HEADLINE

Cerpen Ferry Fansuri_PELURU 9 MM DIDALAM JANTUNG ARTIFISIAL

Kirim karyamu ke E-mail: majalahsimalaba@gmail.com
Cerpen, Cernak, Esai, Opini, Artikel, Refortase, Puisi (minimal 5 judul), dll
Semua naskah harus dalam satu file MS Word
Beri subjek MAJALAH SIMALABA VERSI ONLINE
(Terhitung mulai Januari 2018: Cerpen, Cernak, Puisi, yg terbit pada malam minggu diberi honorium)



PELURU 9 MM DIDALAM JANTUNG ARTIFISIAL


Tahun ini, tahun 2169 yang dimana semua apa yang diinginkan tidak ada yang mustahil. Sebuah perusahaan artifisial membuat jantung buatan untuk semua orang yang membutuhkan. Uniknya jantung buatan itu  layak aslinya, mampu diutak-atik atau diisi perasaan-persaaan yang diinginkan. Rasa sedih, marah, senang, jatuh cinta atau keinginan setia dan cemburu. Kadarnya bisa diatur sesuai permintaan.

Tidak ada kekecewaan karena cinta atau kesedihan akan kehilangan seseorang, dua puluh tahun sebelumnya tingkat perceraian dan angka mengkahiri hidup sendiri begitu tinggi melonjak. Perasaan-perasaan manusia tidak bisa dikendalikan begitu saja, bisa terjadi meluap-luap tanpa disadari. Tindakan-tindakan diluar nalar akan bergerak dengan sendiri tanpa disadari. Jantung buatan ini menarik berbagai orang untuk membelinya dan menggantikan aslinya.

Itu yang juga dipikirkan oleh Rihana, ia terpikir untuk menggantikan jantung suaminya Penta. Setelah puluhan tahun menikah, terjadi keanehan dalam diri suaminya. Sepulang dari kantor dan memandang senja sambil menyeruput kopi hitam kesukaannya. Saat itu juga matanya tampak layu kosong memandang ke arah jendela, sunyi senyap.

“Apa kamu kesabet setan Pa?

Penta tidak merespon apa yang dikatakan Rihana, korneo mata dalam cangkang tengkorak itu tidak berkedip sama sekali. Rihana merasa kebingungan apa yang terjadi pada suaminya. Ia mencoba membawa Penta ke berbagai dokter spesialis sampai psikater semua nol besar.

“Suami anda mengalami gejala unik Nyonya”

“Tubuh, otak dan jiwa terlihat sehal wal afiat tapi jantung terlihat mati suri”

Dokter ahli menjelaskan penyakit aneh yang menyerang abad ini, penyakit ini menyerang jantung bukan pada arteri atau menimbulkan kerusakan organ dalam. Ini lebih secara non ilmiah, neutron-neutron dalam jantung telah raib tanpa sebab. Hingga menyebabkan seseorang tidak merasakan sama sekali tetapi kondisi segar bugar.

Penta sendiri tetap melakukan kegiatan sehari-hari, mulai dari bangun, mandi, makan, kerja dan pulang langsung tidur. Rihana merasa hampa tanpa belaian dan ciuman suaminya seperti awal-awal pernikahana dulu.

Pernah saat menjelang tidur, Rihana bertanya kepada suaminya.

“Mas, kenapa kau tak pernah menyentuhku sama sekali. Apakah kau tidak mencintai diriku lagi?”

Penta hanya melirik Rihana dan kemudia mulut itu berbuka.

“Maukah kau tahu kenapa terjadi semua ini?

Rihana mengangguk tanda mengerti.

“Aku seperti melihat jantungku keluar dari tubuhku”

“Jantung itu berbicara kepadaku”

“Katanya ia mau terbang ke langit karena sudah waktunya dan bosan tinggal ditubuhku”

“Ia mengatakan selama tinggal”

Sebuah penjelasan tidak masuk akal yang didengar oleh Rihana dan jelas bahwa suaminya Penta memang gila dan tidak waras.

