HEADLINE

Edisi Kamis, 07 September 2017_ PUISI PUISI NURIMAN N BAYAN (Ternate, Maluku Utara)

Redaksi menerima tulisan
Puisi minimal 5 judul, Esai, Cerpen, Cersing (Cerita Singkat) untuk kami Siarkan setiap hari. Semua naskah dalam satu file MS Word dikirim ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com
beri subjek_VERSI ONLINE MAJALAH SIMALABA
(Mohon maaf, laman ini belum dapat memberikan honorium)





PUISI PUISI NURIMAN N. BAYAN


NEGERI TAK BERKEPALA

Semacam kera
tapi bukan kera
semacam kaki seribu
tapi bukan kaki seribu
semacam tikus
tapi bukan tikus
semacam kucing
tapi bukan kucing
barangkali belut, bisikmu diam diam
tapi mana mungkin?
setahuku belut itu hewan berkepala.

Astaga!
celaka, jika benar 
negeri itu tak berkepala.

Jangan jangan 
falsafah negeri itu karung nasi
sehingga orang orang lebih sibuk membusungkan dada
daripada mencari isi kepala
dan meletakkan di atas sajadah
tempat kita memasak, menulis
mengajar, berkantor dan berniaga.

Ternate, 06 September 2017.



PUISI YANG TAK INGIN KUTULIS

Selamat pagi kekasih
dalam bahasa apakah kita pernah bersengketa sebelumnya?
sedangkan kau bilang Tuhan sangat dekat dengan dirimu
dan awan adalah isyarat lampau
telah gugur ketika angin menghantam langit Indonesia.

Hai, kegelapan tidak untuk dipelihara
sebagaimana aku mengingatkanmu
menyalakan lentera
sebelum kelam mengepung sebidang mata
mengantarkanmu pada sepi yang tak pernah tunai.

Ternate, 06 September 2017.



CATATAN DIAM DIAM

Kita tak pernah tahu jarak antara kita dan kematian
meski senja selalu menandai bayang bayang kedatangannya
sebab kita-

hanya menunggu giliran
entah kapan?

Hari ini, seperti biasa
aku hanya bisa merapalkan dedoa
sebab-

yang kau beri, adalah tarian sungai malar 
menumpahkan kami ke banyak teluk
ke banyak persinggahan
ke banyak masa
yang kau tunjukkan adalah cermin
kami akan berkaca hingga senja.
Kepergianmu--
adalah rindu yang tak berepisode.

Ternate, 3 September 2017.



MEMBACA HALMAHERA

Mari kawan, naik sampan cadik ini
kita jelajahi urat-urat Halmahera
bertamasya ke tanjung dan teluk
ke Tobelo, ke Weda, Ke Jailolo, hingga ke Maba.

Mari kawan, kita ikuti jejak-jejak musim
menyusuri akar-akar Halmahera 
dari lipatan demi lipatan
mendaki Tarakani, Dukoko, atau Gamkonora 
menyaksikan ikan-ikan menari di telaga
menghitung pasir dan batu batu di kaki Mamuya
atau menghangatkan tubuh kita di ake sahu.

Lihatlah kawan!
sagu sagu telah menetaskan khasiatnya
menumpahkan butir-butirnya ke meja meja petani
menepikannya ke banyak kota
ke banyak warung, ke banyak pasar.

Ternate, 02 September  2017.



KETIKA JANJI HARUS DITALAK

Ketika janji harus ditalak
aku menemukan waktu 
mengunyah-ngunyah umurmu
hingga berserakan ke banyak bahasa
kulihat di lemba lemba kecil
orang orang mencela-cela
semacam pezina.

Ketika janji masih ditalak
maka kenangan tak perlu diulang.

Ternate, 1 September 2017.



BULAN YANG ASING

Di manakah kita tak bertemu sebelumnya?
ketika takbir berkumandang
kata kata saling menendang
bagai seribu tahun kita tak pernah berjumpa.

Di manakah kita tak bertemu sebelumnya?
ketika Agustus menetaskan hari
bulan-bulan di kota terasa asing
bagai bermusim-musim tualang ini tak jua pulang.

