin sengit
bahkan saling melepas pukulan.

KAMPUS KEMATIAN

Kemarin aku menarik diri dari kerumunan orang orang
aku melihat langkah langkah kecil
di sudut sudut ruang
ada juga di trotoar--
bahkan sebagian menuju ke kanting-kanting.

Lalu--
aku menoleh ke dalam gedung
aku menghimpun satu kesimpulan
sebagian dari kami dihantui ketakutan.

Dan-
dalam satu sudut terpencil
aku melihat sepasang gagak
berkelahi-- merebut berlembar-lembar kertas.


Ternate, 2016.


SEPERTI BISOA

Seperti Kie Matubuh
ia kokoh dalam ingatan
seperti Bisoa
ombak pulang membawa cerita.

Ternate, Juli 2017.

Catatan:
Kie Matubuh : Nama lain dari Gunung Tidore.
Bisoa : Nama Tanjung di Halmahera Utara.

KUPU KUPU TAK BERSAYAP

Ia tertatih
di taman yang ramai orang orang
sayapnya patah
semenjak ia diadukan
dengan kupu kupu betina
yang sengaja bertandang.

Sekarang, ia memilih, memotong kupingnya
sekadar menutup lirih angin
dari bibir-bibir tak bernurani
sebab ia ditinggalkan setelah
dadanya berisi
maka
ia memutuskan mengupas tubuhnya
untuk mengisi pori pori kehidupan.

Ternate, 21 Juli 2017.

LIRIH ANGIN TANAH ASAL

Kudiamkan lagi 
sepenggal ingatan kepada kenangan
sebab hujan di musim kanak-kanak
tak henti-hentinya membilas otakku
bahkan ringis dan lirih angin tanah asal 
tak pernah tuntas menghantam jendela pintu.

Terasa-- tubuh ini bukan milik sesiapa
dan tualang ini tak ke mana-mana.

Ternate, 2017.

DALAM LINGKARAN SETAN

Ia mati-- 
sebelum matahari mengupas kulitnya
dan anaknya beranjak 
tanpa mengucap-- 

bahasa selamat tinggal.

Ternate, 2017.


LILIN ULANG TAHUN TERAKHIR

Malam itu, kira-kira senja baru sejenak beranjak
perempuan meniupkan lilin
tiba tiba lelaki pulang menggendong namanya.

Ternate, 2017


TARIAN OMBAK

Pada Desember nanti, engkau pasti menemuinya
memukul-mukul dinding tanjung
seperti matahari di dadamu yang tak pernah selesai 
meliput jalan ke depan
seperti hasratmu yang tak benar benar tamat
meski segala telah kau peluk.

Namun siapakah yang meruntuhkan dinding di antara kita?
bila riak paruhku tak dapat menyentuh dinding batinmu
tapi siapakan yang mempuisikan perbedaan kita ke dalam sajak
bila setiap deburku selalu pecah jadi puing.

Ternate, 2017


AKHIRNYA ENGKAU PERGI

Akhirnya engkau pergi
tinggalkan bergelas-gelas rindu
sedang langit menampung airmata.

Akhirnya engkau pergi
dan aku harus menunggu
di surau-surau kecil
di kamar-kamar sunyi
dapur tua serta meja makan.

Akhirnya engkau pergi
dan aku-- melepas tanganmu dengan kalimat dan air mata
meski tak rela, sebab beberapa rindu masih tertunda.

Ya-- aku harus melepas
sampai Langit membuka setapak perjumpaan
dan entah kapan aku menemuimu sebagai kekasih paling setia.

Ternate, 24 Juni 2017


SETELAH MALAM INI

Setelah malam ini 
apakah kita akan terbang ke pulau pulau?
layaknya kasturi Ternate melayang di udara
lalu kelak, kita pulang
mengistrahatkan cerita tualang
ke ranting-ranting kampung halaman.

Ataukah kita hanya melambung di atas dedaunan?
seperti bidadari Halmahera
melesat dari Bacan ke pulau-pulau yang sungguh.

Ternate, 27 Juli 2017


MEMBACAMU

Akhirnya aku paham, bahwa membacamu
bukan sedakar memuntahkan kata kata
melainkan membiarkan jiwa
melepas sayap sayapnya.

Aku paham, engkau bukan sedekar ular piton
pemburu singa dan harimau
atau buaya-buaya di danau yang rimbah
engkau lebih dari jaring laba-laba
engkau adalah nasihat batin
berhari aku tulis dalam perenungan panjang.

Ternate, 14 Juni 2017


SEBAB SEJATINYA ENGKAU MESTI BAHAGIA

Sekarang, tiada lagi kesedihan menjilat rahimmu
meski dua sudut adalah sesak
seperti hujan tumpah di Ternate pada Desember purba itu
sebab musim terlampau tua mengajari air mata.
         
Tiada lagi kata kata basi menghujani
atau menjadi ombak menggulung
melantarkankanmu ke teluk
tapi buih juga yang mesti kau peluk.

Sudah waktunya bulan jatuh menembus dadamu
meski untuk merdeka dalam sebuah sepakat
membutuhkan waktu berabad-abad
memerangi belukar dari kebun masing-masing
sebab sejatinya, engkau mesti bahagia.

Ternate, 12 Juli 2017.



Tentang Penulis:
Nuriman N. Bayan atau lebih dikenal dengan Abi N. Bayan, lahir di Desa Supu Kecamatan Loloda Utara Kab. Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara pada 14 September 1990. Anak dari Hi. Nasir Do Bayan, dan Rasiba Nabiu. Anak keenam dari sembilan bersaudara. Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP-Ukhair. Saat ini membina Komunitas Parlamen Jalanan Maluku Utara (Komunitas Teater) dan tergabung di Komsas Simalaba. Karyanya dipublikasikan di media online (www.wartalambar.com dan litera) dan tergabung dalam antologi bersama: Kita Halmahera, Kitab Penyair Maluku Uatara (Garasi Genta, 2017), Embun-Embun Puisi (Perahu Litera, 2017), Majalah Simalaba (2017), dan Majalah Mutiara Banteng (2017). Selain menulis puisi, ia juga menulis berjumlah naskah teater (Potret Pendidikan Bermata Uang, Lihat Tanda Tanya Itu, Biarkan Kami Bicara, Indonesiaku Kau Hilang Bentuk Remuk, Membuka Nestapa Yang Hilang), telah dipentaskan pada setiap kegiatan (kampus maupun di luar kampus). Kini tinggal di Ternate Utara.
Facebook : Abi N. Bayan
Nomor TG: 081343630934/082271230219.


No comments