HEADLINE

Edisi Kamis, 14 September 2017_ PUISI PUISI NURIMAN N BAYAN (Ternate, Maluku Utara)

Redaksi menerima tulisan
Puisi minimal 5 judul, Esai, Cerpen untuk kami Siarkan setiap hari. Semua naskah dalam satu file MS Word dikirim ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com
beri subjek_VERSI ONLINE MAJALAH SIMALABA
(Mohon maaf, laman ini belum dapat memberikan honorium)





PUISI PUISI NURIMAN N BAYAN


IBU

Hujan yang tabah
menyembunyikan
rintiknya.

Ternate, 12 September 2017.


SECANGKIR KOPI CINTA 

Nona, cinta kita ini
semisal kopi rempah rempah
ditaburi coklat, cengkeh, pala, jahe merah 
dan rasanya disempurnakan dengan kayu manis.

Lalu- 

diletakkan di sebuah cangkir
dan engkau meneguk sampai habis
sudah tentu
ada pahit, juga manis
bahkan ada ampasnya.

Ternate, 11 Desember 2016.


BIAR KUAJAK KAU KE HALMAHERA

Vi, jika di pagi petang kau ingin 
menyeduh bergelas-gelas teh manis 
dan menikmati makanan khas buatan ibuku
sambil mendengarkan narasi tanah ingatan 
maka berserahlah-

biar kuajak kau ke Halmahera 
negeri tanah kenangan
kuperlihatkan padamu 
bagaimana cara papa dan mama mendayungkan nasib
mengirimkan kami ke kota kota.

Berserahlah, Vi
biar kuajak kau ke Halmahera
negeri para petani, negeri para pelaut
negeri sungai, negeri ombak, negeri hujan, negeri batu, negeri pasir
negeri mangan, negeri besi, negeri emas
negeri yang menghimpun satuan satuan kecil
dari akar-akar, ke batang batang, ke ranting ranting 
ke daun daun hingga kami berbunga.

Berserahlah, Vi 
biar kuajak kau ke Loloda
negeri kenangan yang hilang dari pandangan
kita akan menapaki jalan panjang Galela
di sana, di ujung Mamuya hingga ke Supu
biar kutanya kepada tetua
apakah Tide-tide  dan Cakalele masih bersorak?

Berserahlah, Vi 
sebab sudah waktunya 
kita bersulang di kala hujan.

Ternate, 10 September 2017.

Catatan:
Tide-tide dan Cakalele: Tarian/Lagu Adat Galela.


KAU BOLEH SAJA MEMINTA WAKTU TUNDUK

Kau boleh saja meminta waktu tunduk pada hasratmu
atau meminta malam melengkapi cerita-cerita palsumu
atau pada apa saja, pada siapa saja
tapi jangan padaku
aku tak punya apa-apa lagi
setelah kuberi kepercayaanku
cintaku, rinduku, dan semua mimpi-mimpi kecilku.

Kau boleh saja meminta waktu tunduk pada hasratmu
atau meminta malam melengkapi cerita-cerita palsumu
atau pada apa saja, pada siapa saja
tapi jangan padaku
aku tak punya apa-apa lagi
selain doa-doa yang tak henti henti aku angkat
agar gelisah dan air mata tak lagi berkelahi
agar engkau bahagia 
meski sejujurnya, telur telur cinta yang kau kemas dulu
sampai kini tak jua menetas
padahal musim sudah berulang kali menjelma petas.

Kau boleh saja meminta waktu tunduk pada bahasamu
atau meminta siang merekam cita-cita besarmu
atau pada apa saja, pada siapa saja
tapi jangan lagi padaku
sebab aku terlampau lelah, sungguh aku lelah
benar benar lelah
mentafsirkan bahasa bahasa rindumu
menanti dekapan hangatmu
ciuman mesramu.

Ti-

akhirnya, puisi pun mengerti
bahwa kau tak benar benar mencintaiku.

Ternate, 08 September 2017.


SUATU BUKIT YANG GUNDUL

Dari jauh, kupandang, ia hijau 
di bahunya pohon pohon tumbuh
sungai sungai mengalir dari punggungnya
kudengar ada riak gembira
dengan riang
tumpah ke laut laut lepas
kulihat perahu perahu berlayar
menepi ke pulau-pulau masa depan
maka kudekati
sebab sejatinya aku ingin tidur di bawah rimbunnya
sambil menulis puisi puisi tepi untuk jadi sebuah penanda.

Kupandang lagi
dari dekat, sangat dekat
dengan seksama
astaga, mataku terbelalak
sebab sejatinya
ia gundul
ia telanjang
tubuhnya yang tadi rimbun
tadinya teduh
begitu banyak cacing
begitu banyak nyamuk
siap melahap darah para betina.

