HEADLINE

Cerpen Rifat Khan _SATU HARI DIMANA AKU INGIN MENJADI LELAKI

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU:  EDISI 5 2018
Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), Cerpen dan Cernak untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam. Kirim karyamu ke e-mail: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU. (Berhonor dan akan diambil satu karya puisi untuk dibuat konten video)
Redaksi juga menerima tulisan untuk diterbitkan setiap hari (selain malam minggu), kirim karyamu ke e-mai: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SASTRA SETIAP HARI. (Belum berhonor)


Aku sungkan untuk bilang bahwa cintaku padamu demikian dalam. Tak ada dayaku, sebab aku hanya perempuan, dengan rambut panjang dan pinggang yang tentu lebih ramping darimu. Aku hanya bisa memberi isyarat, lewat gerakan mata, atau sesekali mengirimimu pesan basa basi. Pesan yang pasti kau balas, kemudian hatiku seperti melambung, terbang ke tempat entah. Apalagi jika tatapan kita beradu, aku dipenuhi bahagia, melihat senyum yang teduh itu. 

Malam itu, kau minta aku datang ke sebuah tempat. Banyak bunga dan kisah-kisah romantis kau bicarakan. Aku hanyut menatap gerak bibirmu, aku larut dalam sejuta pesonamu. Hingga kau tiba-tiba bilang, "Yulian, aku mencintaimu. Bersamamu, tak ada waktu untuk bersedih. Aku riang, bahagia, dan senang. Kiranya kau akan membalas, tentu aku merasa jadi lelaki paling beruntung di bumi terkasih ini" Kau bicara dengan tegas, aku melihat awan begitu biru. Sesaat angin membelai dadaku, lembut.

Kita sepakat menjadi sepasang kekasih, tubuhmu yang hangat, tingkahmu yang kian memikat. Kemana-mana kita bersama, seperti mabuk dalam asmara yang katanya buta itu. Kita sepasang, kita adalah kekasih. Memutuskan menikah, berumah tangga dan memiliki anak-anak lucu. Aku perempuan yang bahagia, bisa dicintai oleh lelaki yang amat pula kucintai. Pernikahan kita sederhana, tanpa bunga, tanpa musik-musik yang memekakkan telinga. Kita, dua orang yang paling bahagia. 

Malam pertama kita, hujan turun, begitu deras. Hangat tubuhmu menyeruak, memenuhi kamar yang dominan berwarna putih itu. Itu pula kali pertama aku merasakan cinta begitu nyata, bukan sebuah garis putus-putus apalagi coretan abstrak yang memutar otak untuk mencari maknanya. Cinta begitu nyata, bagiku malam itu, entah bagimu. Subuh kita terbangun, berpelukan, lalu bercengkerama lagi. Sesekali kau menggigit daun telingaku. Begitu nakal.

***

Pagi hari, aku memasak, lalu mencuci pakaianmu yang kotor. Sesekali menghibur diri, menatap bocah-bocah bermain sepak bola, melihat anak-anak burung singgah di dahan. Burung-burung yang selalu bernyanyi indah. Aku menikmatinya sembari menunggumu pulang, sudah dua ember aku cuci, sudah dua menu lauk aku siapkan untukmu. Kau tentu sedang bekerja, mencari nafkah untuk menyambung hidup kita.

Aku memang perempuan, sering aku ingin bekerja sebagai apa saja. Kau melarang, "Perempuan harus di rumah" Kau bicara sedikit keras. "Apa gunanya aku sebagai lelaki? Orang-orang akan bergunjing, dan bilang aku lelaki tak ada tanggung jawab. Kau lihat si Mariam, kerja siang malam sampai lupa suami. Kerjanya di cafe pula, apa pandangan orang-orang. Mereka bilang Mariam perempuan liar" Kau terus menggerutu. Padahal aku hanya meminta pendapatmu, bukan memintamu memarahiku. 

Aku memilih ke dapur, menyiapkan beberapa piring dan seponjol nasi untuk makan malammu. Kuhangatkan lagi sayur bening yang kubuat tadi sore. Dengan cepat, segalanya sudah tersaji di atas meja. "Begini seharusnya perempuan, melayani suami, membuat makanan enak, tak perlu bekerja susah payah" Kau masih saja menggerutu. Aku hanya terdiam, di meja makan, malam itu tak ada lagi pembicaraan. Kita seperti orang asing yang datang dari tempat yang begitu jauh.

***

Sudah tujuh purnama kita lalui sebagai sepasang suami istri. Aku masih setia di dapur, masih setia di sumur, dan memanjakanmu di kasur. Sering kau bilang, "Surga seorang perempuan ada di suami, cukup kau patuh, Tuhan akan memelukmu". Aku hanya manggut-manggut mengingat ucapanmu. Pagi itu, udara begitu dingin, di balik jendela aku menatap hampa ke luar. Tak ada bocah bermain sepak bola, tak ada burung-burung yang hinggap di dahan pohon mangga. Aku merasa kesepian. 

Sering aku membayangkan hari-hari yang sibuk. Hari yang penuh oleh kegiatan, mungkin mengajar anak-anak di bangku sekolah. Bercanda dan bernyanyi dengan mereka. Atau mungkin berdagang, menyiapkan senyum yang indah bagi setiap pelanggan. Aku juga sering mengingat Eliana, tetangga yang berjarak dua rumah. Eliana bekerja pada sebuah bank. Hidupnya ceria, banyak kenalan dan banyak waktunya habis oleh kegiatan. Aku sendiri hanya bisa merenung, menunggu air yang sebentar lagi matang, atau menunggu jemuran yang akan mengering satu persatu. 

