HEADLINE

PUISI PUISI NURIMAN N. BAYAN


Dari Redaksi:
Kirim Puisi, Esai, Cerpen, Cersing (Cerita Singkat) untuk kami Siarkan setiap hari ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com beri subjek_LEMBAR KARYA HARIAN MAJALAH SIMALABA








PUISI PUISI NURIMAN N. BAYAN


AKU TELAH PULANG

Bila sempat, malam membaca sajak ini
kuminta, kau berada di telaga yang tenang
agar angin-- 

tidak mengirimkan hujan ke pantai. 

Bila sempat, jangan dulu percaya
apa lagi
meliput sepenggal hari, di antara bukit.

Walau fajar belum beranjak
dan jejak masih mekar di jantung puisi
namun, terlampau sulit bagiku
memahami lagu lagu lampau, bila burung burung asing
sudah bergantian keluar masuk dari pintu rumah.

Ya---   

dan kini, aku telah pulang.

Ternate, 21 Juni 2017.


KAU SEJAK AWAL MENGGETARKAN HATIKU

Kau, sejak awal menggetarkan hatiku
tanpa mampu kuartikan
dan angin laut, sejak kemarin
mendendangkan lagu lagu ombak.

Melalui jendela sunyi
aku sungguh menghayati kedamaian ini
kapal menderu, angin menghening
dan laut, berkali-kali memanggil.

Jika ini, masih membuat, aku asing dalam sepi
sebab laut di dada masih mengombak
dan pantai selalu merindukan gelombang
izinkan-- 

puisi mencari jejaknya sendiri
menjelajahi sunyi paling dalam.

Ternate, 2016.


KAMPUS KEMATIAN II

Di sini, di antara gedung angkuh
aku merenung
membaca kebijakan yang basi
tempat belajar yang resah
waktu yang dilipat-lipat.

Di kampus ini
aku melihat harapan dan keputusasaan
cinta dan benci, kaya dan miskin, takut dan berani
saling berkelahi, sementara uang bertakhta
sembari bernyanyi, mencekik.

Ternate, 2016.


KAMPUS KEMATIAN III

Dalam keramaian matahari
segala menjadi beban dan berkabut
lalu prosesi berjalan
ditemani sepotong ancaman dan teror tentang nilai.

Ini kuburan--

saat keluh menampakan wajah dan suaranya meninggi
kematian mengeluarkan taringnya, mengancam
“tunggu saja kalian, nilai kalian jadi jaminan”.

Di saat suara protes semakin meninggi
 “kalian bikin kami pusing, kami juga akan bikin kalian pusing”.

Ah, aku muak.

Ternate, 2016.


KAMPUS KEMATIAN IV

Pada pertemuan perdana
kematian berkata
“nilai adik-adik diambil dari beberapa elemen;
kehadiran, tugas-tugas, UTS, UAS dan keaktifan”.

Ketika prosesi berjalan dan final
kehadiran jadi raja
elemen yang lain jadi budak
sehingga melahirkan bunyi E, E, dan E
bunyi lain bersembunyi di mana?

Ternate,  2016.


JANGAN PANGGIL AKU LELAKI

Jangan panggil aku ombak
bila tak bisa memberi gelombang.

Jangan panggil aku lelaki
bila aku tak bisa mendaki
juga tak bisa memberi arti.

Ternate,  Agustus 2017.


FAJAR PECAH DARI MATAMU

Untuk menaklukkan malam
kau tak perlu merayu dengan secangkir kopi
letakkan saja segelas teh manis
sebungkus udara dan beberapa lembar buku.

Maka di sana
tanpa pertingkaian
fajar pecah dari matamu.

Ternate, 2017.



Tentang Penulis:

Nuriman N. Bayan atau lebih dikenal dengan Abi N. Bayan, lahir di Desa Supu Kecamatan Loloda Utara Kab. Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara pada 14 September 1990. Anak dari Hi. Nasir Do Bayan, dan Rasiba Nabiu. Anak keenam dari sembilan bersaudara. Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP-Ukhair. Saat ini membina Komunitas Parlamen Jalanan Maluku Utara (Komunitas Teater) dan tergabung di Komsas Simalaba. Karyanya dipublikasikan di media online (www.wartalambar.com dan litera) dan tergabung dalam antologi bersama: Kita Halmahera, Kitab Penyair Maluku Uatara (Garasi Genta, 2017), Embun-Embun Puisi (Perahu Litera, 2017), Majalah Simalaba (2017), dan Majalah Mutiara Banteng (2017). Selain menulis puisi, ia juga menulis berjumlah naskah teater (Potret Pendidikan Bermata Uang, Lihat Tanda Tanya Itu, Biarkan Kami Bicara, Indonesiaku Kau Hilang Bentuk Remuk, Membuka Nestapa Yang Hilang), telah dipentaskan pada setiap kegiatan (kampus maupun di luar kampus). Kini tinggal di Ternate Utara.
Facebook : Abi N. Bayan
Nomor TG: 081343630934/082271230219.


No comments