Ternate, 31 Agustus 2017.



MENUNGGU DEBUR DI LAUT MATI

Malam belum jauh beranjak dari tempat tidurmu
entah ke mana ia pergi membuang muka
menepikan segala kesumat yang kau kirimkan sore itu
apa memuntahkan ke telaga sunyi tempat kau melayarkan perahu doa
atau mengantarkan ke bukit-bukit tempat aku mengemasi senyummu.

Seperti biasa
aku masih menghitung hari hari pergi
menebak-nebak gemuruh ombak 
semacam menghitung butiran pasir di pantai kesekian
sebab deburmu masih kutunggu
bagai ayah menunggu beduk.

Ternate, 31 Agusutus 2017.



MEMBACA MUSIM

Kalau saja kau bertanya
seberapa mampu aku membaca musim di hatimu?
semampu ayah membaca raut ibu
dari hari pertama
hingga kita terlahir dan tumbuh menjadi dewasa.

Kalau saja kau masih bertanya
seberapa jauh aku mengenal musim di hatimu?
sejauh nelayan mengenal ombak di antara teluk
meski pulang membawa peluh tetapi rindu selalu dipeluk.

Ternate, 30 Agustus 2017.



SEPOTONG ROTI

Apa kau masih ingin mengambil sepotong roti dari meja ini?
ini, silakan bawa ke mejamu
atau simpan di sakumu atau di mana saja
selama itu membuatmu senang
tapi jangan lupa, di waktu kau makan
ingatlah siapa yang memberiku
karena itu miliknya.

Ternate, 30 Agustus 2017.



KEPADA YANG MEMECAHKAN CERMIN

Astaga!
siapakah yang mengajarimu memecahkan cermin itu?
ketika cinta gugup dan sepi
tiba tiba mengepung sebidang dadamu
sementara riuh nasihat kemarin masih juga bersiul.

Terlalu pagi, 
kau meminta waktu membuka pakaian
dan riak yang kirimkan-

terlalu keras
menghantam pintu rumah.

Berbagialah bagi mereka yang membaca perempuan
sebagai nadi dari tulangnya
dan mencintainya dalam awas.

Celaka!
jika hasrat yang kau pelihara adalah api.

Ternate, 30 Agustus 2017.




Tentang Penulis

Nuriman N. Bayan, lahir di desa Supu Kec. Loloda Utara Kab. Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara 14 September 1990. Ia Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Khairun Ternate. Ia menyukai (menulis) puisi sejak menjadi mahasiswa dan hampir setiap kegiatan literasi ia diundang untuk membaca/mendeklamasikan puisi dan beberapa kali kegiatan besar  kedaerahan (Legu Gam dan Festival Teluk Jailolo) ia bersama teman-teman komunitasnya (Komunitas Parlamen Jalanan Maluku Utara) diundang untuk mementaskan teaterikal. 

Saat ini ia dipercayakan sebagai Pembina Komunitas Parlamen Jalanan Maluku Utara (Komunitas Teater) dan pada Desember 2016 ia bergabung di Komsas Simalaba II (sebagai admin)  (Komunitas Sastra Silaturahmi Masyarakat Lampung Barat II), Abi juga tergabung di Komunitas Kita Halmahera dan salah satu anggota Dapur Sastra Jakarta. Karya-karyanya dipublikasikan di media online (www.wartalambar.com, litera.id.com, dan www. Simalaba.com) juga tergabung dalam antologi bersama: Kita Halmahera, Kitab Puisi Penyair Maluku Utara (Garasi Genta, 2017), Embun-Embun Puisi (Perahu Litera, 2017). Dan pernah terbit di Majalah Simalaba (2017), dan Majalah Mutiara Banteng (2017). Selain menulis puisi, ia juga menulis berjumlah naskah teater, di antaranya: (Potret Pendidikan Bermata Uang, Lihat Tanda Tanya Itu, Biarkan Kami Bicara, Indonesiaku Kau Hilang Bentuk Remuk, Membuka Nestapa Yang Hilang), telah dipentaskan pada setiap kegiatan (kampus maupun luar kampus). Kini tinggal di Ternate Utara.

No comments