HEADLINE

Cerpen Adam Yudhistira _"SEPASANG CAMAR"

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU:  EDISI 10

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), Cerpen dan Cernak ( minimal 5 halaman A4) untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam.
Kirim karyamu ke e-mail: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU. (Berhonor dan akan diambil satu karya puisi untuk dibuat konten video)

Redaksi juga menerima tulisan untuk diterbitkan setiap hari (selain malam minggu), kirim karyamu ke e-mai: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SASTRA SETIAP HARI. (Belum berhonor)


Ivone berjalan ke arah sebuah perahu yang cat lambungnya mengingatkanku pada kulit anggur. Dari belakang, rambut pirangnya bagai air terjun emas yang jatuh dari langit. Cantik sekali. Orang-orang pasti memiliki alasan ketika jatuh cinta, entah itu bentuk tubuhnya, matanya, pemikirannya, kelembutannya atau apa saja. Begitu juga aku. Aku memiliki alasan untuk jatuh cinta kepada Ivone. Salah satunya, aku jatuh cinta pada rambutnya.

Suatu sore, aku dan Ivone berjalan kaki dari Rue Messenet menuju Promenade des Anglais tanpa banyak bicara. Kami mungkin terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang menikmati suasana senja di pantai itu. Tapi sebenarnya tidak. Kami mendatangi pantai itu untuk membicarakan permasalahan yang sangat sulit. Perihal kematian dan perpisahan. Ivone terlihat kontras ketika berdiri di atas hamparan pasir putih. Mengenakan gaun biru selutut, tanpa alas kaki: seolah-olah dia ditakdirkan menjadi bagian dari laut. Dia memunggungiku, tapi bisa kulihat kalungnya berkilau ditimpa cahaya matahari. Ketika berbalik, sepasang matanya memandangiku dengan muram.

“Menurutmu apa yang paling menyedihkan di dunia ini?” tanyanya lirih.

Aku memandangi wajahnya dengan prihatin. “Kematian dalam kesunyian,” jawabku pelan.

“Itukah alasanmu pergi?”

Aku menggeleng. “Entahlah, aku juga tak mengerti kenapa akhir-akhir ini aku sering memikirkan kematian. Tapi percayalah, bukan itu alasanku.”

“Saat kau memilih pergi, kau telah memilih jalan yang suram. Peperangan akan terus ada, meski kau menang di semua medan perang yang kaudatangi.”

Aku diam. Ivone diam. Tercipta kesenyapan di antara kami yang cukup lama. Kesenyapan itu lalu diambil alih oleh riak ombak kecil yang menampar-nampar pasir. Seekor camar hinggap di tunggul kayu. Burung berbulu putih itu tidak beranjak ketika Ivone mendekat, namun saat tangannya hendak menyentuh, burung itu terbang menjauh. Dia mendesah kecewa, lalu mengalihkan semua kekecewaan itu kepadaku. Sorot matanya menyimpan sesuatu—yang jika kutebak adalah sebuah kemarahan.

“Aku sudah menemukan jawaban dari pertanyaanmu tempo hari.” 

“Pertanyaan?”

Ivone berjalan ke arah sebuah perahu yang cat lambungnya mengingatkanku pada kulit anggur. Dari belakang, rambut pirangnya bagai air terjun emas yang jatuh dari langit. Cantik sekali. Orang-orang pasti memiliki alasan ketika jatuh cinta, entah itu bentuk tubuhnya, matanya, pemikirannya, kelembutannya atau apa saja. Begitu juga aku. Aku memiliki alasan untuk jatuh cinta kepada Ivone. Salah satunya, aku jatuh cinta pada rambutnya.

“Pertanyaan tentang hidup sesudah kematian. Kauingat?”

“Oh ya, tentu saja aku ingat,” jawabku tertawa. “Pertanyaan itu kulontarkan tiga hari yang lalu.”

“Ah kau mulai pelupa sekarang,” ujarnya mencibir.

Aku tegak di atas sebatang pohon kelapa tumbang, sedangkan dia berjalan pelan di atas geladak. Kapal kecil itu tertambat di sebuah pancang besi seukuran paha orang dewasa. Aku membayangkan jika kapal itu adalah aku dan pancang besinya adalah Ivone. Saat ini, aku sedang mencari cara untuk lepas dan berlayar. Gadis itu tegak di anjungan, menghadap ke laut. Tali temali layar melambai mengikuti arah angin, demikian juga rambut dan gaunnya. Dia merentangkan kedua lengan, mendongak ke langit dan memejamkan mata. Dari bawah, aku melihat Ivone menjelma dewi yang terbang di angkasa.

“Jika aku mati dan diberi kesempatan hidup kembali, aku ingin menjadi camar!” katanya sedikit berteriak. Aku dan Ivone terpisah jarak sekitar dua meter, sesuai tinggi kapal. Jika berkata pelan, suara kami ditelan angin yang mulai berembus agak deras. Tadinya kupikir angin ini menandakan badai akan datang, tapi kulihat langit di kota Nice masih terang, tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. 

