HEADLINE

Edisi Rabu, 06 September 2017_ PUISI PUISI NURIMAN N BAYAN (Ternate, Maluku Utara)

Redaksi menerima tulisan
Puisi minimal 5 judul, Esai, Cerpen, Cersing (Cerita Singkat) untuk kami Siarkan setiap hari. Semua naskah dalam satu file MS Word dikirim ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com
beri subjek_VERSI ONLINE MAJALAH SIMALABA
(Mohon maaf, laman ini belum dapat memberikan honorium)





PUISI PUISI NURIMAN N. BAYAN


TARIAN SUNGAI II

Engkau terlampau 
membuat aku 
melubangi mata sungai dari hulu ini
maka biarlah
ia tumpah ke laut
sampai ombak mengabarimu berita hambar.

Ternate, 28 Februari 2017.


BERJALANLAH DI LETUK TUBUHKU

Berjalanlah sayang
berjalanlah di antara lekuk tubuhku
hingga ke titik titik sepi
selagi kau mampu menghitung jejak
tapi beristrahatlah, sayang 
ketika waktu telah lelah mengendarai jejak kepergianmu.

Ternate, 01 Maret 2017.


SELAIN SEKELUMIT GELISAH

Semenjak siang membuka hijabnya
bersama matahari yang jatuh dari langit 
di matamu tak kulihat apa apa
selain sekelumit gelisah
menari di bawah lampu philips
seperti sudah sejak lama menangisi biji biji kalender
sebab perempuanmu melesat tak juga memberi alasan.

Ternate, 2017.


SESUNGGUHNYA AKU SEPI

Duhai Tuhan-

apalah aku ini
jika tanpa-Mu.

Sesungguhnya aku sepi
butuh sunyi
mengetuk pintu-Mu.

Ternate, 27 Agustus 2017.


SEMACAM GELISAH

Ti, jika kepura-puraan sudah menjadi budaya
berapa lama aku sanggup menahan upaya?
sedangkan langit tidak pernah mengajari kita melipat bahasa
dan engkau paham
bahwa hal yang paling menyakitkan 
adalah sesak dari gelisah yang tak pernah diungkapkan
sementara cinta dan kebenaran 
semacam sepasang kanak kanak yang  berlarian ke senja
dengan riak dan isyarat yang sama.

Ti, sampai kini
aku tidak pernah paham
kepura-puraanmu yang berlebihan selalu.

Ternate, 27 Agustus 2017.


BIARLAH MALAM TERTIDUR

Tenanglah, tenanglah jiwaku 
karena sesungguhnya 
tiap-tiap detikmu yang pulang adalah sejarah
biarlah malam tertidur
dan pena menari
menuliskan cerita kita yang tak pernah direkam angin.

Tenanglah, tenanglah jiwaku
tak perlu lemparkan gelisahmu ke mana-mana
sebab aku tak pernah mengajarimu membidik sesiapa
biarlah, biarlah malam tertidur
dan pena tetap menari
kala kita sedang menyeduh bergelas-gelas cuka.

Ternate, 27 Agustus 2017.


SENJA DI KAKI PANTAI TOBOLOLO

Kupandang engkau dalam balutan kabut
ingin sekali-kali kutidur di dadamu
atau di atas gumpalan awan pagi 
yang berderet-deret di sekujur mata
sambil menunggu matahari tertidur-

mengucapkan bahasa pulang.

Lihatlah ke sini, anak anak ombak menyapu pantai
di tangan kiriku Hiri mengapung
sementara Maitara dan Tidore seperti tertidur
sedangkan di paka-paka ombak 
sampan-sampan cadik tak henti henti menggelinding
semacam gemuruh yang berkecamuk dalam dada.

Di sini, aku menghitung jejak tualang
merebahkan segala ingatan
sambil menyaksikan anak-anak menimba pengetuan 
dan sebagian menendangkan lagu lagu bahagia
satu demi satu menghidupkan kamera hp
bagai kenangan dan sejarah ingin direkam
semacam aku merekam jejak kita
ketika waktu mengantarkan pikiranku
ke halaman halaman yang jauh
tempat kita menulis cerita.

Pantai Tobololo Ternate, 26 Agustus 2017.


KARENA AKU MEMANG LELAKI

Vi, bila kau bertanya apa yang aku pikirkan hari ini
aku tidak berpikir banyak sayang
selain mengabdikan setiaku padamu dalam cinta yang sederhana
karena aku memang lelaki
bukan laki-laki atau lika-liku 
yang lebih sering menumpahkan kata kata basi
tapi akhirnya engkau basah.

Vi, jika kelak kita menyatu
aku tidak meminta banyak
selain sepotong isyarat
agar purnama tertidur di langit yang sama.

Ternate, Agustus 2017.


DENGAN BISMILLAH

Kekasih, aku mengenalmu dengan bismillah
aku mencintaimu dengan bahasa paling hulu
aku merindumu dengan kalimat paling hilir
dan kelak--

aku ingin
kita menyatu 
ke dalam cerita paling Islami.

Ternate, Agustus 2017.