Sampai pada suatu hari kau bilang, akhir-akhir ini pekerjaanmu harus membuatmu pulang lebih lama. Pekerjaanmu kini, katamu, memakan waktu lebih dari delapan jam, bisa sampai sepuluh jam, bahkan dua belas jam. Aku semakin dilanda rasa bosan, apalagi dengan perut yang masih datar saja. Harapan punya teman sekedar berbincang sepertinya masih jauh. Aku akan terus sendiri, menunggu dan menunggu. Hingga 10 purnama berlalu.

***

"Kantor buka cabang baru di ujung Barat. Aku sekarang harus pintar membagi waktu. Tiga hari di sini, tiga hari di Barat. Sebaiknya kau terbiasa, kau bisa menelpon kapan saja. Kau mengerti cinta bukan? Dari jauh cinta bisa memeluk, dari tempat entah pun, yang namanya cinta akan selalu memberi teduh" Kamu terlihat lelah saat mengucapkan itu. Aku tak memberi tanggapan apa-apa. Toh, aku tanggapi sekali pun, tak akan mengubah apa-apa. Ujung-ujungnya kau akan bilang, "Ini juga untuk kita, rezeki kalau dicari tak akan datang. Pekerjaan saat ini demikian sulit, tak mungkin bagiku untuk mencari kerja lain". Meski aku merasakan firasat beda, semua hanya kupendam di lubuk dada.

***

Seperti yang kubayangkan, dalam seminggu, ada tiga malam yang seakan seperti neraka bagiku. Kau berpesan, "Tak perlu kau keluar kemana pun, kecuali untuk kebutuhan lauk dan segala macamnya. Ingat, melanggar perintah suami tak ada bedanya dengan kau membuka pintu neraka lebar-lebar. Ingat itu, Yulian" Pesanmu bagai gemuruh yang menyambar dadaku. Apalagi di malam dingin-dingin begini, hanya ada bantal untuk kupeluk, hanya ada potret untuk kupandang. Saat terlalu sering aku mengirim pesan, malah kau hanya menjawab, "Kita bukan sepasang orang yang sedang pacaran. Yang harus bertukar pesan sepanjang waktu. Pekerjaan menumpuk dan aku butuh konsentrasi untuk menyelesaikannya" Aku biasanya tak akan mengirim pesan lagi.

Saat pulang ke rumah, kau sepertinya tampak berbeda. Jarang kau tersenyum ramah, sering pula kau marah-marah. Membelakangiku saat tidur, dan tak pernah ada waktu mendengar segala kesahku. Aku merasa seperti sedang berada di dunia yang jauh, dunia yang tak ada manusia. Tak ada telinga yang mendengar, tak ada mulut yang memberikan kalimat-kalimat sebagai penenang. Aku sering menangis, apalagi di malam-malam saat kau tak ada. Malam yang membuatku sering mengutuk diri.

Dua belas purnama genap berlalu, dan kau, untuk kali pertama membawaku pergi menikmati langit yang kemerahan di ujung pantai Labuhan haji. Aku merasa seperti sedang pacaran kembali, meski posisi dudukku dan kamu seperti ada jarak. Setidaknya aku bisa merasakan napasmu, bisa melihat begitu dekat bola matamu. Bola mata yang sepertinya menyimpan sebuah rahasia. Entah rahasia apa.

"Ada yang musti kusampaikan. Sebab cepat atau lambat, segalanya akan terkuak dan pastinya jauh lebih buruk" Kalimatmu sangat datar, tanpa menatapku. Aku tertegun mendengarmu dan aku mencoba menatap langit yang kemerahan itu. Mencoba meminum segelas es kelapa muda yang sudah kau pesankan untukku.

"Dengar Yulian, cinta memang suka datang tanpa diminta. Tak baik menutup semua perkara yang ada dengan berbagai kebohongan. Semalam aku berpikir serius, aku merenung. Dan kukira, ini saat yang tepat untuk mengatakan semua" Kau menambahkan. Aku masih belum paham dengan apa yang hendak kau utarakan.

"Hatiku terpagut pada hati seorang yang lain. Hatiku terus memikirkannya, dan perempuan itu pun sepertinya sama. Ia menyimpan rasa suka, kami banyak melakukan hal-hal picik di belakangmu. Kami sudah menikah dua bulan lalu dan tinggal di barat. Aku bilang aku ada kerjaan, aku hanya berbohong. Tiga hari itu kubagi untuknya. Surga untukmu tetaplah ada..."

Aku tiba-tiba merasakan beberapa bagian remuk di dadaku. Ingin aku memaki, ingin aku membenci, tapi toh aku hanya perempuan. Untuk pertama kalinya aku membenci kenapa dadaku musti membusung, kenapa tak datar dan tegap saja. Kenapa kemaluanku tak tegak, agar bisa aku membagi hati dengan hanya bukan satu orang saja. Aku juga membenci kenapa suaraku lemah, tak keras seperti lelaki. Kenapa aku harus memiliki surga di bawahnya. Kenapa harus selalu ada di sumur, dapur dan ujungnya letih di kasur. Aku membenci segalanya. Aku membenci diriku yang hanya ditakdirkan menjadi perempuan. (*)

2017.



Tentang Penulis

Rifat Khan, Lahir di Pancor NTB pada tanggal 24 April 1985. Beberapa karyanya dimuat Metro Riau, Majalah Cempaka, Suara NTB, Lombok Post, Radar Banyuwangi, Radar Bromo, Radar Sulbar, Radar Surabaya, Magelang Ekspres, Harian Rakyat Sumbar, Harian Waktu Cianjur, Satelit Post, Bali Pos, Sinar Harapan, Jurnal Nasional, Riau Pos dan Republika. Bermukim di NTB dan bergiat di Komunitas Rabu Langit Lombok Timur.


No comments