HEADLINE

Cerpen Riduan Hamsyah_ LELAKI DAN SUARA PEREMPUAN DI SEBERANG TELEPON




Cerpen Riduan Hamsyah

LELAKI DAN SUARA PEREMPUAN DI SEBERANG TELEPON

Ia, seperti tengah berada dalam dimensi kisah yang lain, ia ciptakan antara kesilaman yang datang kemudian. Seperti titik pada langit. Di kemudian malam orang orang menyebutnya sebagai bintang. Tetapi ketika turun lebih rendah, ke bumi, melayang layang, maka orang orang lebih mengenalnya sebagai kunang kunang.

Dan, kunang kunang itu selalu datang pada waktu waktu lengang. Melambaikan cahaya. Meliuk di lipatan angin. Bersembunyi di pepucuk ilalang, di pinggir kota, yang masih menyisakan sedikit kesunyian. Maka untuk itu ia melompat ke luar dari rumah, meninggalkan perempuan yang telah memberikan kepadanya banyak kisah kisah pada sekujur hidup, ia menuju sebuah alun alun kota memeriksa sinar-sinar lampu. Tetapi tak ada kekunang disitu. Tak ada kesunyian yang meskipun tersisa tinggal sedikit lagi. Tak ada pula kesilaman yang selalu datang nuansanya di hari-hari belakangan ini.

Kemudian ia menacarinya lebih jauh. Memeriksa punggung trotoar. Mengamati pohon-pohon palem sepanjang jalan. Menyusuri gedung-gedung bongsor kantor pemerintah kota tersebut. Mengunduh file-file di layar ponselnya.

Tetapi tak pernah mencoba bertanya pada sesiapa.

Tak ada kekunang itu. Juga sebintik cahaya yang bila di langit orang orang menyebutnya bintang itu. Sungguh tak ada.


*****

Ia, adalah seorang lelaki, yang tiba tiba dihentak oleh kemungkinan lain tak pernah diprediksi selama ini. Datang sebagai suatu narasi aneh, bahkan mungkin lebih tepat disebut ajaib, sebuah perasaan yang membuatnya jadi sedikit berubah mencintai kesendirian, mencintai sebuah keganjilan yang nikmat.

*****

“Apakah engkau masih mengingatku?”

Lelaki itu, mengawali kalimat, sebuah pertanyaan pahit.

“Iya, aku masih mengingatmu, termasuk ketika dirimu pura pura cuti kuliah tetapi ternyata menikah dengan perempuan lain..”

“Hai, Komala, janganlah mengungkit lagi kisah itu.”

“Tidak, Kang Jaro, aku mesti mengungkitnya. Sebab cuma dengan mengatakan ini, luka lamaku jadi sedikit terobati”

“Tetapi…”

“Eiy, engkau belum berubah, seperti dulu, selalu menghindar dari kenyataan”

Hening.

“Komala, tidakkah engkau ingin bertanya tentang sesuatu yang lain?”

“Iya,”

“Bertanyalah,”

“Apakah engkau bahagia dengan perempuan yang kau nikahi saat dirimu pura pura cuti kuliah dulu?”

“Yah, nanya itu lagi, yang lain! Maksudku pertanyaan yang lainnya. Misalnya seputar pekerjaan, seputar karir, seputar kota di sebuah kaki Gunung Karang yang pernah kau kenal belasan tahun silam sebelum dirimu pergi ke Batam, seputar teman teman kita satu angkatan dulu, seputar apa saja yang membuat dirimu bisa tersenyum dan lebih merasakan bahagia karena kita bisa terhubung kembali saat ini.”

“Apa, bahagia?”

“Oh, ya, aku ingin mendengar saat ini dirimu bahagia, Komala.”

“Kang Jaro, aku sangat jauh dari bahagia itu!”

“Lah, kenapa bisa begitu?”

“Yang kurencanakan saat ini adalah bisa pulang ke Jawa.”

“Benarkah?”

“Benar sekali, Kang. Aku amat tersiksa di sini..”

“Berceritalah lebih jauh lagi, Komala..”

“Di sini, di Provinsi Kepulauan Riau, aku menjelma kunang kunang. Mengikuti tarian angin. menyelinap pada lipatan-lipatan gelap, dan ombak lautan yang parau. Dari kejauhan, hamparan lampu Negeri Singapura, berkedap kedip seperti sekawanan kekunang yang lebih ramai. Ingin sekali aku terbang ke sana, meninggalkan malam malam dan udara asin di Kota Batam. Bahkan aku ingin pergi lebih jauh lagi dari itu. Ke suatu tempat ketika aku bisa menyembunyikan diriku lebih dalam dari sorot mata kesilaman.”

“Komala, seandainya dirimu ada di sini, tidak cuma di seberang telepon, tentu aku lebih leluasa mengamati wajahmu, dan sepasang matamu yang menjadi pemukiman banyak kunang kunang itu.”

