HEADLINE

Edisi Minggu, 17 September 2017_ Cerpen Farhan al Fuadi (Serang-Banten)_HUJAN DALAM TANDA TANYA

Redaksi menerima tulisan
Puisi minimal 5 judul, Esai, Cerpen untuk kami Siarkan setiap hari. Semua naskah dalam satu file MS Word dikirim ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com
beri subjek_VERSI ONLINE MAJALAH SIMALABA
(Mohon maaf, laman ini belum dapat memberikan honorium)




Cerpen Farhan al Fuadi

HUJAN DALAM TANDA TANYA



Sepanjang bulan Januari-Februari musim hujan menurut BMKG akan mencapai pada puncaknya. Hujan kerap menjadi tema perbincangan di mana-mana, dari obrolan kaki lima, pos kamling, ibu-ibu rumpi, koran, televisi, khotib Jum’at sampai politikus negeri ini. Seakan-akan hujan menjadi persoalan pelik yang tak kunjung ada penyelesaiannya. Jelas saja, hujan kan bagian dari kuasa Tuhan.

Setiap jum’at, khotib selalau mengkhutbahkan kalau hujan itu adalah rahmat sepanjang musim hujan. Aku tak paham bagaimana hujan bisa menjadi rahmat bagiku. Sebaliknya hujan menghadirkan beban berat dua kali lipat dari musim kemarau. Tapi, aku tidak ingin berburuk sangka, anggap saja mereka menghiburku dari mimbar Jum’at agar aku selalu percaya ada kebaikan dari Tuhan untukku.

Rincik hujan di bibir pintu rumah serupa tirai bambu di awal tahun. Begitu fajar menyingsing, beriringan dengan kumandang azan Subuh di corong-corong pengeras suara masjid-masjid, langit sudah sigap menabur butiran-butiran air ke pekarangan rumah. Tentu saja, bagiku yang bekerja sebagai tenaga honor di sebuah SMA, hujan sebuta hari ini menjadi persoalan. Bagaimana bisa berangkat kerja tepat waktu? 

Pagi ini pasti kesiangan lagi. BMKG bagiku tidak hanya meramalkan turunnya hujan tetapi meramalkan juga pengahasilanku akhir bulan ini. Sejak pemerintah provinsi menerapkan sistem gaji dinamis, penghasilan bulananku jadi tidak menentu. Kadang cukup, kadang kurang karena telat datang. Tetapi tidak pernah ada ramalan penghasilanku bertambah sedikt. Maklumlah posisiku hanya guru muda. Pesangon bulananku ditentukan oleh jumlah jam kehadiranku di sekolah.

***

“Bapak belum berangkat?” tiba-tiba saja istriku membangunkan kesadaranku dari lamunan. Secangkir teh manis bersama pisang goreng dan bakwan lengkap dengan sambal kacangnya rupanya sudah mulai dingin di atas meja.

“Yah... mamah ini kayak yang gak tahu saja, itu hujannya belum reda. Bagaimana mau berangkat?” 

Beginilah repotnya hidup pas-pasan. Kendaraan pribadi tidak terbeli, jangankan mobil speda saja, harus mikir-mikir dulu kalau mau beli.

“Ya.. mamah sih sekedar ngingatkan, ini sudah jam setengah delapan, takut kesiangan.” Ujar istriku sampil duduk menemaniku sarapan bersama tiga orang anakku yang masih kecil-kecil.

“Bapak tahu, mah... tapi masa harus memaksakan berangkat, sambil basah kurup kehujanan?” 

Kalau sudah seperti ini sulit bagiku menentukan pilihan. Jarak rumahku dari jalan raya cukup jauh. Jalan desa hanya dilalui ojeg, tidak ada mobil angkutan umum yang mengambil trayek di sini.

“Makanya, Pa, beli mobil dong...” Anakku yang paling besar, usianya sepuluh tahun, ikut meramaikan obrolan aku dan istri.

Yang repot dan dirugikan sebenarnya bukan hanya aku. Tetapi kedua anakku yang masih duduk di bangku sekolah dasar juga ikut terlambat ke sekolah. Hujan memaksa aku dan anak-anakku terlambat berjamaah.

Paling tidak, kalalu hujan sudah mulai rincik kecil-kecil. Aku bersama anak-anak baru memberanikan diri keluar rumah.

***

Sudah tiga minggu hujan di desaku berjadwal subuh sampai pukul delapan. Itu berarti sudah tiga minggu juga aku terlambat cap jempol di mesin absen depan kantor Tata Usaha sekolah. Itu juga berarti sudah tiga minggu kedua anakku tidak mengikuti palajaran pagi. Sepanjang tiga minggu itu pula hatiku bertanya-tanya, berapa honor bulan ini yang aku kantongi? Berapa jam pelajaran juga anak-anakku harus mengejar ketertinggalannya di kelas? 