“Apa enaknya menjadi camar?” tanyaku serius. “Kenapa tidak sesuatu yang menyenangkan?”

Dia mengangkat bahu. “Aku tidak tahu.”

“Apakah kau merasa lebih damai?”

“Kupikir tidak perlu menjadi camar untuk merasakan damai.”

“Aku tidak mengerti.”

Di atas kapal, Ivone masih melakukan gerakan yang sama; merentangkan tangan dan memejamkan mata. Dia begitu menghayati perannya sebagai camar. Dalam nada penuh permohonan, dia berkata, “Kau memutuskan tidak turut berperang, maka aku akan merasa damai.”

Aku menggeleng lemah, lalu dengan sedikit ketabahan yang tersisa, aku mencoba membela diri. “Aku tidak bisa. Maksudku, aku tidak bisa bersikap pengecut. Aku seorang tentara, Ivone.”

Ivone menurunkan kedua lengannya, gerakannya terlihat putus asa. “Baiklah, tapi aku tidak akan menunggu. Aku tidak akan menunggu sesuatu yang hanya akan melukaiku.”

Ombak berdebur lembut. Belaian angin musim dingin mengusap bulu-bulu halus di lengan, menerbitkan rasa nyaman di sekujur tubuh. Angin itu merayap pelan dari arah pepohonan kelapa yang tumbuh berjejer mengitari teluk Promanade, dan membuat daun-daunnya seperti sedang berbisik membicarakan kami.

“Satu hal yang harus kauingat, Claude. Kedamaian yang diciptakan melalui senjata, itu tak akan pernah abadi.”

Dia menuruni tangga kapal, lalu berjalan menjauhiku. Raut wajahnya menunjukkan luka—mungkin terluka oleh jawabanku yang itu-itu saja. Aku mendekat dan berjalan pelan di sampingnya. Lidah ombak menjilati kaki telanjang kami. Kutoleh wajahnya. Mata turquoise itu diguyur hujan rintik-rintik.

“Tak ada camar hari ini ya,” lirihnya. Dia mengusap matanya dengan punggung lengan. “Hanya satu, dan itu pun telah pergi.”

“Kurasa cuaca berangin deras ini telah membawa mereka pergi dari laut dan berpindah ke danau.”

“Mungkin kaubenar.”

“Soal apa?”

“Soal camar-camar yang berpindah ke danau.”

“Aku hanya menebak. Tebakanku bisa saja salah.”

“Pantai ini selalu ramah menyambut camar-camar. Tidak ada debur ombak keras di pantai ini. Semua begitu tenang. Ah, andai kaubisa memberiku ketenangan seperti ini.”

“Bagaimana caranya?”

“Ubahlah keputusanmu ....”

Aku terdiam. Di kejauhan kapal-kapal pencari ikan berbaris di tengah laut. Senja seperti lukisan naturalis. Matahari menuangkan cat kemerahan ke atas laut. Temaram menciptakan siluet lembut pepohonan willow di kejauhan. Tapi senja kali ini tetap saja terasa aneh bagiku. Tidak ada camar sama sekali. Sejauh apa pun aku memandang, hewan-hewan cantik itu tidak kelihatan.

“Apakah kedamaian harus selalu ditebus dengan peperangan?”

“Aku tak tahu Tapi kupikir, untuk mencapai kehidupan beradab dan penuh kedamaian, memang harus ada yang dikorbankan.”

“Tolong kaujawab, kedamaian seperti apa yang bisa dicapai dengan senjata?” 

Pertanyaan itu bagai ayunan telapak tangan yang menampar pelipis. Aku tak siap hingga nyaris limbung dan terhuyung. Dia menoleh ke arahku. Aku menghindari tatapan matanya. Air mata itu membuatku tak sanggup memalingkan wajah ke arahnya.

“Baiklah, aku hanya punya satu pertanyaan terakhir untukmu. Jika aku menjadi camar, maukah terbang bersamaku?” tanyanya tiba-tiba.

Aku terdiam lagi, kali ini sangat lama, hingga ketika sadar, Ivone telah jauh. Aku hanya bisa memandangi punggungnya tanpa mampu mencegah atau menjanjikan apa-apa. Di saat seperti itu aku berpikir, terkadang kebisuan adalah kebodohan paling besar dalam hidupku. Bayangan tubuhnya semakin menjauh dan akhirnya hilang di balik temaram senja. Malam itu, kabut pelan-pelan datang dan merebahkan apa saja—termasuk perasaan kami berdua.

***

Kabut tebal dan hujan deras membuat pantai Normandia betul-betul gelap. Aku berlari mencari tempat perlindungan. Merayap di atas pasir basah, merasakan dingin air laut yang mencekik pernapasan. Di langit, pesawat-pesawat tempur Typhoon, Mustang, dan Mosquito, terus menjatuhkan berton-ton bom dari perutnya. Menciptakan kematian di mana-mana. Entah sudah berapa banyak tentara yang mati di tempat ini. Kematian dengan cara yang sama; ditembus serpih-serpih logam. Tapi apa bedanya kematian? Semua orang bisa mati di mana saja. Di jalanan, di lautan, di pegunungan atau di mana pun. Tak peduli seperti apa penyebab kematian itu, kematian tetaplah kematian.