BERBENAHLAH SEBELUM SENJA 

Ti, sudah kubilang kau jangan nakal
tapi kau masih saja nakal
padahal waktu di tubuhmu sudah berangkat jauh
membawa jejakmu ke banyak penafsiran
sehingga kuharap engkau telah dewasa.

Sudah kubilang-kan?
kau jangan nakal
karena angka di tubuhmu ada batasnya
sehingga berkali-kali aku ingatkan
bahwa detik-detik yang terbuang
adalah mimpi-mimpi yang tertunda
bahkan bisa saja hancur
tapi sayangnya, waktu terlampau memilih kesenangan lain
sehingga bahasaku, tak pernah sampai ke dinding batinmu.

Sekarang--

berbenahlah sebelum senja
sebab Tuhan masih membuka setapak jalan pulang.

Ternate, 24 Agustus 2017.


KUCING DAN TIKUS

Untuk menghentikan aksi 
dari rakusnya sekawanan tikus
pak Ti memelihara tiga puluh dua kucing 
sebab berton-ton padi di lumbungnya telah habis.

Pak Ti pun melepaskan kucing kucingnya
untuk berjaga-jaga di setiap sudut gubuk
tetapi setelah menangkap tikus 
entah kenapa?
kucing kucing pun menjelma tikus
pak Ti menyaksikan sambil terheran-heran
lalu beberapa saat kemudian 
kata orang orang ia pun menjadi tikus.

Ternate, 26 April 2017.



BOCAH BOCAH HEBAT

Hebat benar, bocah bocah sekolah ini
masih TK 
tapi penampilan seperti pejabat
dilengkapi dasi dan celana penuh saku
dengan dombet penuh ATM
bahkan sudah pandai menyetir mobil
sehingga mereka lebih banyak berkeliaran
daripada mengikuti proses belajar mengajar
padahal tugas mereka menumpuk di meja belajar.

Sudah tentu, bapak dan ibu guru mesti sabar
menghadapi sikap mereka
karena nama juga bocah, tak boleh dimarahi
kalau dimarahi pasti hukum angkat bicara.

Ternate, 2017.


SEBELUM ENGKAU MENJADI BIJAK

Aku harap, engkau tidak bertanya lagi
berapa banyak luka tumbuh di hulu dada
sebab engkau terlampau sibuk menghitung jejak
dan jadi pelupa 
berapa banyak air mata yang telah aku rebus
di tiap tiap musim.

Dada ini cukup kenyang menampung angin
maka simpan dulu, berjumlah awan di langit langitmu
sebelum engkau menjadi bijak seusai mengudara.

Ternate, 28 Maret 2017.


ISYARAT HARI INI

Hari ini, aku tidak ingin membidik sesiapa
selain merapikan hasratku yang mulai kusut
sebab kutahu, engkau pernah terluka
akibat kenakalan
dan aku
tak ingin menjadi ia
tiap saat mengajakmu mengetuk pintu sunyi
tapi keinginannya bagai setan.

Ya, ia-
si angin tembaga yang berulang kali menghantam pintu rumahmu
bahkan dengan otak di belakang
bibirnya selalu mengucapkan bahasa pura-pura
sesungguhnya aku muak
dengannya
sebab sikapnya
bagai api dalam tungku.

Ternate, 27 Agustus 2017.




Tentang Penulis
Nuriman N. Bayan, lahir di desa Supu Kec. Loloda Utara Kab. Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara 14 September 1990. Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Khairun Ternate. Ia menyukai (menulis) puisi sejak menjadi mahasiswa dan hampir setiap kegiatan literasi ia diundang untuk membaca/mendeklamasikan puisi dan beberapa kali kegiatan besar  kedaerahan (Legu Gam dan Festival Teluk Jailolo) ia bersama teman-teman komunitasnya (Komunitas Parlamen Jalanan Maluku Utara) diundang untuk mementaskan teaterikal. 

Saat ini ia dipercayakan sebagai Pembina Komunitas Parlamen Jalanan Maluku Utara (Komunitas Teater) dan pada Desember 2016 ia bergabung di Komsas Simalaba II (sebagai admin)  (Komunitas Sastra Silaturahmi Masyarakat Lampung Barat II), Abi juga tergabung di Komunitas Kita Halmahera dan salah satu anggota Dapur Sastra Jakarta. Karya-karyanya dipublikasikan di media online (www.wartalambar.com, litera.id.com, dan www. Simalaba.com) juga tergabung dalam antologi bersama: Kita Halmahera, Kitab Puisi Penyair Maluku Utara (Garasi Genta, 2017), Embun-Embun Puisi (Perahu Litera, 2017). Dan pernah terbit di Majalah Simalaba (2017), dan Majalah Mutiara Banteng (2017). Selain menulis puisi, ia juga menulis berjumlah naskah teater, di antaranya: (Potret Pendidikan Bermata Uang, Lihat Tanda Tanya Itu, Biarkan Kami Bicara, Indonesiaku Kau Hilang Bentuk Remuk, Membuka Nestapa Yang Hilang), telah dipentaskan pada setiap kegiatan (kampus maupun luar kampus). Kini tinggal di Ternate Utara.

No comments