HEADLINE

Edisi Sabtu, 09 September 2017_ Cerpen NASRUL M RIZAL (Garut, Jawa Barat)_SAMPAI KAPAN AKU HARUS BERTAHAN

Redaksi menerima tulisan
Puisi minimal 5 judul, Esai, Cerpen, Cersing (Cerita Singkat) untuk kami Siarkan setiap hari. Semua naskah dalam satu file MS Word dikirim ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com
beri subjek_VERSI ONLINE MAJALAH SIMALABA
(Mohon maaf, laman ini belum dapat memberikan honorium)




Cerpen Nasrul M. Rizal

SAMPAI KAPAN AKU HARUS BERTAHAN



Apakah hubungan kita akan berakhir seperti ini? Setelah hari-hari penuh bahagia kita lewati. Setelah janji-janji masa depan kita ikrarkan. Setelah. Setelah aku memberikan semua yang kupunya untukmu. Lihat aku di sini, merenung, memikirkan kembali apa yang sebenarnya terjadi. Mengeja, barangkali akulah penyebab kau membagi hati. Lantas apa yang sedang kau lakukan? Berbahagia dengan perempuan sialan itu? Membodohinya dengan janji-janji? Atau basa-basi melapalkan cinta sejati?
Aku memeluk erat lutut. Menatap foto kita. Harusnya aku tersenyum, seperti senyuman yang terpati di foto itu. Tapi, setelah kau lukai hati dan perasaan ini -untuk kesekian kali. Masih bisakah aku tersenyum? Kau tahu, Rama, aku kehilangan senyum itu lima bulan lalu. Saat perempuan sialan itu hadir di antara kita.

***

“Kinanti, maaf minggu ini aku tidak bisa menemani ke pernikahan saudaramu.”

“Maaf tadi ibuku telepon.”

“Maaf kuota aku habis.”

“Maaf Hpku lowbat.”

“Kamu salah paham, Kinanti. Perempuan itu sepupuku. Kebetulan dia di Bandung.”

Kau membela diri. Membuat berbagai alasan yang –jika dipikir-pikir lagi– tidak masuk akal. Tapi entah mengapa, aku bisa memberikan maaf padamu. Padahal sahabatku meyakinkan kalau yang dilihat mereka benar adanya. Kau jalan dengan perempuan sialan itu. Menikmati cerahnya hari Minggu. Bodohnya aku lebih mempercayaimu, dibandingkan sahabatku sendiri. Bebal, meski sahabatku tidak henti-hentinya bersumpah, kau selingkuh dengan perempuan sialan itu. Mungkin karena cinta, padamu tulus dari dasar hatiku. Hingga hilang akal sehatku.

Tak lama kemudian hal itu terjadi lagi. Kau tidak menepati janji. Hilang bak ditelan bumi.

“Sayang, kamu di mana? Acaranya sebentar lagi dimulai.” Aku mengirimkan pesan itu.

Lima menit berlalu, hp tak kunjung berbunyi.
Sepuluh menit berlalu, aku mulai gelisah. Kembali kukirim pesan, “Sayang, kamu di mana? Kejebak macet ya?”

Masih tidak ada balasan.

Aku tidak sabar. Meneleponmu. Sial yang menjawab seorang perempuan. Aku memastikan. Mencoba lagi. Hasilnya tetap sama. Sepuluh kali aku mengulanginya, yang menjawab tetap saja seorang perempuan. Halus ia berkata, “Maaf, nomor yang Anda tuju tidak dapat menjawab panggilan. Cobalah beberapa saat lagi.” Wajahku terlipat.

Ditemani rasa kesal dan kecewa aku datang ke acara tersebut. Acara yang kutunggu-tunggu dari jauh hari. Bertemu dengan penulis favoritku. Penulis yang kata-katanya sering kau ucapkan untuk meluluhkan hatiku. Penulis yang selalu kau bahas saat mendekatiku. Sial. Kesempatan emas itu sirna. Acara tersebut telah berakhir, tepat ketika aku ngos-ngosan tiba di sana.

Kekecewaanku bertambah. Lagi-lagi sahabatku melapor. Katanya ia melihatmu bersama perempuan sialan itu –lagi. Menikmati kebersamaan di kedai kopi. Kabar itu benar-benar pahit. Mengalahkan pahitnya kopi di bibirmu. Aku segera mengirim pesan kesemua sosial media milikmu. Puluhan kali meneleponmu. Dan lagi-lagi tak ada satu pun jawaban yang kuperoleh darimu. Oh Tuhan, kenapa menjadi seperti ini?

Esok harinya kita bertemu di tempat biasa, kedai kopi Jantung Kota. Kau memelas. Meminta maaf kalau kemarin ada sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan.

“Maaf, Kinanti, kemarin aku nganter ibu ke dokter… Asma ibu kambuh… Beneran Kinanti aku nggak bohong… Teman-temanmu yang bohong. Mereka tidak suka dengan hubungan kita… Beneran sayang, aku nggak bohong.”

Aku memperlihatkan fotomu dengan perempuan sialan itu. “Apalagi yang mau kamu ucapkan?” air mataku perlahan berjatuhan.

Kau mematung. Wajahmu pucat, Rama.

“Kamu mau bilang kalau foto ini editan? Mau bilang temen-temenku bohong?” Tak terhitung air mata yang berjatuhan dari mataku.