Astagfirirullah
ternyata mataku
tidak hanya menampung puisi
tapi juga ilusi.

Ternate, 08 September 2017.


PENULIS SAJAK TEPI 1

Aku beranjak dari satuan paling kecil
dari hamparan pasir
dari riak riak sungai malar
beringsut ke banyak muara.

Setelah tumpah, setelah melesat
aku hanya ingin kembali 
ke tepi
ke tempat paling sunyi
di mana aku dan kau adalah sendiri.

Ternate, 07 September 2017.

RAHIM IBUMU

Jangan jangan yang kau caci itu
rahim ibumu
tempat dulu engkau tertidur
dan terlahir sebagai anak manusia.

Jangan jangan yang kau caci itu
rahim ibumu
tempat engkau melesat
dan menepi mencari jalan pulang.

Ternate, 08 September 2017.


SETELAH BERKELAHI

Ia menyala 
setelah berkelahi
tapi waktu
membiarkan, ia sedikit terbakar
dalam tungku rasa ngilu.

Aku tak pernah mengajarimu
membakar isyarat
meski bahasa yang kau lumat 
bagai pisau yang mendidih.

Tentu, setelah itu
aku dengan sedikit luka
tapi manusiaku
tak begitu pandai
menyimpan kesumat
maka sejatinya
aku beringsut untuk sekejap
membiarkan hujan tumpah
membunuh mata api dari rahimmu.

Ternate, September 2017.


SAJAK PERNIKAHAN

Basmalah
hai Ti, hai Ti, hai Ti
kunikahkan engkau dengan anak saya bernama kekuasaan
dengan mahar seperangkat kemerdekaan dibayar tunai
setelah kau terima nikahnya 
dan sah di mata Agama
jadilah kau suami dari anakku
dan kelak jadilah ayah dari cucu-cucuku
ajarilah mereka menjadi manusia
jauhkah mereka dari perkelahian
korupsi dan sejenisnya
agar sejarah tidak mengenangmu dalam bahasa paling daki.

Ternate, September 2017.
SEPERTI SEBELUMNYA

Seperti sebelumnya, kau masih saja
menggonta-ganti wajah
padahal sepakat yang kita letakkan di meja itu
baru kemarin aku bacakan.

Jika begini
berapa lama aku sanggup menulis isyarat?
atau-

barangkali kita biarkan waktu menjelma gergaji?

Ternate, September 2017.


INDONESIA

Barangkali lelaki yang kau temui di laut
atau perempuan yang kau temui di kebun
dan anak-anak yang kau temui di kaki terik sepanjang jalan
dengan kaleng dan gitar di tangan itu, Indonesia?
sebab kulihat merah putih  mengikat tubuh mereka
kudengar mereka menyebut-nyebut nama ibu pertiwi.

Ternate, 12 September 2017.



Tentang Penulis

Nuriman N. Bayan, lahir di desa Supu Kec. Loloda Utara Kab. Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara 14 September 1990. Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Khairun Ternate. Ia menyukai puisi sejak menjadi mahasiswa dan hampir setiap kegiatan literasi diundang untuk membaca/mendeklamasikan puisi, beberapa kali kegiatan besar  kedaerahan (Legu Gam dan Festival Teluk Jailolo) ia bersama teman-teman komunitasnya (Komunitas Parlamen Jalanan Maluku Utara) diundang untuk mementaskan teaterikal. 

Saat ini ia dipercayakan sebagai Pembina Komunitas Parlamen Jalanan Maluku Utara (Komunitas Teater) dan pada Desember 2016 ia bergabung di Komsas Simalaba. Abi juga tergabung di Komunitas Kita Halmahera dan salah satu anggota Dapur Sastra Jakarta dan membina salah grup (Komunitas Penulis Tepi) menulis puisi. Karya-karyanya dipublikasikan di media online (www.wartalambar.com, litera.id.com, dan www. Simalaba.com) juga tergabung dalam antologi bersama: Kita Halmahera, Kitab Puisi Penyair Maluku Utara (Garasi Genta, 2017), Embun-Embun Puisi (Perahu Litera, 2017). Dan pernah terbit di Majalah Simalaba (2017), dan Majalah Mutiara Banteng (2017). Selain menulis puisi, ia juga menulis berjumlah naskah teater, di antaranya: (Potret Pendidikan Bermata Uang, Lihat Tanda Tanya Itu, Biarkan Kami Bicara, Indonesiaku Kau Hilang Bentuk Remuk, Membuka Nestapa Yang Hilang), telah dipentaskan pada setiap kegiatan (kampus maupun luar kampus). Kini tinggal di Ternate Utara.

No comments