Tidak sama dengan keluarga lainnya yang tidak pernah bertanya-tanya tentang nasib tiap kali musim hujan tiba. Bagiku nasib sangat ditentukan oleh ukuran waktu yang bisa aku ambil dan jumlah beban kerja yang bisa aku selesaikan. Belum lagi, kalau terjabak banjir di jalan. Jika terjebak banjir, jalanan jadi macet, hatiku akan kembali dihujani tanda tanya, jam berapa bisa sampai di sekolah?

Kalau sudah begini, pasti uang pesangon yang aku kantongi bulan ini hanya setengah anggaran. Itu berarti uangku hanya cukup untuk setengah anggaran keluarga. Bagaimana dengan uang jajan anak-anak, beli susu anak bungsuku, biaya dapur istriku, belum lagi kalau tetangga dan warung tempat istriku belanja bertanya-tanya, kapan hutang bulan ini mau dibayar?

Aku jadi tidak bisa nyaman duduk di kursi kerja, serasa banyak duri. Duduk saja salah, jadi melamun keman-mana, ngobrol-ngobrol terasa menyepelekan beban hidup, cari tambahan tugas, sedang tidak ada. Kalau sudah seperti ini, aku tinggal bertanya-tanya, kapan musim hujan akan berakhir dan aku menjalani hari-hari kerjaku dengan normal?

Kepalaku tiba-tiba menjadi bertambah penat, saat ingat istri di rumah. Pulang dari sekolah pasti dia akan bertanya kepadaku; Bapak ada uang sisa, untuk beli lauk pauk sore ini? Atau pak, bagaimana, Bu Emah sudah nagi hutang, kapan mau bayar? Isi kepalaku menjadi segelap awan mendung hari ini. Hampir tak sanggup menahan kandungan air hujan yang sudah tebal. Sebentar gerimis, lalu melebat dan hujan besar. Tapi aku adalah lak-laki tidak boleh secengeng awan.

***

Tiba-tiba saja ada yang mengetuk-ketuk pintu rumahku sedikit keras. Nadanya mencirikan suasana hati orang di balik daun pintu sedang membawa kesal. Aku belum tiba di rumah. Istriku tengah shalat Ashar. Mendengar pintu diketuk tak henti-henti, kekhusyuannya sedikit buyar. Biasanya ia selalu sempatkan melantunkan lirih doa untuk kami sekeluarga agar dilimpahi rahmat. Kali ini tidak sempat. Ia bergegas memburu pintu tanpa sempat melepas pakaian shalatnya.

“Wa’alaikum salam....” 

Istriku mencoba memberi tanda, kalau di dalam rumah ada pemiliknya. Padahal tamu itu tidak sedikit pun mengucapkan salam, hanya memanggil-manggil.

“Bu Aminah, kapan mau bayar utang ke warung saya?” 

Rupanya yang mengetuk-ketuk pintu dari tadi adalah ibu Emah. Pemilik warung langganan istriku berbelanja kebutuhan dapur.

“Sabar bu, suami saya belum dapat uang. Biasanya juga saya tidak pernah telat melunasi hutang ke Ibu Emah.” Istriku berusaha menenangkan Bu Emah. 

Wajahnya selalu rekah manis, sunyumnya tidak pernah tertinggal. Selalu melukiskan ketenangan pada wajahnya.

“Ia, tapi ini sudah dua minggu penuh ibu Aminah belum melunasi hutang-hutangnya.”

“Yah, sudah nanti kalau bapaknya anak-anak sudah datang, mudah-mudahan ada uang lebih, saya akan bayar dulu seadanya.” 

Aku tahu, walau wajahnya tenang menghadapi orang-orang yang tak kunjung berhenti menagih hutang, hatinya pasti selalu menabung pertanyaan-pertanyaan. Kapan kesulitan ini akan berakhir?

Aku juga sudah hafal, jika tiba di rumah nanti, istriku akan menghujaniku dengan banyak pertanyaan, kapan aku dapet uang? bagaimana cara melunasi hutang-hutang yang sudah banyak? bagaiama lagi caranya menghadarpi tetangga-tetangga yang menagi hutang? Belum lagi, kalau anak-anak punya banyak permintaan, dengan cara apa lagi, harus menghibur mereka?

Sementara aku hanya menjawab dengan sederhana, nanti kalau musim hujan sudah berakhir dan nanti kalau aku sudah kembali bisa bekerja dengan stabil tanpa terlambat karena hujan. Selama hujan terus mengguyur, isi kepalaku akan terus diburu tanda tanya.



Tentang Penulis

Farhan al Fuadi, lahir di Karawang, kini aktif sebagai guru relawan di Yayasan Bhakti Banten Cikeusal-Serang dan anggota Komunitas Sastra Gunung Karang Pandeglang. Aktif menulis ilmiyah dan sastra utamanya puisi. Puisi-puisi karyanya kerap dipublikasikan di Simalaba.com dan Majalah Mutiara Banten. Antologi puisinya yang siap rampung adalah Ke Lain Peristiwa.

No comments