HEADLINE

Cerpen Kakanda Redi (Kalimantan Barat)_SURAT MUSIM PELURU

Redaksi menerima tulisan

Puisi minimal 5 judul, Esai, Cerpen untuk kami Siarkan setiap hari. Semua naskah dalam satu file MS Word dikirim ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com

beri subjek_VERSI ONLINE

(Mohon maaf, laman ini belum dapat memberikan honorium)



Cerpen Kakanda Redi

SURAT MUSIM PELURU



Oktober 1945
Malam beranjak pelan. Menebar gelap gulita. Pekat. Senyap. Dusun kecil ini seperti mati. Tak berpenghuni. Tak satupun rumah yang tampak bercahaya. Pelita dipadamkan. Radio di rumah-rumah warga dimatikan. Sungguh keadaan yang mencekam. Penuh ketakutan. Sementara di kejauhan, peluru-peluru bermuntahan. Berdesingan. Sesekali terdengar ledakan meriam.

Tak banyak penduduk yang masih bertahan. Sebagian besar telah membentuk rombongan. Mereka mengungsi meninggalkan dusun, harta dan benda, menuju ke bukit-bukit, mencari tempat perlindungan. Mencari daerah yang aman dari desingan peluru, dari ledakan meriam. Yang masih bertahan hanyalah pemuda-pemuda yang memiliki tekad sekeras baja. Juga beberapa manula yang pasrah pada keadaan.

“Sebaiknya kau matikan pelitamu itu, Jeng. Bahaya. Ngundang penjajah itu namanya.” sebuah suara dikesunyian, mengalun pelan dari sebuah rumah yang masih menampakkan tanda-tanda adanya kehidupan.

Ajeng, perempuan yang dimaksud oleh suara yang lembut tadi, tak bergerak. Pelita masih menyala, meliuk-liuk diterpa angin malam yang menerobos lewat celah-celah dinding bambu. Sebentar tadi pelita itu memang sudah dimatikan. Tapi Ajeng menyalakannya lagi. Membuat ruangan berpendar. Beberapa benda menciptakan bayang-bayang samar. Bergerak kesana-kemari. Seiring liukan nyala pelita.

“Slamet akan kembali. Percayalah. Tapi nanti, kalau penjajah sudah pergi. Kalau perang sudah selesai. Kamu itu mbok ya sing sabar. Berdoa. Jangan melamun kayak gitu terus.” Suara itu mengalun lagi. Lembut. Penuh kasih sayang. Penuh kesabaran.

“Perang masih lama ya, Mbok?” Ajeng menyahut. Cahaya pelita masih meliuk-liuk. “Kita ini kan sudah merdeka. Penjajah itu kok masih ngeyel.”

Sepi. Di luar, tak terdengar lagi suara jangkrik yang bersahut-sahutan. Tetabuhan malam senyap. Malam semakit pekat.

Perempuan yang dipanggil Mbok tadi merasakan ada sesuatu yang ganjil. Tak pernah jangkrik berhenti berdendang jika tidak ada yang mengganggu. Mbok terlihat gusar. Dia yakin benar bahwa akan ada yang datang sebentar lagi. “Gusti, lindungi kami.” ucap Mbok lirih.

“Ada apa Mbok?” bisik Ajeng. Perasannya mulai bimbang. Penjajah kah?

“Matikan pelitamu, Nduk.” sahut Mbok berbisik, tapi tegas. Nada yang keluar kali ini bukan sekedar pemintaan, tapi sudah menjadi perintah dan harus dilaksanakan.

Ajeng menyadari benar akan hal itu. Cepat-cepat ditiupnya pelita yang masih juga meliuk-liuk. Hembusan angin yang mendera begitu deras dari bibir Ajeng seketika memadamkan cahaya pelita. Rumah menjadi gelap gulita. Tak ada lagi bayangan benda. Tak ada lagi nyala yang berpendar. Yang ada hanya pekat. Gelap. Ketakutan semakin terasa.

Benar saja. Di luar terdengar suara langkah-langkah kaki. Kian lama kian mendekat. Kian membuat jantung kedua orang yang ada di dalam rumah berdegup cepat.

Mbok meraih kepala Ajeng. Dipeluknya satu-satunya cucu yang masih tersisa itu. Kalaupun harus mati saat ini, biarlah kiranya mereka mati berdua, mati sama-sama, batin Mbok.

Ajeng tak kalah cemas. Keringat dingin meleleh dipelipisnya. Matanya terpejam. Detak jantungnya sudah tak terkata lagi kencangnya. Napasnya memburu. Dirasanya juga telapak tangan Mbok basah. Basah oleh keringat Mbok sendiri, juga basah oleh ketakutan.

