HEADLINE

Cerpen Zainul Muttaqin_MUSLIHAT IBLIS_(Dimuat Majalah Simalaba Versi Cetak, 30 September 2017)






Cerpen Zainul Muttaqin

MUSLIHAT IBLIS

Tangis Simar pecah setelah hujan berhenti merayap di kaca jendela. Isaknya bergemuruh. Terdengar bersahutan dengan suara ombak yang gaduh. Jarum jam terdengar lelah berdetak di atas dinding. Angin tak mau bergerak untuk sekadar mengecup rambut Simar yang digerai. Ia sambil menutup telinga, air matanya terus menggelinding ke lantai. Tak lagi sanggup gendang telinganya mendengar ocehan para tetangga yang menyemburkan api kemarahan.

“Anak pelacur itu berbahaya.”

“Bahaya bagaimana?”

“Jika ia masih terus disini bisa-bisa suami kita terbujuk rayuannya.”

“Kalau begitu usir saja perempuan jalang itu!”

“Perempuan najis!”

Simar memejamkan matanya yang telah basah. Ia sungguh tidak mengira, bagaimana mungkin para tetangga senantiasa menabur kebencian padanya, dan lebih-lebih selalu mengutuknya sebagai perempuan jalang. Mendadak Simar dipaksa mengingat ibunya yang keburu meninggal di pagi yang teramat dingin kala itu. Isi kepala Simar terus melacak, apa sebab tetangganya menyemburkan api dendam yang terus menyala-nyala beringas? 

Angin gusar mengusik dedaunan. Simar mulai dapat menandai dari mana api kemarahan tetangganya itu dinyalakan. Ia dengar desas-desus yang menjalar dari mulut tetangganya. Menurut salah satu tetangga ada peristiwa yang tak bisa dilupakan. Bahkan sampai ibu Simar tersebut dicincang habis-habisan di alam kubur, kejadian demi kejadian itu akan selalu diingatnya dengan dada berkobar dan amarah yang mengambang oleh para tetangga.

Ceritanya seperti ini: ibu Simar itu nyaris dilempar keluar kampung. Para tetangga berdiri angkuh di depan rumah kala itu. Ia tengah mengandung Simar ketika peristiwa menegangkan itu terjadi. Amarah telah mengambang di ambang dada orang-orang yang kesemuanya perempuan. Awan bergelantungan di permukaan langit. Para tetangga berteriak lantang sampai angin berhenti di atas ubun-ubun kepala.

“Dengan siapa perempuan itu hamil? Jangan-jangan ia tidur dengan salah satu suami kita.”

“Perempuan jalang! Keluar kau!”

“Pergilah! Sebelum kami seret kau keluar dari kampung ini!”

Ia tak membuka pintu yang digedor terus menerus. Para tetangga itu tak lagi sanggup melihat wajah Sari. Keringat dingin mengguyur tubuhnya. Para tetangga itu berprasangka, Sari biang keladi dibalik kendurnya gairah suami mereka di atas ranjang. Perempuan-perempuan itu mendengar desis suaminya menyebut nama Sari berulang-ulang menjelang tidur sambil menggelinjang erotis.  

Laki-laki mana yang tak terperosok kedalam pelukan Sari. Pantatnya melengkung seumpama baskom. Parfum bercampur aroma tubuhnya menelusup ke liang hidung mereka saat dilihatnya perempuan mulus itu berjalan di depan mata yang tiba-tiba terbelalak. Angin sedang nakal menyingkap rok Sari hingga nyaris terpampang bunga yang tumbuh di selangkangannya.

Pintu dibanting ke lantai. Gigil makin mencekam sekujur tubuh Sari saat dilihatnya orang-orang itu merangsek masuk. Guru Bahri tergopoh-gopoh menyelinap. Ia berdiri di hadapan Sari yang tengah bersedekap ketakutan. Perempuan-perempuan itu mengumbar amarah. Mata mereka nanar, meradang, siap menerkam mangsa. Guru Bahri berdiri setenang telaga. Ia mengimbangi kemarahan mereka dengan senyum simpul yang lepas dari bibirnya.

“Apa yang ingin kalian lakukan?” Guru Bahri itu memandangi wajah perempuan-perempuan kumal itu satu-satu.

“Jangan halangi kami. Biar kami kami lempar perempuan jalang ini!”

“Apakah Sari berbuat salah sampai kalian berbuat macam orang tak beragama?”

“Perempuan itu menodai kesucian kampung. Dan ia juga yang mengganggu suami kami.”

