HEADLINE

Puisi A'yat Khalili_BERSHALAT DI MASJID LAJU (Buku Kumpulan Puisi Tentang Masjid)



APRESIASI ATAS TERBITNYA BUKU KUMPULAN PUISI TENTANG MASJID


Sebuah buku sampai ke redaksi kami siang tadi. Diterima oleh salah seorang crew, buku ini berjudul TENTANG MASJID. Ada yang unik dengan buku ini, biasanya buku-buku kumpulan puisi, cerpen dan sejenisnya yang terbit selama ini mengangkat beragam tema tentang sosial, budaya, lingkungan, wisata, keragaman serta keunikan suatu daerah. Tetapi, kali ini, Tentang Masjid. Terbilang unik karena sangat jarang event-event kebudayaan yang membahas sebuah tempat ibadah. Tentu membuat penasaran kita semua mengapa puisi puisi karya penyair dalam buku ini semua bicara tentang masjid, baiklah; sebagai apresiasi kami atas terbitnya buku ini maka Redaksi Majalah Simalaba akan menyiarkan karya-karya dalam buku satu persatu setiap hari secara online. Semoga karya di dalamnya bisa sampai pada lebih banyak pembaca, yang kebetulan tak sempat memiliki buku bagus ini. (SKM)

Puisi A'yat Khalili

BERSHALAT DI MASJID LAJU


Hendak kau sembunyikan dimana sujud wajah
cahaya yang tak berhenti nyala sepanjang ruang
sepanjang pandang. Dari mana dirimu?
segalanya serba mewujud
berupa-rupa sampai musykil cerna
inikah penyatuan atau semata pemajangan
dari setiap yang diciptakan dan diragamkan

sedalam mata yang mengibarat selekat cat
membingkai baris-baris nafas yang menghadap

aku bukan dari Tiongkok yang mendahului tanah
bukan Cina dan Eropa yang serba memutih, bermata
Biru, tidak berasal Arab yang jenggotan
tak Portugis yang serba mancung dan kehitaman
juga bukan Jawa pun Madura yang kepolosan
aku bukan dan tak lain hanya pengistirah
namun, bolehkah numpang menyalakan kening
pada bagian mihrab, barangkali sudi membangun
pagar menjaga ketenangan - di sebelah barat
saat matahari telungkup, azam di lengking
serupa wasiat

Semula huruf semayup di sembilan pintu ibarat
penyambut setia. Lama diketuk membunyi sa bu, ta jung
dari 10 jendela, 13 pilar yang ngawang khusuk

Awalnya bisa diam namun sesaat menyerupa pedang
sebagaimana tiap-tiap yang hidup mempunyai dua mata
mengawasi yang ada

Tiada ruang sembunyi dalam waktu. Haruskah kau
rahasiakan wajah pabila di sini kau cari pun hanya
rakaat tak tamat memilih kiblat. Salat ja'buambu tandha
ajhumjung diaji isyarat tanpa alamat. Dari mana pun
datang pintu bagai gapura pengampunan tanpa pewarnaan
membuka tak pernah menutup
bagi yang hanya numpang sujud
menyatukan ragam sekujur badan.

Sumenep-Tangerang, 01 Juli 2017

catatan:
Masjid Laju, merupakan nama kuno Masjid Agung Sumenep atau Masjid Jamik yang dibangun oleh Kanjeng R Tumenggung Ario Anggadipa (penguasa XXI) yang kemudian diperbarui dan diperbesar lagi oleh arsitek, Lauw Piango, atas inisiasi Adipati Sumenep: Pangeran Natakusuma I dimulai tahun 1779M - 1787M. Sebagai pendukung Karaton, masjid ini mempunyai bentuk khas arsitektur yang dipengaruhi Tiongkok, Eropa, China, Jawa, Portugis dan Madura.

Tentang Penulis:
Lahir di Kota Sumenep, Madura 10 Juli 1990. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, artikel dan ulasan tersebar diberbagai media lokal dan nasional. Pernah menerima penghargaan dari PUSAT BAHASA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL tahun 2006, finalis lomba cipta puisi yang diadakan oleh kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif tahun 2012, menerima piala terbaik kampanye sastra ITB tahun 2014, festival sastra fakultas ilmu budaya UGM tahun 2015, serta berbagai event nasional serta internasional lainnya.

(karya selanjutnya akan disiarkan esok hari, 10 November 2017)


No comments