HEADLINE

Cernak Saiful Bahri _TOKANG COKOR

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU:  EDISI 5 2018
Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), Cerpen dan Cernak untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam. Kirim karyamu ke e-mail: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU. (Berhonor dan akan diambil satu karya puisi untuk dibuat konten video)
Redaksi juga menerima tulisan untuk diterbitkan setiap hari (selain malam minggu), kirim karyamu ke e-mai: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SASTRA SETIAP HARI. (Belum berhonor)

       
         Ia berteman sisir dan gunting, kerap kali meluruskan rambut-rambut kriting. Menukik hitam menyulam kelam. Akan tetapi, pekerjaan ini tidaklah gampang seperti halnya orang-orang bayangkan. Selain punya keahlian yang khusus, fokus dan kehati-hatian pun harus ia tekankan secara penuh.
          Awalnya, pekerjaan ini adalah usaha relawan tanpa mengharap bayaran. Pergaulan setiap harinya, ia tak seperti lumrahnya teman-teman disekitrnya. Tak banyak bergaul dengan teman sebayanya, ia lebih banyak menghabiskan waktunya didalam kamar. Menariknya, pendidikan tetap saja ia tempuh dari jenjang ke jenjang, tetap saja ia utamakan demi meraih kesuksesan yang akan datang.
          Dalam menjalankan kreatifitasnya sebagai pengrajin, pelukis, pun ia sebagai lelaki ¹Tokang Cokor  di kampungnya. Dan awalnya pula, ia memang tidak memasang tarif untuk siapapun, bagi siapa saja yang ingin memangkas rambutnya ia persilkan, dengan sigapnya ia kerjakan. Ia lebih mengedepankan visi dan misinya. "Mempertahankan solidaritas ketimbang saling memberantas."
         Ikram Wardana adalah nama dagingnya yang diberikan oleh Ibunya dulu. Orang-orang sekitar kampung biasa memanggil "Ik" yang sudah tak asing lagi bagi orang-orang disekitarnya, dan faktanya memang sudah banyak tau tentang dirinya.
          Ikram tidaklah seperti orang normal biasanya, ia mempunyai kelainan dalam hal berbicara. Tapi, ia tidaklah minder dengan kekurangannya. Bahkan ia semangat mengayomi teman-teman yang ingin memangkas rambutnya. Faktanya ia lebih mengerti dengan bahasa tubuh seseorang melalui isyarat gerak motorik ketimbang berbicara. Meski terkadang aku juga mengikuti bahasanya dia.
          "Pul, rumahnya Ikram dimana, antarkan aku kesana dong," tanya temanku.
          "Masak kamu gak tau, Viv." Ia Aviv, teman seperjuanganku. Lalu kemudian ia mengajakku kerumah Ikram untuk memangkas rambutnya yang sudah memanjang. Sejatinya ia sudah kenal Ikram sedari dulu, hanya saja tidak tau lokasi rumahnya. Ikram berteman denganku sudah lama. Kerap kali ia membuat layang-layang besamaku dulu, meski ia tak sekelas denganku waktu sekolah, tapi aku sangat dekat dengannya.
          Soal trand rambut, Ikram memang jagonya. Sampai saat ini pun aku tetap langganan potong rambut sama dia. Kemaren, Ikram punya inisiatif untuk mengumpulkankan teman-temannya kala itu. Tidak lain hanya untuk mengadakan semacam sumbangan 10 ribuan, untuk dibelikan peralatan salon. Ia pun bilang "Bagi yang menyumbang untuk perlatan salon, aku akan gratiskan." Ujarnya.
          Berkat sumbangan peralatan salon itulah Ikram mulai dikenal banyak orang, dikenal masyarakat sekitar dalam keahliannya memotong rambut. Baru-baru ia sudah memasang tarif Rp. 3.000 perorang. Beda denganku dan teman-teman lainnya lantaran sumbangan kemaren itu. Ikram bukan hanya pandai dalam memangkas rambut. Sebelum ia sukses jadi tokang cokor, otak akalnya kurasa lebih cerdas ketimbang orang normal biasanya. Buktinya, disekolah sama sekali ia belum pernah tidak naik kelas.