***

Semua ini berlangsung berhari-hari, minggu ke tahun Penta tetap saja tidak bisa merasakan apa itu kecewa, sedih, gembira atau kasih sayang. Ia terlihat mirip robot yang berseliweran didepan Rihana, bahkan untuk urusan ranjang Penta tidak lagi terlampiaskan. Kejadian-kejadian ganjil membuat Rihana tak tahan dan ingin teriak sekuat-kuatnya tapi apa daya. Maka ia pun ingat brosur yang Rihana dapatkan waktu bazar sale di supermarket mall itu. Sebuah brosur berisikan promo jantung buatan untuk manusia dengan diskon akhir tahun, cuma 69 juta saja sudah mendapatkan jantung artifisial untuk dibawa pulang.

Keinginan Rihana diutarakan ke Penta agar setuju mencangkokkan jantung baru.

“Bagaimana menurutmu mas, jika ganti jantung kamu itu?” tanya Rihana sambil menyodorkan brosur yang ia dapatkan supermarket kemarin.

Penta hanya memandangi brosur itu tanpa ekspresi sama sekali tanpa acuh tak acuh.

“Aku hanya mau jantung asliku sendiri, aku mau menunggu jantungku datang kembali kepadaku”

Penolakan suaminya itu menyakitkan bagi Rihana.

“Kamu kenapa sih mas, kok tidak mau menggantikan jantungmu itu”

“Bagaimana janjimu sebagai suami?”

“Aku juga butuh cinta dan kasih sayang seperti wanita lain”

“Kau bukan suamiku yang dulu yang romantis dan selalu mengucapkan kata sayang sambil mengecup keningku”

“Kau tidak menjalankan kewajibanmu sebagai suami secara utuh” Rihana menangis sesengukan. 

Tapi Penta tak mengubris sama sekali, wajahnya tampak kaku dan dingin membekukan suasana yang kian menusuk malam.

***

Pagi itu menyejukkan, kicau burung hinggap di dahan pohon memainkan  nyanyian elegi kehidupan. Saat itu Penta sedang membaca koran dan menikmati kopi hitam tanpa gula, biarpun Penta tak merasakan apapun karena itu hanya sebuah rutinitas yang harus dilakukan untuk tetap terlihat hidup.

“Tok..tok !!” pintu depan ruang tamu tanpa di ketuk seseoran dari luar.

Penta pun membukanya perlahan.

Terlihat seseorang yang mirip dengannya muncul di ambang pintu.

“Hai, kenalkan aku adalah saudaramu” sosok itu mengulurkan tangan kanan  untuk berjabat tangan.

“Aku telah datang disini untukmu”

“Untukku?” Penta keheranan.

“Aku tidak pernah punya saudara karena aku anak tunggal dari keluargaku”

“Kau siapa?”

Sosok pria itu hanya tersenyum simpul.

“Kau tak mengenal diriku?”

“Aku ini adalah kamu”

Sedetik itu juga sosok terlihat kembaran Penta ini mengeluarkan benda kecil berpelatuk P30 Heckler & Koch dan mengirim pluru 9 mm tepat di dada Penta.

“Dooar..!!”

Penta terkapar jatuh bersimbah darah, peluru buatan Jerman itu menembus jantungnya seketika.

Di sisa kesadaran yang hampir menghilang, sayup-sayup matanya melihat istrinya Rihana datang menyambut pria tersebut. Ia memeluk dan menciumi pria tersebut. Rihana memandang Penta yang sudah terbujur kaku di lantai dan berkata.

“Tidurlah kau suamiku, ini penggantimu yang lebih baik. Sebuah kloning utuh dari dirimu, komplit dengan jantung baru”


Surabaya, November 2017    

Tentang Penulis

Ferry Fansuri kelahiran Surabaya adalah travel writer, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas ilmu budaya jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Karya tunggalnya kumpulan cerpen "Aku Melahirkan Suamiku" Leutikaprio(2017) dan kumpulan puisi "Bibir yang Terikat" AE Publishing(2017). Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional. 

baca juga

No comments