HEADLINE

Cernak Kak Ian_LEBI SI LEBAH YANG PEMALAS

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU: EDISI 1 2018

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), Cerpen dan Cernak untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam. Kirim karyamu ke e-mail: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU. (Berhonor dan akan diambil satu karya untuk dibuat konten video)

Redaksi juga menerima tulisan untuk diterbitkan setiap hari (selain malam minggu), kirim karyamu ke e-mai: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SASTRA SETIAP HARI. (Belum berhonor)


Di Kerajaan Lebah, Lebi Lebah adalah salah satu lebah yang sangat pemalas. Karena malasnya ia tidak lagi mau bekerja. Apalagi mencari nektar untuk Ratu Lebah. Ia sudah malas mencarinya. 

Lebi Tidak seperti dulu lagi. Ia begitu semangat bila bekerja untuk kerajaan. Tapi tidak untuk sekarang. Ia semakin pemalas. 

Lebi sebenarnya adalah lebah pekerja. Walaupun ia lebah pekerja tapi kerjanya hanya bersantai saja di kerajaan. Entah, kenapa ia seperti itu. Semua tidak ada yang tahu. Hingga membuat lebah-lebah yang lain pun menjadi heran ketika melihat perubahan Lebi seperti itu.

 “Kamu tidak bekerja hari ini, Lebi? Sebentar lagi musim penghujan. Sang Ratu sangat butuh nektar agar bisa menghasilkan lebih banyak madu ketika musim penghujan tiba,” lanjut Bolo Lebah memberitahukan.

“Aku tidak mau bekerja lagi untuk, Sang Ratu! Sana kamu saja yang bekerja, aku sudah tidak mau lagi menjadi lebah pekerja. Hanya menguras tenagaku saja!” tukas Lebi. 

“Ya, sudah kalau kamu tidak bekerja lagi untuk kerajaan apalagi buat Sang Ratu. Tapi aku ingatkan lagi jika terjadi sesuatu pada kerajaan kamu jangan menyesal nantinya.”

 Bolo akhirnya meninggalkan Lebi. Saat itu Lebi sedang berada di Taman Kerajaan. Lebi tenyata malah  asyik bermain di taman itu. Ia tidak lagi memedulikan peringatan dari Bolo, sahabatnya itu.

***

Akhirnya Kerajaan Lebah dilanda kelaparan akibat musim hujan berkepanjangan. Kerajaan porak poranda. Hancur. Apalagi persediaan madu makin berkurang. Apa jadinya jika lebah-lebah pekerja itu mati karena kelaparan? Seperti dialami Lebi.

“Bolo apakah musim penghujan masih lama berhenti?” tanya Lebi Lebah.

“Memangnya kenapa? Bukankah kamu tidak peduli dengan keadaan kerajaan selama ini. Kenapa sekarang kamu ikut khawatir!” 

“A-aku lapar, Bolo! Sudah seminggu ini aku tidak makan madu. Persediaan nektar yang aku kumpulkan sudah habis,” ucap lirih Lebi. 

Bolo yang mendengarkan ucapan Lebi ikut prihatin dengan keadaannya. Apalagi ia melihat tubuh Lebi sangat lemah. Akhirnya karena kasihan dengan sahabatnya itu ia pun menuju penyimpanan madu. Walau saat itu madu di tempat penyimpanan Kerajaan Lebah sudah mulai berkurang.  Apalagi musim penghujan juga belum berhenti.

“Ayolah, kamu makan, Lebi. Kamu perlu makan madu ini!” 

“Ta…tapi nanti aku kena hukuman oleh Sang Ratu.”

“Kamu tidak usah khawatir, Ini adalah jatahku jadi aku berhak memberikan pada siapa pun yang membutuhkan. Aku tidak marah dengan sikap kamu yang lalu. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Tapi aku sudah memaafkan kamu. Sekarang makan madu ini dulu.”

Dengan malu-malu Lebi akhirnya memakan madu pemberian Bolo. Akhirnya dimakan juga madu itu oleh Lebi untuk penambah tenaganya.

***

“Bolo, aku kerja dulu, ya! Aku mau mencari nektar  yang banyak untuk persediaan musim penghujan nanti,” tiba-tiba ada suara memanggil Bolo. 

Saat itu Bolo sedang merapikan Kerajaan Lebah yang terlihat berantakan karena terkena hujan deras dan petir. Walaupun musim hujan sudah berhenti. Tapi keadaan kerajaan masih luluh lantak.

 “I-iya, Lebi! Maafkan aku ya tidak bersama kamu. Aku lagi merapikan kerajaan dulu dengan lebah-lebah pekerja yang lainnya,” jawab Bolo.

“Ya, sudah aku berangkat dulu, ya. Aku berjanji mulai saat ini akan mencari madu yang lebih banyak untuk kerajaan agar semua tidak kelaparan lagi.” 

“Iya, hati-hati, Lebi!” seru Bolo membalas sambil tersenyum.

Hari itu Bolo begitu bahagia sekali dengan perubahan Lebi sesama lebah pekerja. Apalagi sahabatnya itu sudah menyadari kekeliruan serta kesalahannya yang selama ini dilakukannya. Ia juga tidak pernah menganggap Lebi adalah musuh apalagi pesaingnya. 

Dan Lebi sekarang sudah kembali bersemangat bekerja tidak pemalas seperti dulu. Sungguh itu yang membuat hati Bolo semakin senang memiliki sahabat seperti Lebi.

Tentang Kak Ian

Ia bekerja sebagai Guru Jurnalistik Sekolah, penulis Fiksi Anak dan Remaja dan mahasiswa jurusan PAI. Aktif di Komunitas Pembatas Buku Jakarta. Karya-karyanya telah dimuat di berbagai surat kabar lokal dan nasional dan online. Penulis buku Kumpulan Cerita Anak Berkarakter Belajar Blusukan dan Cerita-cerita Anak Lainnya, penerbit Mazaya Publishing House, Desember tahun 2016 dan Kumpulan Cerita Misteri dan mitos Cerita Kampung Maut dan Cerita-cerita Lainnya, penerbit Hanami, Desember tahun 2016

No comments