         Yang jelas, Ikram sudah tau cara memikmati hidup. Ia pun sadar dengan kekurangannya dalam hal berbicara. Pada saat siang bolong, aku sama temanku Aviv sudah berada teras rumahnya, seraya memnggil Ikram yang lagi makan. "Ik, ini temanku mau potong rambut," panggil aku mirip ucapan dia.
         "Iya, Pul. Tunggu sebentar ya, aku masih makan," pungkasnya. Tak la kemudian ia bergegas untuk beranjak ke tempat salon miliknya untuk memenuhi model apa yang diinginkan temanku Aviv.
         * * *
         Seminggu kemudian, hari raya Idul Adha akan tiba. Hiruk pikuk beranda rumahnya sudah dipenuhi kerumunan temannya yang ingin memotong rambutnya. Masing-masing secara bersamaan mendatanginya kala itu. Tua muda semuanya ada. Faktanya seorang Ikram sangat sibuk jikalau bersamaan dengan datangnya momentum yang sakral. Misal: Lebaran, tahun baru, dan lain sebagainya. Semua pengunjung harus antre dari satu persatu layaknya loket di bank.
          "Ik, Punyaku dulu," ucap Aviv.
          "Lah, punyaku dulu. Lagian aku kan datang duluan" ucapan teman yang lainnya.
   "Sabar kawan, akan kugilir satu persatu. Siapa yang datang lebih awal, maka aku kerjakan duluan." Ujarnya dengan tegas.
Sesuai janji Ikram kemaren. Ada beberapa teman yang menyumbang untuk peralatan itu, maka Ikram kasih bonos alias gratis. Salah satunya aku juga menyumbang uang kala itu. Namun, pun temanku yang lainnya juga demikian. Aku merasa kasihan, masak dengan terus-terusan tanpa  membayar. Aku rasa harus mengerti dalam memaknai hidup. Dikarenakan aku dan AdIkku seringkali memotong rambut padanya. Maka, sesekali Ibuku memberi satu hadiah padanya, dengan alasan tanda terimakasih. Pada waktu itu Ibuku membawa sebungkus rokok. ia pun sudah riang dengan pemberian itu. Ya, pengganti kelesuan.
          "Punyamu mau dipangkas model apa, Viv?" Tanya Ikram.
          "Model seperti ini, Ik." Sambil memperlihatkan gambar dalam handphonnya.
          "Sekarang, tarif untuk pangkas rambut saya naikkan, Viv.
          " Iya, gak apa-apa, Ik." Jawab Aviv.
          Setelah beberapa bulan terakhir, Ikram telah menaikkan tarif itu 1.000, dari awalnya 3.000 menjadi 4.000. Itu kenapa, lantaran Ikram sudah mempunyai peralatan salon yang baru, yang ia belikan hasil jerih payah dengan keringatnya sendiri sekitar tiga hari yang lalu.
          Aku kagum padanya. Banyak diantara teman yang cerdas, tapi ia tak pandai menerapakan praktek layaknya Ikram. Banyak diantara kerabat yang hebat, hanya pintar bicara tanpa tindakan nyata. Dirinya sebagai tokang cokor  kurasa sangat mengurangi beban orang tuanya. Kemandirian itu berawal dari kekuatan ikhtiar yang mengakar pada kaki langit, melalui perantara kelebihannya sebagai tokang cokor.(*)

____Bungduwak, September 2017
Cataan kaki:
(1)Tokang cokor:Madura: Orang yang ahli dibidang salon. (Tukang pangkas rambut).

Tentang Penulis

SAIFUL BAHRI, *)Kelahiran Sumenep-Madura, Pada Tanggal O5 Februari 1995. Selain menulis, ia juga seorang aktivis di kajian sastra, dan "Teater Kosong Bungduwak", Perkumpulan dispensasi Gat's (Gapura Timur Solidarity), Fok@da (Forum komunikasi alumni Al-Huda), sekaligus perkumpulan (Pemuda Purnama). Disela-sela kesibukannya ia belajar menulis Puisi, Cerpen, Essai, Opini, dll. Puisinya antara lain dimuat di media Riau Pos (2017), Bangka Pos (2017), Radar Madura (2017), Radar Surabaya (2017). Sebagian puisinya terkumpul dalam Antologi Puisi CTA Creation (2017) Kedaulatan Rakyat (2017). Radar Jember (2017).

No comments