“Tetapi engkau tidak akan pernah melihat aku lagi, Kang Jaro. Tubuh lamaku telah musnah ditelan banyak peristiwa, dikuas cuaca dan waktu-waktu yang menggelinding dalam kehidupan kita.”

“Tidak! Aku yakin dirimu adalah Komala yang dulu..”

“Bukan, Kang Jaro. Aku Komala yang tinggal puing puing.”

“Adinda, janganlah membuatku luka, dengan kata-katamu”

“Aku yang telah lebih dulu luka oleh kata kata ini, Kakanda!”

“Komala, kisahkan tentang pelayaranmu yang lain..”


*****

Dering telepon yang menelan waktu. Keheningan yang sesekali memberikan kesempatan  pada nafas sesak berjalan. Kata kata pahit. Hati jungkir balik. Ow, adakah manusia ini memang menetas dari rahim kesilaman, sehingga ketika ia datang belakangan, kisah kisah itu, seperti mengguncang se-isi dada. Berdentam jadi ombak yang menyapu pelayaran. Dan, kesilaman, adalah ibu yang meninabobokkan manusia ini hingga tertidur mencintai mimpi mimpi tentang embun. Tentang debu. Tentang bintang-bintang yang gugur ke bumi, tersulap jadi kunang kunang.

Lelaki itu. Masih mencari cari kekunang itu. Sebintik cahaya itu.

“Kenapa engkau ingin sekali meninggalkan Batam? Bukankan ia telah memberimu sebuah pekerjaan yang baik, karir yang baik pula, gaji yang mencukupi untuk menunjang kebutuhan kebutuhan hidupmu,”

“Aku sudah tak tahan dengan prilaku suamiku,”

“Hemmm…”

“Agar dirimu paham, bahwa suamiku seorang penjudi, ah..tidak, aku tidak ingin memberimu paham lebih banyak tentang peristiwa yang menimpaku, sebab bila itu kuceritakan maka dirimu akan semakin lengkap sebagai pemenang.”

“Jangan begitu, Komala?!”

“Maaf, bila aku masih selalu tak sengaja mengungkit kesilaman. Tetapi sadarkah dirimu bahwa sesungguhnya kita ini menetas dari rahim kesilaman.”

“Selanjutnya, bila boleh tau lebih jauh, apa rencanamu?”

“Aku tinggal menunggu anak anak lulus es-em-pe. Selanjutnya mereka akan aku pindahkan sekolah ke Jawa.”

“Suamimu?”

“Biarkan dia di sini!”

“Lah,..”

“Sudah kukatakan kepadamu, Kang Jaro, bahwa Komala ini tinggal puing puing.”

“Komala..”

“Ya, bila suatu saat aku kembali ke Jawa, aku juga tidak berharap kita bertemu. Sebab engkau tidak akan pernah menemukan aku lagi.”

“Komala, bila nasib ini memutar tubuh kita, maka kita tidak akan bisa menghindar dari terkamannya. Oya, engkau juga tidak akan pernah menemukan Jaro Kidul yang dulu, Komala. Segalanya telah berubah,”

“Apa yang paling berubah darimu, Kang?”

“Saat ini rambutku banyak uban. Aku juga telah berkacamata.”

“Rupanya, dirimu telah rabun..”

“Ya, selain rabun, aku pakai kacamata agar terlihat sedikit lebih muda, Komala”

“Nah, dari penjelasanmu itu, jelas sekali bahwa dirimu belum banyak berubah, Kang..”

“Kok, bisa?”

“Seperti dulu, engkau masih celamitan..”


*****

Ia, seperti tengah berada dalam dimensi kisah yang lain, ia ciptakan antara kesilaman yang datang kemudian. Sebuah kerinduan tak dapat ditutupi seorang lelaki, pada nyala kunang kunang, ketika ia dirayapi rasa sepi.

Perempuan di seberang telepon, akhir akhir ini menyeretnya pada pikiran pikiran aneh, bahkan ganjil. Belakangan ini, ia merasakan lebih menyukai kesendirian. Mencintai rasa sunyi yang tersisa tinggal sedikit lagi, di kota ini. Dan, Komala, perempuan itu akan kembali ke sini. Sebuah protes keras tentu akan menyerbu dirinya, cepat atau lambat, sebuah protes atau lebih tepatnya sebuah penghakiman atas keputusan di masa silam. Sebab ketika kesilaman itu datang kembali, kemana sesungguhnya ia akan sembunyi?





(Penulis: Riduan Hamsyah, Karya-karyanya tersebar dalam buku-buku antologi nasional. Baru baru ini ia tercatat sebagai salah satu nominator Krakatau Award 2017, mengisi buku HIKAYAT SECANGKIR ROBUSTA)

No comments