HEADLINE

Cernak Elisah Dwi Susanti _SANG PEWARIS TAHTA

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU: EDISI 2 2018
Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), Cerpen dan Cernak untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam. Kirim karyamu ke e-mail: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU. (Berhonor dan akan diambil satu karya puisi untuk dibuat konten video)
Redaksi juga menerima tulisan untuk diterbitkan setiap hari (selain malam minggu), kirim karyamu ke e-mai: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SASTRA SETIAP HARI. (Belum berhonor)

Beberapa bulan belakangan ini, Raja Jayabrata merasa resah. Ia sudah terlalu tua dan sering jatuh sakit. Raja merasa sudah tiba waktunya tampuk kekuasaan diserahkan kepada pewarisnya. Masalahnya, tahta sebagai raja hanya bisa dipegang satu orang saja, padahal Raja Jayabrata memiliki dua putra mahkota kembar bernama Pangeran Hanggara dan Pangeran Hanggoro. 

Putra mahkota kembar tersebut tumbuh menjadi pemuda yang cerdas, tangkas, dan baik hati. Kedudukan sebagai anak raja tidak membuat Pangeran Hanggara dan Pangeran Hanggoro pongah. Mereka tak segan-segan mengulurkan tangan ke rakyat kecil yang membutuhkan bantuan. Tak heran jika semua rakyat menyayangi keduanya.

Hal inilah yang membuat Raja Jayabrata bingung dalam mengambil keputusan, siapakah yang paling berhak mewarisi tahta, Pangeran Hanggara ataukah Pangeran Hanggoro karena mereka berdua sama-sama tanpa cela. Untuk mengatasi masalah pelik tersebut, Raja Jayabrata akhirnya mengadakan pertandingan bagi kedua putra mahkota, yakni ketangkasan memanah sasaran sambil menunggang kuda.

*** 

Keesokan paginya, seluruh rakyat berbondong-bondong memenuhi lapangan kerajaan. Semua bergembira ingin menyaksikan sayembara tersebut. Mereka tak sabar menyambut siapakah yang akan keluar menjadi pemenang. Hanya sang raja yang terlihat resah dan harap-harap cemas menanti hasilnya. 

Benar dugaan raja. Baik Pangeran Hanggara maupun Pangeran Hanggoro ternyata sama-sama mahir menggunakan panah di atas hewan tunggangan. Panah keduanya tepat mengenai sasaran. Rakyat bersorak-sorai menyaksikan ketangkasan mereka. Raja Jayabrata pun semakin bingung memilih pewaris tahtanya. Melihat hal itu, Patih Mahendra mendekat dan berbisik. 

Wajah raja yang murung menjadi cerah seketika. Sebelum meninggalkan arena pertandingan, Raja Jayabrata memerintahkan kedua putra mahkota untuk datang ke istana keesokan harinya.

“Anak-anakku, Dusun Wetanringin baru saja kebanjiran. Besok kalian bawa masing-masing dua karung besar gandum ke rumah Kepala Dusun Ki Andoro agar bisa segera dibagi ke penduduk,” titah Raja Jayakarta ketika kedua putra kembarnya menghadap.

Pangeran Hanggara dan Pangeran Hanggoro menganggukkan kepala. Mereka menghormat dengan takzim kepada ayahandanya sebelum meninggalkan istana.

Dusun Wetanringin lokasinya lumayan jauh dari istana. Selain jalanan yang dilalui cukup terjal dan berliku, ada sebuah bukit yang harus dilewati untuk sampai di sana. 

Karena kondisi medan yang sulit tersebut, keesokan paginya sebelum matahari terbit, Pangeran Hanggara menyuruh pengawal setianya untuk mengantar dua karung besar gandum sesuai titah Raja Jayakarta.

Hal itu berbeda jauh dengan apa yang dilakukan oleh Pangeran Hanggoro. Ia baru membawa gandum ke rumah Ki Andoro menjelang petang saat matahari hampir tenggelam. 

