HEADLINE

Edisi Selasa, 12 September 2017_ PUISI PUISI SARASWATI (Kerawang, Jawa Barat)

Redaksi menerima tulisan
Puisi minimal 5 judul, Esai, Cerpen untuk kami Siarkan setiap hari. Semua naskah dalam satu file MS Word dikirim ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com
beri subjek_VERSI ONLINE MAJALAH SIMALABA
(Mohon maaf, laman ini belum dapat memberikan honorium)




PUISI PUISI SARASWATI


IHWAL KESAKTIAN

Menelisik pintu rahasia
di balik rami
mengendap bola matamu
dalam saku.

Kadung berjanji
selepas malam pergi
menjadi tumpahan
bubuk kopi dalam
dua cangkir retak.

Keningmu, serupa kawah
keluar biji matanya
menyembulkan pijar
kesaktian hancur
di empat kaki kursi
tempat kepala kosong
berlubang dipenuhi belukar.

Sebentar diam
kala musim bergidik pada
dedaunan hingga lapuk.
Lantas
meraup sebanyak petang
kau bawa pulang
antara tangan di balik bukit.

Karawang, 06 September 2017.


MENIKAI WAKTU


Jika ada yang kau lihat.
Dariku, dari kekacauan yang berdiri
di atas kemungkinan yang pernah kita terjemahkan.

Aku tak sedang ingin kasmaran, mendulang kata pujangga lalu menari atasnama
cinta
    hanya akan mengulur waktu yang pernah kita sepakati tuk saling terjaga.

Ada yang aku baca dari arah angin.
Lalu kita mengira batas kesendirian
yang semakin menyadarkan
kita hanya  sedang menyayat nadi
membiarkan darahnya mengalir menenggelamkan bayang-bayang kaki.

Awalnya separuh hujan kutadah
meredam kegelisahan
menimbang arti sabar yang mesti berpulang.
Namun badai tak kunjung reda
dan aku tumpah sebagai bencana
bergemuruh sebagai airmata.

Kawah-kawah kian berkabut
Ranting mengelupas menjadi serpihan
dan udara enggan masuk paru-paru
di awal senja
melalui sebuah tikai
yang mengkhianati kesepakatan.

Karawang, 31 Agustus 2017.


SUNGAI-SUNGAI MINYAK
(CITARUM)


Ialah kuburan yang
mengalirkan cerita lampau
tentang orang-orang mati mengarus sungai, cerita akan lembutnya gemericik air yang memenuhi kantung perut.

Kini, aroma keserakahan yang menukar masa depan.
Sesak limbah di tenggorokan
mencoba bernegosiasi dengan
sebau pekat.
Kami hanya akan menjadi lembah-lembah retak, yang dialiri minyak.
Dan perdana menteri dengan karat-karat yang mengkilat.

Kemana pergi rawa-rawa, juga berlian sepanjang lembah?
Cerita orang-orang mati akan tergadai, patah tak berarti karena
kami serak meminum sungai-sungai minyak.

Karawang, 30 Agustus 2017.



TUAN YANG PELUPA


Pakaian kita dipinjam,nak.
Dan kita menggigil di sepanjang malam
berharap tuan tak lupa doa sebelum tidur
hingga bermunajat kepada Tuhannya untuk tak cepat lupa.

Tanah-tanah kemarau
sumur kita kering,nak.
Apa tuan lupa meminta hujan hari ini?
Ataukah awan tak ingin beranjak sampai bukit?
Aku lupa tak ada bukit hari ini.

Nak, asmamu kambuh lagi?
Apa tuan lupa mengecilkan api di hutan belakang desa?
Terlalu terik matahari tanpa pohon-pohon hari ini.

Cepat kita bergegas, nak.
Sebelum bahu kita menjadi beton di atas rawa karena
mungkin tuan lupa untuk bermunajat kepada Tuhannya.


Karawang, 30 Agustus 2017.


MENGANAK SUNGAI

Kepala saling menunduk
duduk bersila
tasbih
semakin kental
mabuk kepayang.

Sebagian doa bersayap
juga ada hati yang mendung
menjadi hujan
di balik bukit paling barat.

Ada yang lesap bersama gumam doa.
Ia berdenyut mengaruskan kata.

Lantas--
ingin kukembali menjadi anak sungai
menjadi riak dalam kalam-Mu.

Karawang, 24 Agustus 2017.


TASBIH SEMESTA

Jika diamku adalah puisi
dan dada ini lautan
yang bergejolak.

Angin tak kan mampu menerka
kemana kakinya akan pergi
meski purnama itu pertanda.

Akan pasang dan surut
pula teka-teki
yang berusaha gelisah.

Tabir selapis laut
Segenggam gunung
dan sehelai angkasa.

Hanya akan menyisakan
satu puisi yang menetes
tentang semesta yang bertasbih.

Karawang, 28 Agustus 2017.


KAKEK YANG KUSEBUT MALAIKAT

Kek, aku lihat pelangi mengitari.
Ia tepat di punggungmu
direkat tulang belikat yang kering, kulit tersipuh tembaga.

Ada senyum di raut keriput
dengan tangan mengepal sekantung doa-doa surga.
Tak ada keluh atas peluh.

Siang ini, aku rasa malaikat begitu nyata.
Bukan dua sayap yang aku lihat darimu, melainkan
sebuah karung dan sepotong besi di tangan.

Karawang, 24 Agustus 2017.


TUJUH TAHUN

Ingin kusulam
segala apa yang merajam
namamu

tentang lukisan senja
yang berwarna marun
dan matahari yang lupa pulang.

Terakhir kali, di tugu muda
saat sepenggal nafas masih kita
bagi dengan cerita

akan lelucon hambar
tawa kita tenggelam
begitu cepat.

Tujuh tahun berlalu
dan detak jantungmu
tak dapat lagi kutebak.

Karawang, 3 September 2017.




Tentang penulis
Saraswati, lahir di Karawang. Memulai belajar sastra dari Komsas Assalam (berganti nama menjadi Pena santri) Ponpes Modern Darusalam Pandeglang, kini bergiat di Komsas Gunung karang Pandeglang, juga Komsas Simalaba. Beberapa puisi telah dimuat media online, seperti Wartalambar dan Majalah Simalaba.


No comments