Keduanya senyap tak bersuara. Suara langkah kian dekat. Kian membuat jantung seperti berlompatan. Berdetak kencang. Langkah kaki itu berhenti persis di depan pintu rumah. Sepi beberapa saat lamanya.

“Mbok,” sesorang mengetuk pintu dengan perlahan. “ini aku Mbok, Wahyudi.”

Dua orang yang masih berpelukan di dalam rumah menarik napas lega. Bukan penjajah yang datang. Artinya, nyawa mereka kemungkinan besar masih panjang.

Mbok membuka pintu. Didapatinya Wahyudi yang celingukan. Ditolehnya kiri dan kanan. Setelah dirasa aman, baru mereka masuk. Tak ada pembicaraan yang terjadi. Semua begitu perlahan. Sedapat mungkin jangan sampai menimbulkan suara yang keras, apalagi mencurigakan.

“Nyalakan pelitanya, Jeng.” perintah Wahyudi. Napasnya memburu. Peluh membanjiri kerah bajunya. Beberapa masih mengalir di pelipis. Segera diraihnya kendi di sebelah pelita. Matanya jelalatan mencari gelas. Meski sudah memicingkan mata, tak juga ditemukannya apa yang dicari. Tak ada cara lain. Kerongkongannya sudah begitu kering. Ditenggaknya air langsung dari mulut kendi tanpa rasa sungkan sedikitpun.

Pelita sudah menyala. Meliuk-liuk seperti tadi. Di luar, jangkrik berdendang lagi. Tetabuhan malam mengalun lagi.

“Jeng, Kang Mas Slamet memintaku untuk membawamu dan Mbok mengungsi. Keadaan sudah semakin gawat, Jeng. Surabaya nyaris dikuasai Inggris. Patroli Inggris sudah mulai gencar. Kami khawatir mereka akan sampai ke dusun ini nantinya.”

Ajeng menegakkan kepala. “Kenapa tidak Kang Mas sendiri yang membawa kami mengungsi? Kamu bisa kesini. Kenapa Kang Mas tidak?”

“Jeng, aduuuuh,” Wahyudi garuk-garuk kepala, “Kang Mas Slamet itu komandan TKR. Dia harus memimpin anak buahnya bergerilya. Bisa nulis ini saja sudah bagus.” Wahyudi menyerahkan lipatan kertas yang sudah sangat kumal, yang dia ambil dari saku bajunya.

“Surat lagi?”

“Iya. Kamu baca dulu. Lantas ceritakan isinya ke kami. Jika di dalamnya ada perintah untuk mengungsi, patuhi saja, Jeng.”

Ajeng tidak menyahut. Disambutnya lipatan kertas dari tangan Wahyudi. Dibawanya kertas kumal itu sedikit lebih dekat ke cahaya pelita. Dibacanya dengan takzim.

Teruntuk Ajeng dan Mbok.

Inggris sudah melanggar kesepakatan. Mereka masuk ke kota. Beberapa gedung di Surabaya sudah mereka kuasai. Mereka juga kian gencar menyisir daerah pinggiran, mencari dan membunuh pemuda-pemuda yang mereka anggap TKR. Demi keselamatan Ajeng dan Mbok, maka mengungsilah. Wahyudi akan membawa Ajeng dan Mbok ke tempat yang lebih aman. Jika saya selamat, saya akan bersegera menjumpai Ajeng dan Mbok.

Salam,
Slamet.

Ajeng melipat kembali kertas kumal di tangannya. Ini surat dari Slamet yang kedua. Isinya masih sama. Tentang permintaannya untuk mengungsi. Tak terkatakan lagi gundah gulana hati Ajeng demi mengenang kekasihnya itu memanggul senjata, membidik tentara Inggris yang ngeyel dan tak tahu adat itu.

“Slamet akan baik-baik saja, Jeng,” kali ini Mbok yang bicara. Masih juga seperti tadi. Lembut dan penuh kasih sayang. “Sepertinya kita memang harus mengungsi. Slamet pasti meminta kita untuk mengungsi, kan?” tanya Mbok kemudian. Di kejauhan, meriam masih berdentuman. Peluru-peluru juga masih berdesingan.

Ajeng mengangguk perlahan. “Apa Kang Mas akan baik-baik saja, Mbok?” Ajeng, gadis diambang dua puluh tiga tahun, menutup wajah dengan telapak tangannya. Ah, kenapa juga dia mesti menanyakan ini? Sudah barang tentu Mbok akan mengatakan jika Slamet akan baik-baik saja. Siapa pun yang dia tanyai, pasti akan memberikan jawaban yang sama.

Mbok tersenyum dengan terlebih dulu mengangguk mengiyakan pertanyaan Ajeng barusan. “Kita ngungsi ya, Nduk.”

