HEADLINE

Opini _Anton Suparyanta_TUALANG DAN LANCONG

Redaksi menerima tulisan
Puisi minimal 5 judul, Esai, Cerpen untuk kami Siarkan setiap hari. Semua naskah dalam satu file MS Word dikirim ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com
beri subjek_VERSI ONLINE
(Mohon maaf, laman ini belum dapat memberikan honorium)

TUALANG  DAN  LANCONG

Oleh: Anton Suparyanta

Kata dasar tualang dan lancong sering membuat salah kaprah arti dalam artikel pariwisata dan budaya. Bahkan, salah arti tetap digunakan dalam judul buku cerita terjemahan. Jika tergelitik oleh kata-kata itu, bukalah KBBI edisi V (Kamus Besar Bahasa Indonesia) aplikasi luring resmi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Di sana dapat dibandingkan dua kata tersebut. 

tualang: bertualang v mengembara ke mana-mana (tidak tentu tempat tinggalnya), berkeliaran, bergelandangan; selalu pergi ke mana-mana (tidak suka tinggal di rumah); berbuat sesuatu secara nekat (tidak jujur dan sebagainya)
petualang n orang yang bertualang 
lancong: melancong v bepergian untuk bersenang-senang, bertamasya,  pesiar
pelancong n orang yang pergi melancong, wisatawan, turis
Tualang dan lancong biasa digunakan dalam praktik berbahasa, baik ragam tulis maupun lisan. Akan tetapi, penggunaannya sering kacau, salah arti. Coba, pahami contoh-contoh kalimat berikut ini.
1. Arya Barachristupa suka berpetualang menjelajahi hutan.
2. Justin Windarni dan Graciaci Giacinta bertualang ke luar negeri untuk menghabiskan jatah liburan akhir tahun.
3. Dua tahun yang lalu Happy Krisnawan Andono melancong ke Jakarta untuk mengadu nasib demi menyangga ekonomi keluarga. 
4. Daripada bertualang hanya menguras tenaga, waktu, dan emosi, Adella Putri KA lebih puas melancong ke pantai.

Ada kejanggalan, bukan? Kalimat ke-1, ke-2, dan ke-3 hanya berkategori baik. Tiga kalimat tersebut semata-mata komunikatif, tetapi jelas salah arti. Kata berpetualang justru tidak gramatikal dan tidak berarti. Dalam praktik berbahasa Indonesia, kata berpetualang menjadi tidak berterima. Akan tetapi, kita fasih menggunakannya. Jadilah salah kaprah terhadap arti dan makna. Salah kaprah ini marak terjadi dalam tindak tutur dan tulis. Apalagi, penggunaannya saling ditukar. Mengapa kita enggan merujuk kamus?
Sekarang bandingkan dengan perbaikan atas kesalahan tiga contoh kalimat tadi seperti berikut ini.
1. Arya Barachristupa suka bertualang menjelajahi hutan.
2. Justin Windarni dan Graciaci Giacinta melancong ke luar negeri untuk menghabiskan jatah liburan akhir tahun. 
3. Dua tahun yang lalu Happy Krisnawan Andono bertualang ke Jakarta untuk mengadu nasib demi menyangga ekonomi keluarga. 

Jika dibandingkan dengan kalimat ke-1, ke-2, dan ke-3; kalimat ke-4 justru menjadi contoh kalimat yang baik dan benar. Bandingkan lagi dengan judul buku fiksi terjemahan Tom Sawyer: Berpetualang ke Negeri Asing. Bukankah yang benar seharusnya bertualang? Bandingkan dengan editing Tom Sawyer: Bertualang ke Negeri Asing.
Kepekaan terhadap analisis kasus berbahasa tersebut merupakan bukti cita rasa berbahasa. Ada nalar kritis dan peduli yang membanggakan bahwa cakap berbahasa tidak semata-mata terampil ber-cas cis cus. Penutur atau penulis tidak semata-mata mengunggulkan kepentingan komunikatif. Cakap dan terampil berbahasa akan menjadi baik, benar, baku, dan lazim jika sesuai dengan arti yang tertuang dalam kamus. Prinsip inilah yang sebaiknya menjadi pembiasaan setiap diri kita. 

Tentang Anton Suparyanta: Ia Alumni FIB UGM Yogyakarta. Sejak tahun 1998-2004 aktif sebagai esais pendidikan-seni-budaya-sastra di beberapa harian pagi dan menjadi dosen sastra di FKIP Universitas Widya Dharma, Klaten. Tahun 2005 hingga kini, ia aktif sebagai penyusun buku mapel Bahasa Indonesia (”kurikulum” KBK, KTSP, BSE, Kurikulum 2013) untuk jenjang SD, SMP, SMA, SMK dan menjadi staf di PT Intan Pariwara, Klaten. 

No comments