HEADLINE

Cernak Ari Vidianto_JANGAN MENUNDA SHALAT

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU:  EDISI 3 2018
Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), Cerpen dan Cernak untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam. Kirim karyamu ke e-mail: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU. (Berhonor dan akan diambil satu karya puisi untuk dibuat konten video)
Redaksi juga menerima tulisan untuk diterbitkan setiap hari (selain malam minggu), kirim karyamu ke e-mai: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SASTRA SETIAP HARI. (Belum berhonor)


Siang itu cuaca sangat cerah, matahari bersinar cukup panas, suhu udara pun meningkat. Burung-burung pun banyak yang berteduh di bawah rimbunnya pepohonan. Mereka malas untuk terbang melayang di udara  saat cuaca yang panas seperti ini. 

Terlihat Yaafi sedang bergegas melangkahkan kaki menuju rumahnya. Jam di tangannya menunjukkan pukul 12. 15.  Di tengah jalan ia melihat Arkan keluar dari masjid,Arkan adalah teman Yaafi di sekolah. Saat ini mereka sudah kelas 4 SD. Yaafi pun menghentikan langkahnya.

“ Eh, Yaafi! Kamu udah shalat Dhuhur apa belum?” 

“ Belum,” 

“ Ayo cepat shalat dulu. Mumpung masih awal waktu,” 

“ Ngapain sih kamu nyuruh-nyuruh aku cepat shalat?” 

“ Lho, sesama orang muslim kan harus saling mengingatkan! Kita tidak boleh menunda-nunda shalat Fi!” jelas Arkan. 

“ Entar aja deh di rumah,”

“ Oh, ya sudah kalau begitu. Sampai jumpa besok ya?” jawab Arkan sambil berlalu meninggalkan Yaafi.

“ Ya,” jawabku singkat.

Yaafi pun terdiam, ia termenung sejenak mendengar perkataan temannya itu. Memang selama ini ia suka menunda-nunda shalat, paling sering ia mengerjakan shalat di akhir waktu. Waktunya shalat ia gunakan untuk  menonton televisi atau yang paling sering malah bermain playstation dulu. Padahal Ummi nya sudah sering mengingatkan, tapi Yaafi tidak menghiraukannya.


                                                                        ***
“ Assalamualaikum!” seru Yaafi memberi salam saat tiba di rumahnya.

“ Waalaikumsalam!” jawab Ummi sambil membukakan pintu. Yaafi pun langsung bersalaman dengan Ummi. 

“ Mi,aku mau makan!” pinta Yaafi.

“ Kamu udah shalat Dhuhur apa belum?” tanya Ummi.

“ Belum, nanti aja Mi, sehabis makan,” jawab Yaafi.

“ Shalat dulu sana! Habis itu baru makan,” perintah Ummi.

“ Udah lapar Mi,” jawab Yaafi.

“ Eh, shalat dulu sana! Shalat itu jangan ditunda-tunda! Ummi sudah tidak tahan dengan perbuatanmu yang suka menunda-nunda shalat!” jawab Ummi dengan nada agak tinggi.

“ Ummi gitu amat?” keluh Yaafi.

“ Dengerin Ummi ya, Hadits Rasulullah Saw tentang shalat pada waktunya terdapat dalam Shahih Bukari dan Muslim yang artinya:

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Swt adalah Shalat pada waktunya, Berbakti kepada kedua orang tua, dan Jihad di jalan Allah Swt.” (HR Bukhari & Muslim).

Nabi Saw menyebutkan “Shalat pada waktunya” karena memang shalat wajib (fardhu) dalam Islam Subuh, Zhuhur, Ashar, Magrib, dan Isya sudah ditentukan waktunya oleh Allah SWT.

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisaa : 103) jelas Ummi panjang lebar.

“ Kamu udah paham Fi?” tanya Ummi.

“ Ya Mi, Yaafi paham.Tadi di jalan aku juga di suruh Arkan untuk shalat tepat waktu, tapi aku tidak mau,” kata Yaafi.

“ Memang kamu ketemu Arkan di mana?” tanya Ummi.

“ Di masjid Mi,” 

“ Ya itu Arkan benar, dia tahu kalau menunda shalat itu tidak baik. Pokoknya di mana pun kamu berada bila waktunya shalat kamu harus segera mengerjakannya,” 

” Siap laksanakan Mi, aku mau shalat dulu,” jawab Yaafi.

“ Nah gitu dong! Itu baru namanya anak Ummi,” 

Ummi pun merasa lega, akhirnya anaknya segera melaksanakan shalat. Yaafi pun segera berwudhu memakai baju koko, peci dan memakai sarung. Ia pun segera melaksanakan shalat Dhuhur sampai selesai. Setelah itu ia berdoa dan memohon maaf kepada Allah atas kekhilafannya selama ini. Ia berjanji mulai hari ini sampai seterusnya akan melaksanakan shalat tepat waktu dan tidak akan menunda-nunda shalat lagi

                                                       
                                                          SELESAI

Tentang Penulis

Ari Vidianto, lahir di Banyumas, 27 Januari 1984. Bekerja sebagai Guru di SD Negeri 2 Lumbir. Bukunya yang sudah terbit yaitu “ Ibu Maafkan Aku” &  Wajah-Wajah Penuh Cinta” , 17 buku Antologi  dan banyak karya yang dimuat  di Media Massa seperti di Tabloid Gaul, Majalah Sang Guru, Majalah Ancas, SatelitPost, Readzone.com, Buanakata.com, Sultrakini.Com, Riaurealita.Com, Duta Masyarakat, Solopos,Wartalambar.Com, LPM Arena, Sastranesia.Com, Majalah Derap Guru, Kedaulatan Rakyat,Radar Mojokerto, Kedaulatan Rakyat, Artebia.Com, Buanakata.Top, Joglosemar, Palembang Ekspres, Haluan, Simalaba.Com & Padang Ekspres.

No comments