HEADLINE

Cernak Iskadarwati _POLAN DAN PONGPONGAN PAK POHAN

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU:  EDISI 07
Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), Cerpen dan Cernak untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam. Kirim karyamu ke e-mail: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU. (Berhonor dan akan diambil satu karya puisi untuk dibuat konten video)
Redaksi juga menerima tulisan untuk diterbitkan setiap hari (selain malam minggu), kirim karyamu ke e-mai: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SASTRA SETIAP HARI. (Belum berhonor)





       “Ayo, laba-laba, kemari! Ayo... ayo... kok diam saja...”

       Polan sedang menyuruh pongpongan keluar dari kolong tempat tidurnya. Ia memanggilnya laba-laba karena cangkangnya dilukis gambar laba-laba. Begitulah Pak Pohan, nama penjual pongpongan itu untuk menarik hati pembeli. Setiap cangkang pongpongan yang dijual dicat aneka gambar.

     Tapi pongpongan itu tidak mau berjalan dan tetap berada di pojok dinding. Akhirnya Polan mengambil sapu ijuk untuk meraih pongpongan. Sesaat kemudian pongpongan sudah berada di hadapannya.

      “Laba-laba, kenapa sih kamu sembunyi terus. Ayo, jalan!” Pinta Polan.“Hah... hah... hah...” Karena tidak mau mengeluarkan kakinya dari cangkang, Polan meniup-niup. 

      Sesaat kemudian pongpongan mengeluarkan kaki-kakinya. Polan meletakkan pongpongan di lantai. Maka berjalanlah pongpongan. Polan pun bersorak-sorai melihat pongpongan berjalan.
       Setelah beberapa lama....

       “Laba-laba, kenapa berhenti? Hah... hah... hah...” Polan meniup-niup kaki pongpongan. Lalu pongpongan mengeluarkan kaki-kakinya dan berjalan lagi.

       Polan senang. Pongpongan berjalan. Sesaat kemudian ketika pongpongan berhenti, lagi-lagi ia meniup-niup. Begitu seterusnya. Tapi sayang, ketika berhenti lagi lalu Polan meniup-niup, pongpongan tidak mau mengeluarkan kaki-kakinya. Polan jengkel, dan....

       Praaakkkkkkk.... Polan membanting pongpongan. Cangkang pongpongan pecah menjadi berkeping-keping. Pongpongan segera berlari tanpa cangkang. Tentu saja sudah tidak menarik karena tanpa cangkang. Apalagi cangkang itu dilukis menyerupai laba-laba. Maka Polan membiarkan pongpongan pergi dan keluar dari kamarnya.

       Begitulah Polan kalau pongpongan tidak mau berjalan maka ia membanting. Dengan hati kesal ia menyapu kepingan cangkang. 

*****

       Keesokan hari sepulang sekolah Polan mendatangi jualan Pak Pohan. Pak Pohan menjual pongpongan yang diletakkan di ember. Anak-anak membeli sesuai gambar yang mereka suka. 

      “Pak Pohan, beli pongpongan,” kata Polan penuh semangat. Kemudian ia memilih pongpongan dengan cangkang bergambar kepala kucing.

       “Beli lagi, Lan,” ungkap Pak Pohan. Tentu saja Pak Pohan senang karena dagangannya laku.

       “Iya, Pak.”

       “Lan, kamu beli lagi. Jadi yang laba-laba juga kamu banting? Tempo hari gambar beruang, sebelumnya gambar serigala, semua kamu banting. Payah kamu, Lan!” umpat Sani tahu-tahu sudah berada di samping Polan. Kemudian Sani memilah-milah gambar yang ada pada cangkang pongpongan. 

        “Kamu saja beli lagi,” ledek Polan.

       “Aku beli untuk adikku. Nih gambar boneka karena adikku perempuan,” jelas Sani sambil menunjukkan cangkang pongpongan dengan gambar wajah boneka berwarna pink. 

       “Jadi kamu beli lagi karena pongpongan yang lama kamu banting, Lan?” tanya Pak Pohan heran sambil melayani pembeli lain.

       “I..iya, Pak. Habis jalan sebentar berhenti, jalan lagi berhenti lagi,” jawab Polan sambil cengar-cengir. 

       “Kirain buat dipelihara, Lan. Kemudian kamu kasih makan dengan buah-buahan rasa manis. Pongpongan itu suka buah-buahan rasa manis. Kasihan kalau kamu banting. Mereka kan makhluk hidup seperti kita. Coba kalau kita jalan tarus, kan lelah.” jelas Pak Pohan panjang lebar. 

       Tapi Polan tidak peduli dengan nasihat Pak Pohan. Kemudian Pak Pohan memberikan kantung plastik berisi pongpongan kepada Sani dan Polan. Mereka membeli seribu lima ratus rupiah untuk satu buah pongpongan.

       “Lan, sepedamu mana,kok langsung pulang?” tanya Sani. Polan dan Sani sering pulang bersama dengan mengendarai sepeda masing-masing. Lalu mereka berpisah ketika sampai di perempatan.

       “Sepedaku rantainya lepas. Rantainya memang sudah aus. Ayah belum sempat membelikan yang baru. Kata ayah karena sekolahku dekat makanya aku disuruh jalan kaki.”

       “Ayo, aku antar sampai ke rumahmu!” ajak Sani.

      “Makasih, San, nggak usah, rumahku dekat sedangkan rumahmu jauh.”

       “Kalau begitu, aku duluan!”

       “Yoi!”

       Walaupun rumah Polan dekat dengan sekolahan, sebetulnya ia capek jalan kaki. Maklumlah biasanya ia naik sepeda. Tapi ia kasihan kalau Sani mengantar. 

       Sampai di rumah, seperti biasa Polan melihat ibu sibuk menjahit. Jahitan ibu akhir-akhir ini banyak. Langganan ibu para tetangga dan sebagian teman kantor ayah.

       “Lan, setelah makan siang, tolong belikan Ibu benang seperti warna kain ini. Juga kancing yang seperti ini. Ibu sudah beli tapi ternyata kurang dua buah. Sekalian reslueting ukuran tujuh belas setengah sentimeter,” pinta ibu dengan memperlihatkan kain perca dan contoh kancing.

       “Ibu, Polan kan baru saja pulang sekolah. Lelah. Sepeda Polan rusak. Masa Polan mesti jalan kaki lagi ke toko benang.”

       Walaupun Polan menolak, ibu bersikeras memintanya untuk membelikan. Terpaksa setelah makan siang, Polan pergi ke toko benang.

       Sampai di toko benang, Polan melihat banyak pembeli. Polan harus mengantre. Beruntung ia mengenal baik salah satu karyawannya. Karyawan itu biasa duduk di teras toko. Karena sibuk melayani, Polan meminjam kursi yang biasanya ia duduki. Kedua kakinya terasa sangat pegal. 

       Sambil duduk, Polan jadi ingat kata-kata Pak Pohan, “Mereka kan makhluk hidup seperti kita. Coba kalau kita jalan tarus, kan lelah.”

       Polan berjanji sampai di rumah nanti tidak akan membanting Pongpongan yang baru saja dibelinya dari Pak Pohan. Ia akan memeliharanya dengan baik.


Tentang Penulis

Iskadarwati atau Iis Soekandar, lahir Semarang, 27 Oktober 1965 tinggal di Jonegaran 277 Semarang, Jawa Tengah

No comments