“Contoh seperti apa yang kalian anggap Sari menodai kampung? Dan juga bukan Sari yang menggoda suami kalian, melainkan suami kalian lah yang tergoda dengan Sari. Sebaiknya berdandanlah secantik mungkin agar suami kalian betah di rumah. Tidak selalu pakai daster kumal macam ini.”

“Jangan-jangan Guru pernah tidur dengan Sari sampai sekuat tenaga membelanya.”

“Astagfirullah muslihat iblis seperti apa yang telah memperdayamu. Begitukah caramu sebagai orang beragama menuduhku. Hati-hati lidamu adalah pisau bagi dirimu sendiri. Pulanglah!” suara Guru Bahri terdengar menghentak saat sampai di telinga perempuan-perempuan dekil itu. Ombak tak berhenti berdebur dari utara. Mereka pulang satu demi satu. 

***

Saat itu Simar, anak perempuan Sari tersebut berusia tujuh belas tahun. Gelagat inilah yang makin kentara dirasakan Simar saat dilihatnya ibu berdandan di depan cermin hari itu. Lekukan tubuhnya menembus baju yang dikenakan. Lipstik merah tebal menggantung di kedua bibirnya. Malam memanjat pelan-pelan. Aroma parfum menguar di udara, melayang-layang di atas ubun-ubun ibu. Simar tak bisa menyangkal kecantikan ibunya luar biasa memikat yang kini diwariskan pada dirinya.

“Siapa ayahku dan dimana kini ia berada? Mengapa aku tak pernah tahu seperti apa rupa ayahku?” Simar mengumpulkan nyali untuk bertanya. Ibunya menoleh. Ia melotot berang.

“Apa penting kau tahu ayahmu. Tak usahlah kau banyak tanya!” Sari meradang. Degup jantung Simar berdetak gugup.

“Apa salah jika aku ingin tahu siapa ayahku.”

“Kau benar-benar ingin tahu?” suara ibu setengah membentak. Cahaya mata Simar redup. Ia hanya bisa menganggukkan kepala.

“Aku sendiri tidak tahu siapa ayahmu. Aku tidak tahu sperma laki-laki mana yang telah mampu membuahi rahimku waktu itu. Aku terlalu laris. Bisa jadi kau perpaduan dari semua sperma laki-laki yang pernah tidur denganku. Apa kau sudah puas! Hah!” Suara ibu meledak di udara. Simar limbung di atas ranjang. Ia tidak bicara apa-apa lagi. Pintu dibanting oleh ibu. Simar terengah-engah. Ia sempat tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Tangisnya pecah disusul hujan yang berdebam-debam di luar rumah kala itu.

***

“Anak dan ibu pasti sama saja!” tetangganya mengumpat. Simar nyatanya enggan keluar rumah. Namun apalah daya. Ia terpaksa keluar untuk membeli sayur-sayuran di pasar, dekat dengan rumahnya. Orang-orang melihatnya ganjil dari ujung rambut hingga tumit kakinya. Tak bisa ia sembunyikan detak jantungnya yang terdengar semrawut. Simar berkesimpulan: kebencian orang-orang itu disebabkan dirinya lahir dari rahim seorang pelacur. Buru-buru Simar pulang. Ia terus bergegas. Tak lagi peduli dengan ocehan orang-orang di pasar yang makin ganas merobek hatinya. 

Ia melempar tubuhnya ke atas ranjang. Matahari tegak di atas rumah. Angin berhenti bergerak di pinggir jendela. Tangisnya pecah. Suaranya tersendat-sendat. Pada kondisi seperti ini ia ingin mengutuk apa saja yang ada dalam rumah, termasuk seekor kucing yang lelap di sampingnya. Akan tetapi, apalah guna mengutuk. Kemurkaan para tetangga tak mungkin padam sebelum perempuan-perempuan itu berhasil mencabut nyawa Simar. 

***

Walau Sari telah lama meninggal. Tak serta merta kebencian para tetangga –yang semuanya perempuan– ikut terkubur bersama jenazah Sari di penghujung November yang gigil kala itu. Mereka kini menyemburkan api amarahnya pada Simar, anak gadis Sari satu-satunya. Menurut mereka tak ada beda antara Simar dengan ibunya. Kelak Simar akan jadi pelacur seperti ibunya terdahulu. Namun kekhawatiran itu tak terbukti hingga Simar sekarang berusia dua puluh satu tahun. Justru ia tumbuh sebagai gadis alim: sembahyang lima kali dalam sehari.