Seketika pecahlah tangis yang sudah Ajeng tahan sejak tadi. Mereka memang harus pergi. Meninggalkan rumah. Meninggalkan kenangan. Meninggalkan segala yang masih tersisa. Meninggalkan Slamet yang masih berjuang di medan perang. Kertas surat kiriman Slamet kian kumal saja. Tergenggam begitu erat. Di luar, malam kian menua.

***

November 1945

Lereng bukit ini sebenarnya tidaklah jauh dari dusun. Hanya saja, tempat ini dipilih untuk mengungsi karena diperkirakan mobil-mobil patroli Inggris tidak akan sampai ke sini. Tak ada jalan yang bisa dilalui mobil untuk mencapai lereng bukit ini. Bahkan jika Inggris nekat berjalan kaki sekalipun, mereka tak akan mudah mencapai tempat ini. Mereka harus melalui sungai yang berarus deras. Ini tidak mudah. Jembatan yang menghubungkan dusun dengan bukit sudah diputus oleh prajurit TKR. Jika prajurit TKR sendiri yang ingin menyeberang, mereka sudah membuat jembatan darurat yang letaknya tersembunyi, agak jauh di hulu sungai. Untuk saat ini, tempat pengungsian bisa dikatakan aman.

Wahyudi yang diberi tugas mengawal rombongan pengungsi, tampak sedikit gusar. Senjata laras panjang selalu siaga di genggamannya. Meski begitu, kentara sekali ada kecemasan yang tergambar. Begitu jelas. Sebentar-sebentar dipandanginya rombongan pengungsi yang tergeletak tak beraturan. Beberapa dari mereka pulas tertidur. Ajeng salah satunya.

“Mau sampai kapan kita bohong terus, Mbok?” Wahyudi membuka percakapan. Mbok duduk mematung di hadapannya. “Kasihan Ajeng. Dia begitu berharap bisa ketemu dengan Slamet lagi.” Wahyudi melemparkan pandangan ke rombongan pengungsi lagi. Terutama ke Ajeng. Wahyudi takut kalau-kalau Ajeng terbangun dan diam-diam turut mendengarkan pembicaraan mereka.

“Tidak ada cara lain. Mengatakan terus terang kalau Slamet sudah gugur, tentu akan membuat Ajeng patah semangat.” Mbok mulai meneteskan air mata. “Untuk sementara biarlah ini menjadi sebuah rahasia. Kau tetaplah menulis surat untuk Ajeng. Katakan, itu dari Slamet. Beri dia semangat.”

“Tapi Mbok, aku tidak tega. Melihat binar mata Ajeng ketika membaca surat bikinanku itu saja rasanya aku ingin menangis. Dia begitu percaya bahwa yang menulis surat itu adalah Slamet.”

“Mau bagaimana lagi? Kita katakan kalau Slamet sudah gugur? Apa kamu tega? Membayangkannya saja Mbok sudah sedih.”

Sepi lagi. Mbok dan Wahyudi saling mengunci mulut. Tak ada lagi kalimat-kalimat yang meluncur dari keduanya. Kini masing-masing berpikir, mencari jalan terbaik. Mengakhiri kebohongan ini sekaligus menyelamatkan perasaan Ajeng tentu bukan perkara mudah.

Seorang prajurit TKR muncul dari semak-semak. Pakaiannya basah sampai pinggang. Senjata laras panjang tergantung di pundak. Prajurit itu memberi hormat pada Wahyudi.

“Ada apa, Di?”

“Mau laporan, Kolonel. Armada Inggris sudah merapat di pelabuhan. Jumlahnya mungkin tiga kali lipat. Pemimpin pasukan Inggris memberi ultimatum kepada seluruh prajurit kita untuk segera menyerahkan senjata api yang kita miliki, selambat-lambatnya pukul enam, dua hari lagi.”

“Dua hari lagi? Tanggal sepuluh November, maksudmu?”

“Benar, Kolonel.”

“Jika tidak?”

“Jika tidak, Inggris mengancam akan menggempur Surabaya dari darat, laut, dan udara.”

Wahyudi mendesis geram. Inggris sudah keterlaluan, pikirnya. “Romadi, kembalilah ke garis depan. Sampaikan kepada Kolonel Nanang, pasukan yang berjaga di dusun-dusun dan bukit akan segera turun. Sampaikan juga tentang satu hal, pantang buat kita mematuhi ultimatum bodoh itu. Kita akan mempertahankan Surabaya sampai titik darah penghabisan. Mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia atau mati. Kembalilah sekarang.”

“Siap, Kolonel.”

Wahyudi mengawasi kepergian prajurit TKR tersebut dengan darah mendidih. Beberapa waktu yang lalu pasukannya berhasil memukul mundur Inggris. Bahkan pasukannya berhasil membunuh Brigadir Mallaby, komandan pasukan Inggris yang melanggar kesepakatan itu.