Aku bukan lelaki yang takut pada kematian. Aku hanya lelaki yang takut pada kesunyian. Bahkan jika memang harus mati di sini, aku akan bersyukur, sebab setidaknya aku mati di tengah keramaian bukan mati dimakan kesunyian. Sekarang, di tempat ini, aku ingin menjadi camar. Aku ingin melakoni takdir dengan damai bersama Ivone. Saat kematian menjemput dan aku dihidupkan kembali, aku ingin menjadi camar.

Langit menjadi tabir tembaga, di balik pohon kelapa yang terkoyak, aku melihat dua orang serdadu Amerika sedang berjongkok. Salah satu dari mereka membuat tanda salib di dada—mungkin sedang berdoa. Terdengar ledakan keras. Pasir melayang ke segala arah. Aroma mesiu dan asap hitam menyesakkan rongga dada. Aku melihat dengan hati perih, dua serdadu itu terkapar. Aku menggigil, memeluk lutut dan menangis.

“Bangunlah,  Claude ...”

Aku tergagap. Itu suara Ivone. Sangat nyata. Dia berdiri beberapa langkah di hadapanku. Aku memandangi wajahnya dalam ketakjuban. Kami bertemu terakhir kali setahun yang lalu di gereja Konstantine, saat jasadnya terbujur anggun di dalam peti mati. Hari itu aku meyakinkan diri bahwa Ivone tidak pergi, dia hanya berubah menjadi camar dan pasti akan menemuiku lagi. Aku tidak menyangka hari ini adalah saatnya.

“Apa kabarmu?”

Ivone tertawa. Barisan giginya yang putih terawat, mempermanis tawanya. “Seperti yang kaulihat,” jawabnya sembari tersenyum, berputar dan menjijit gaun birunya. “Aku sengaja datang ke sini untuk menengokmu. Aku terbang cukup jauh. Kau tahu? Itu perjalanan yang melelahkan. Aku rasa, aku berhak mendapat sambutan yang lebih hangat dari ini.”

“Maafkan aku. Seperti yang kau lihat, aku sedang sibuk,” jawabku lesu.

“Ya kau memang selalu sibuk.” Ivone tertawa mengejek. “Seperti inikah caramu mencari kedamaian itu? Lihatlah sekelilingmu. Apakah kau menemukannya?”

Aku tersenyum masam. Jariku berkeringat. “Entahlah ...” jawabku tak peduli.

“Kedamaian seperti apa yang bisa dijanjikan benda seperti itu?” tanyanya sembari menunjuk senapan mesin di genggamanku.

“Aku juga mulai ragu jika benda ini mampu memberikan kedamaian ...”

“Kau menyesal?”

Aku menggeleng pelan. “Aku hanya menyesal telah meninggalkanmu.”

“Aku sudah di sini. Di dekatmu. Ayo, apa lagi yang kautunggu? Peluklah aku.”

Aku beringsut. Kuulurkan tangan dan berusaha menyentuhnya. “Apakah menyenangkan menjadi camar?” tanyaku penasaran.

“Tentu saja,” katanya gembira. “Kauingin mencobanya?”

“Bagaimana caranya?”

Ivone tersenyum. “Ayo ikuti aku. Kemarilah. Tak ada yang perlu kautakuti. Kematian adalah hal yang indah. Percayalah padaku.”

Aku mengangguk dan mulai mengikutinya. Dari arah bukit karang Pointe du Hoc, Jutaan cahaya putih berhamburan. Kulihat ke langit, rembulan pecah, sejuta serpihnya terserak ke segala arah. Angin bersuara pelan, seperti seseorang yang sedang meniupkan flute di kejauhan. Aku memejamkan mata dan merasakan ketenangan yang teramat sangat. Ketika aku perlahan membuka mata, kudapati Ivone terbang disampingku. Dia bernyanyi merdu. Di bawah sana terbentang ladang-ladang zaitun, lautan yang biru, pelabuhan yang sibuk, dan kota-kota yang tak bernama. (*)



Tentang Penulis

Adam Yudhistira, lahir 1985. Ia menulis Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku  yang dimuat di berbagai media massa cetak dan online di Tanah Air, di antaranya; Kompas, Jawa pos, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Lampung Pos, Riau pos, Padang Ekspres, Suara NTB, Minggu Pagi, Fajar Sumatera, Majalah GADIS, Tabloid Cempaka, basabasi.co, tamanfiksi.com, dll. Buku terbarunya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

Adam tinggal di Jl. Batu Raja. Kampung 5. Desa Tanjung Agung, Kec. Tanjung Agung. Kab.Muara Enim-Sumatera Selatan.

No comments