Lengang beberapa saat. Orang-orang berlalu lalang di kedai kopi ternyaman di kota ini. Berbagi canda dan bertukar tawa. Sedangkan aku? Terkungkung oleh luka.

Tiga menit berlalu. Kau masih membisu. Apakah kau sedang memikirkan alasan terbaik untuk berkelit?

“Maaf…” hanya itu yang kau ucapkan.

Air mata semakin banyak berguguran dari mataku. Bergegas aku pergi, menghiraukan rengekanmu.

Tidak habis akal kau meminta maaf padaku. Menyalahkan perempuan sialan itu. Merangkai alasan, bilang, dia baru putus dengan pacaranya. Takut kalau dia bunuh diri. Berusaha menghiburnya, jadilah kalian tertawa. Terlihat bahagia. Rama, kalau saja aku tidak mencintaimu, sudah kurobek bibirmu itu. Bodoh.

Hari demi hari berganti. Kau masih berusaha untuk meminta maaf. Menerorku dengan ratusan pesan. Menuggu di depan pintu kosan yang tertutup rapat. Kenapa kau melakukan itu, Rama? Pergi saja. Temui perempuan sialan itu. Hibur dia agar tidak bunuh diri. Lupakan perasaanku aku, yang terlanjur kau bunuh. Pergi Rama. Aku ingin sendiri.

Satu minggu berlalu. Kau masih melakukan hal yang sama. Kenapa kau menghabiskan waktu untuk melakukannya, bukankah minggu kemarin kau menghabiskan waktumu bersama perempuan sialan itu, Rama?

Bodoh. Aku memaki diriku. Menemui lelaki bodoh. Luluh semua kesal itu. Kau memelukku, berbisik, tulus meminta maaf. Aku memberimu maaf dan menangis di pelukanmu. Kenapa? Mungkin karena, aku, berharap kau dapat mengerti cintaku.

Hubungan kita membaik. Sering bertemu untuk mengobati rindu. Meskipun pada akhirnya, pertemuan itu meleharikan rindu yang baru. Tidak bosan kita berbagi cerita. Walau cerita itu selalu sama. Tentang kau yang pucat pasi meminta jawaban dariku. Tentang aku yang tak kuasa menahan tawa melihat kekonyolanmu. Tentang kebersamaan kita yang tak terasa sudah ratusan hari lamanya.

***

Rama, katakan padaku. Apakah hari-hari yang kita lewati itu menyenangkan? Apakah janji-janji yang kau ucapkan itu bisa ditepati? Apakah. Apakah kau benar-benar setia? Ingat Rama! Kau yang meminta hatiku. Kau yang membujuku untuk menikmati pahit-manis hidup ini bersama. Kau yang menawariku masa depan itu. Ingat pula Rama! Kubertahan walau kau selalu menyakiti. Kubertahan hingga air mataku tak dapat menetes dan habis terurai. Kau tanya kenapa aku melakukannya? Bodoh Rama. Kau bodoh. Kenapa? Karena CINTA, padamu tulus dari dasar hatiku. Kenapa? Karena AKU, berharap kau dapat mengerti cintaku. Memahami bagaimana pengorbananku selama ini. 

Rama, jawab pertanyaanku. Sampai kapan aku harus bertahan? Sampai kapan cinta ini akan selalu memaafkan? Sampai kapan aku percaya nanti engkau mengerti bila cintaku takkan mati? Apakah aku harus tetap bertahan, setelah kau menyayat perasaanku, meremukkan kepercayaanku dan menghancurkan hatiku? Apakah cinta ini akan selalu memaafkan, di saat kau menghianati janji-janji itu. Di saat kau mengulangi kebodohanmu itu. Jawab Rama. Jawab! Dan apakah aku masih harus percaya, kau akan mengerti perihal cintaku ini? Setelah perempuan sialan itu melabrakku. Menyumpahiku tidak tahu diri.

Kenapa kau diam saja Rama? bukankah biasanya berkelit kau, merangkai berbagai alasan. Kenapa kau tidak bilang, perempuan itu hamil oleh kekasihnya, mereka putus, kau hanya korban ketidaktahuan. Atau kau bilang, alat tes kehamilan itu palsu. Atau. Atau kau mengakui perempuan itu sebatas wanita jalang yang kau sewa. Bodoh Rama. Bodoh. Kau lelaki paling bodoh. Aku yang mencintaimu, kau sia-siakan. Aku yang menyayangimu, kau abaikan.

Rama, sekali lagi, sampai kapan aku harus BERTAHAN?

Bandung, 27/08/2017

*cerita ini terinspirasi dari lagu “Bertahan” yang dinyanyikan oleh Rama Band. Kalimat yang dimiringkan merupakan lirik lagu tersebut. 


Tentang Penulis

Lelaki jangkung yang memiliki nama lengkap Nasrul Muhamad Rizal ini, lahir tanggal 27 Agustus 1995 di Garut. Saat ini sedang berjuang menjawab pertanyaan “Kapan lulus?” dan “Kapan nikah?”. Jika tertarik untuk membantu menjawab “Kapan Nikah?”, bisa menyapa ia lewat email mr.nasrul19@gmail.com atau facebook; Nasrul Muhamad Rizal

No comments