Langit sedang gerimis. Tetapi udara membara di atas kepala. Mereka sedang menyeret Simar. Ia menjerit sejadi-jadinya sampai pita suaranya nyaris putus. Tubuh Simar diikat pada sebatang pohon tua. Tak ada angin yang bergerak. Mereka membakar tumpukan kayu melingkar dekat Simar yang tengah terpekur. Tubuh Simar ditelan api yang merambat pelan-pelan ke sekujur tubuhnya. Mereka melihat adegan sadis itu dengan tersenyum penuh kemenangan.

“Mampus kau jalang!” Terdengar jeritan Simar menyayat gendang telinga. Tak ada satu pun yang hirau. Mereka malah melempari kayu bakar lagi. Api itu kian membesar, menyala penuh keangkuhan. Guru Bahri muncul tiba-tiba. Guru ngaji itu datang terengah-engah. Ia tercengang. Tak sanggup menembus nyala api yang makin meradang. Guru Bahri melihat wajah perempuan-perempuan itu –tetangga Simar- yang berdiri bengis di hadapannya.

“Kalian benar-benar biadab! Dosa apa yang telah Simar lakukan sehingga kalian berbuat macam iblis seperti ini!” Guru Bahri marah besar. Lelaki renta itu tak lagi dapat membayangkan, bagaimana tubuh Simar kini hangus terbakar, dan bagaimana rasa sakit yang mencengkeramnya di dalam kobaran api itu.

“Kami muak dengan perempuan jalang seperti dia!”

“Apa kau lihat sendiri ia pernah melacurkan dirinya?”

“Ibunya pelacur besar. Kelak ia pasti jadi pelacur. Kami tak mau kampung ini kembali ternoda. Terlebih kami tak mau suami kita tergoda bujuk rayu perempuan jalang macam Simar itu!”

“Dari rahim siapapun, anak itu lahir tanpa noda. Inikah yang kalian sebut orang-orang beragama? Kalian sudah terperdaya muslihat iblis. Mudah menyebut kotor seseorang yang nyatanya seagama dengan kalian. Apalagi dengan orang yang beda keyakinan. Kita belum tentu lebih baik dari pelacur sekalipun!”

“Tidak! Guru Bahri yang nyata-nyata terperdaya muslihat iblis, sampai berani membela perempuan jalang ini. Dulu ibunya yang kau bela. Apa sebenarnya Guru sudah pernah tidur juga dengan Simar ini.” Guru Bahri tak berkata apa-apa, kecuali ia mendesah ke udara. Iblis benar-benar telah menyusupi raga orang-orang yang berdiri seangkuh bara di hadapannya.

Orang-orang itu seketika terkesiap dan ternganga. Guru Bahri mundur satu langkah. Mereka tak dapat percaya dengan apa yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri. Lutut mereka bergeletar hebat tatkala dilihatnya Simar muncul dari balik api dengan raut muka berseri-seri. Ia menebar senyum. Api itu masih menyala. Tetapi Simar melangkah tenang keluar dari kobaran api yang membakar udara. Mereka bergidik, termasuk Guru Bahri. Satu persatu mereka lari terbirit-birit. Guru Bahri beku di atas sandal jepit yang dikenakannya. Ia merasakan aroma wangi menguar dari mulut Simar.

“Bagaimana mungkin?” tanya Guru Bahri yang suaranya lebih mirip desis tipis. Lelaki setengah abad itu tertegun. Isi kepalanya tak mampu berpikir, bagaimana api itu tak sedikit pun merobek kulit perempuan muda di dekatnya itu. 

“Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah.” Simar hanya tersenyum liris melihat Guru Bahri yang masih tercengang setengah tak percaya. 


Pulau Garam, 2017





Tentang Penulis

Zainul Muttaqin Lahir di Sumenep Madura 18 November 1991. Cerpen dan Puisinya tersiar di sejumlah media nasional dan lokal. Seperti; Jurnal Nasional. Femina. Nova. Republika. Suara Merdeka. Padang Ekspres, Sumut Pos, Radar Lampung, Kuntum. Almadina. Joglo Semar. Banjarmasin Post. Merapi. Radar Surabaya. Kabar Madura. Suara Madura  Koran Madura dll. Salah satu penulis dalam antologi cerpen; Dari Jendela yang Terbuka (2013) Perempuan dan Bunga-bunga (2014).Gisaeng (2015) Tinggal di Jl. Asta Garincang. Dusun Garincang. Rt 02 Rw 01. Desa Batang-batang Laok. Kecamatan Batang-batang. Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur

No comments