Tiga hari kemudian, Ki Andoro melaporkan tugas yang sudah dilaksanakan oleh kedua pangeran ke Raja Jayabrata. 

Sang raja pun menyuruh putra-putranya untuk menghadap. “Pangeran Hanggara melaksanakan tugas lebih cepat dibandingkan Pangeran Hanggoro,” kata Raja Jayabrata.

Pangeran Hanggoro menunduk karena malu. “Maaf, Ayahanda. Sudah tiga hari ini salah satu pengawal hamba sakit keras. Hamba membawanya ke tabib terlebih dahulu sebelum mengantar gandum ke Dusun Wetanringin.”

Raja Jayabrata manggut-manggut. “Bagus. Kamu benar-benar mengayomi pengawalmu, Pangeran Hanggoro. Ki Andoro juga menuturkan jika kamu mengantar sendiri gandum tersebut tanpa bantuan pengawal. Itulah sejatinya yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Selain cerdas, tangkas, dan menyayangi bawahan, ia juga harus bertanggung jawab penuh dalam melaksanakan tugas. Karena itu, Pangeran Hanggoro yang akan menggantikanku menjadi raja.”

Pangeran Hanggara memeluk Pangeran Hanggoro dan mengucapkan selamat secara kesatria. Tak tampak kecewa sedikit pun di wajahnya. 

Raja Jayabrata tersenyum bangga melihat kedua putra kembarnya. Ia benar-benar bersyukur memiliki keturunan yang berbudi luhur. Wajah sang raja berbinar karena masalah pelik yang membelitnya belakangan ini terselesaikan dengan baik.

*** 

Pangeran Hanggoro pun naik tahta menggantikan Raja Jayabrata. Ia mengangkat Pangeran Hanggara sebagai penasihat pribadinya, sedangkan Patih Mahendra tetap menjalankan tugas seperti biasanya.

Rakyat menyambut gembira raja mereka yang baru. Di bawah tampuk kepemimpinan Raja Hanggoro yang berbudi, cerdas serta tangkas, mereka hidup aman dan tenteram dengan hasil bumi yang melimpah. Songgolangit pun menjadi salah satu kerajaan yang disegani oleh kerajaan lainnya.

Gresik, 25 Desember 2017

Tentang Penulis

Elisa Dwi Susanti, pernah duet menulis sinopsis bersama Warih K. Haswadi untuk Cermin Kehidupan  TRANS7 berjudul “Ketika Iblis Tersenyum”. Ia pernah menjadi salah satu finalis Lomba Menulis Cerita Anak Islami 2016  yang diselenggarakan oleh Penerbit PRO-U MEDIA dengan cernak “Pensil Firman” yang dibukukan dalam Antologi Kisah Anak Shalih “Kecil-Kecil Bisa Hafal Qur’an” (PRO-KIDS/Kelompok Penerbit PRO-U MEDIA, Juni 2016). Naskahnya menjadi salah satu dari tiga puluh naskah terbaik dalam Lomba Menulis Cerpen Islami Juni 2016 yang diselenggarakan oleh LAZISMU Kantor Layanan Umbulharjo bekerja sama dengan Penerbit PRO-U MEDIA dan SUARA MUHAMMADIYAH dan dibukukan dalam antologi Wisata Qolbu Kumpulan Cerpen Islami “Qolbuku Inspirasiku” (LazisMu Umbulharjo, Juni 2016).
Karya-karyanya berupa naskah untuk rubrik Gado-Gado, cerita anak, cerpen, cerita remaja, resensi, dan artikel Islami pernah dimuat di FEMINA, Nusantara Bertutur KOMPAS Klasika, SOLOPOS, RADAR SAMPIT, JOGLOSEMAR, MINGGU PAGI, HARIAN RAKYAT SULTRA, PADANG EKSPRES, SATELIT POS, KORAN MADURA, KABAR MADURA, DUTA MASYARAKAT, FLORES SASTRA, WAHID NEWS, DAN ISLAMPOS.    

No comments