“Apa kamu akan turun berperang lagi?” Mbok memecah kesunyian.

“Iya, Mbok.” Wahyudi menyandarkan tubuhnya pada batang pohon besar. Sorot matanya meneduh. Senjata laras panjang yang sejak tadi digenggamnya, kini digeletakkan di tanah. Tangannya merogoh sesuatu di saku baju sebelah kiri. Dikeluarkannya sesobek kertas dari sana. Kumal sekali kertas itu. Lantas diambilnya juga sebatang pensil dari saku celananya. Pensil yang sudah sangat pendek dan bermata tumpul itulah senjatanya untuk membohongi Ajeng. Dua kali malah. Dan sekarang? Dia akan melakukannya sekali lagi. Di dalam hati dia berjanji bahwa ini akan menjadi kebohongan yang terakhir.

Wahyudi merenung. Dengan cekatan ditulisnya beberapa kalimat di kertas kumal itu. Bukan sebuah surat yang panjang memang, tapi isinya adalah sebuah pertaruhan perasaan. Sesuatu yang sudah sekian lamanya terpendam.

“Mbok, kami akan membantu pasukan yang ada di garis depan.” Ucap Wahyudi seraya melipat kertas kumal di tangannya itu, “Kelak, jika dua hari setelah batas ultimatum Inggris aku tidak kembali, maka berikanlah surat ini ke Ajeng. Kurasa ini adalah jalan yang paling baik untuk menyelamatkan perasaan Ajeng. Kita tidak bisa terus-menerus membohonginya.” Wahyudi mengangsurkan lipatan kertas ke Mbok yang masih juga mematung.

“Kamu tega meninggalkan Ajeng? Ajeng sudah kehilangan Slamet.”

Wahyudi memejamkan mata. Slamet memang sudah gugur. Tapi toh Ajeng belum tahu itu. Pilihan ini memang berat. Dia harus membela salah satu dari beberapa hal yang sangat dicintainya. Ajeng atau kedaulatan Republik Indonesia. Sungguh berat.

Wahyudi membuka mata. Senjata laras panjang kembali ke genggaman. Pilihannya sudah mantap.

***

November penghabisan, 1945

Beberapa prajurit TKR sedang berjaga-jaga. Rombongan pengungsi kiah payah. Bahan makanan kian menipis. Bantuan dari TKR yang bertugas di kota sudah lama tak datang. Keadaan memang serba kritis. Serba susah.

Beberapa saat yang lalu memang terdengar kabar bahwa Surabaya digempur dari berbagai penjuru. Laut, darat, juga udara. Rupanya Inggris tidak main-main dengan ancamannya.

Lereng bukit terasa begitu sepi saat senja begini. Terlebih ketika malam. Sesekali memang kedengaran suara rentetan peluru. Juga sesekali dentuman meriam. Perang belum usai.

“Sebelum pergi, Wahyudi menitipkan ini untuk kamu. Bacalah.” Mbok mengangsurkan lipatan kertas titipan Wahyudi beberapa hari yang lalu. Ajeng segera menerimanya.

Teruntuk Ajeng.

Senja ketika membawakanmu segelas air minum, di bukit tempat mengungsi, adalah senja paling menawan dalam kenanganku. Barangkali itulah senja terakhir kita berbincang. Ketika surat ini kau genggam, kiranya aku sudah tak dapat lagi menjumpaimu. Perang memisahkan segala cinta. Cintamu kepada Slamet, juga cintaku kepada kamu.

Salam,
Wahyudi.

Segera tatap mata Ajeng tertoleh ke wajah sayu Mbok yang duduk tak jauh di sebelahnya. “Kang Mas Slamet sudah gugur, Mbok?”
Mbok mengangguk juga meski begitu berat.

Secepat kilat Ajeng mengeluarkan lipatan kertas yang sudah sangat kumal dari saku kemejanya. Dibukanya lipatan itu lantas dipandanginya lekat-lekat. Dibandingkannya surat dari Slamet dan surat dari Wahyudi. Ajeng tertegun. Kedua sobekan kertas di tangannya itu sungguh sama. Tak ada bedanya. Kertas kumal, juga bentuk tulisannya. Semua sama.

“Wahyudi?” tanya Ajeng lagi.

Mbok menunduk lemah. Meski ia juga tak yakin, toh ia memang harus menyampaikan amanat Wahyudi tempo hari, “Surat itu sudah sampai ke kamu.”

Senja benar-benar mengundang gelap. Mengundang sepi. Mengundang air mata.


Mempawah
Kakanda Redi



Tentang Penulis,


KAKANDA REDI, Lahir di Jembrana, Bali, tahun 1985. Menulis novel, puisi, dan cerita pendek. Tinggal di Mempawah, Kalimantan Barat.

No comments