HEADLINE

PUISI 'JELEK' DAN HAKIKAT 'KONDE' YANG GAGAL DITERJEMAHKAN _Oleh Riduan Hamsyah



Sungguh celaka, ketika sebuah puisi ditulis oleh seorang yang tidak mengerti apa itu puisi, atau lebih tepatnya ditulis oleh seorang yang sama sekali belum pernah belajar menulis puisi.

Sepucuk senjata AK47, ia akan terkendali bila dipegang oleh seorang tentara yang telah melewati proses latihan kemiliteran yang khusus dan rumit. Mengapa? Sebab seorang tentara tidak akan sembarangan menggunakan senjata tersebut, ia paham benar berapa jumlah amunisi dalam selongsong peluru, berapa bobot dan daya jangkau sekaligus daya bunuh senjata tersebut. Seorang tentara pasti juga sudah paham, kapan dan dimana ia akan menggunakan senjata, dalam kondisi bagaimana dan situasi seperti apa senjata mesti ditarik pelatuknya. Pastinya seorang tentara sangat memperhitungkan efek dari sebuah senjata ketika telah masuk pada ranah eksekusi. Tentu, akan lain, akibatnya ketika sepucuk AK47 dipegang atau dipergunakan oleh orang yang bukan semestinya. Misal, dipegang orang gila. Sungguh celaka, dan bisa kita bayangkan dampak yang akan ditimbulkan seperti apa.

Sama celakanya dengan seorang yang sejak lama berprofesi menjadi pawang hujan tetapi tiba tiba saja ia mencoba menjinakkan seekor buaya raksasa dengan ilmu 'kepawangannya'. Dampak yang ditimbulkan sangat dahsyat, alih alih bisa menjinakkan itu buaya tetapi justru sebaliknya, sang pawang diterkam lalu diseret ke dalam sungai (Peristiwa nyata ini belum lama terjadi di Kutai, Kalimantan Timur).

Sebuah perkara bila dipegang oleh bukan ahlinya maka akan berakibat 'jelek', sama jeleknya dengan sejudul puisi yang ditulis oleh seorang yang belum pernah belajar menulis puisi tetapi (memaksakan diri) menulis sebuah puisi. Lebih parah lagi ketika ia (sang penulis tersebut) memaksakan sebuah tema yang menyerempet dinamika sosial juga sebuah kultur masyarakat, terjadilah salah kaprah dalam pengelolaan ilham yang belum terlatih. Hasil yang akan tersaji sebuah karya puisi jelek, bahkan mengotori publik. Lah, kenapa bisa demikian? Mungkin, penulisnya (bukan penyair-nya) adalah seorang yang selama ini dikenal luas oleh publik.

Puisi adalah mahakarya kata kata. Tidak semudah itu, sederet kata kata yang di-indah-indahkan, lantas langsung bisa disebut puisi. Sebab sejatinya, untuk mencapai predikat sebagai puisi, sederet kata kata itu mesti menempuh sebuah perjalanan yang jauh. Sepanjang waktu tak terhitung, sejauh perjalanan tak berujung. Ini hukum alam, Crut. Seorang penyair butuh proses yang sulit dan rumit serta latihan yang tak terhitung jumlahnya baru bisa menghasilkan sebuah karya yang layak disebut PUISI. Jangan pernah berpikir baru menulis sebulan dua bulan lantas sudah layak disebut "Pemuisi" kemudian dengan rasa percaya diri menghaparkan karyanya kepada publik sembari menunjuk dada sendiri, "Saya ini Penyair!" Keliru, itu, Crut. Bahkan sangat keliru. Sesungguhnya, seorang penyair, disebut penyair itu karena telah bertahun tahun menulis milyaran kata entah berapa ribu judul puisi yang disobek-buang pada rim-rim kertas terperosok jauh pada dunia pencarian imajenasi serta observasi untuk menemukan pola ucap yang tepat guna memuntahkan sepucuk tema menjadi bait bait karya. Puisi. Ya, puisi! sebuah reaksi heterogen yang sangat kompleks tersusun dari segala unsur budaya, estetika, pengalaman batiniah, ruhaniah, pandangan, statemant sekaligus juga argumentasi yang dibangun berpuluh-puluh tahun dibentuk menggeluti ribuan tema yang sakit dan penuh aroma perasaan setiap saat mengguncang se-isi dada.

Dalam batasan ini, kadang pula, seorang penyair belum tentu berhasil dalam menggarap semua tema. Bahkan untuk tema-tema perasaan yang diserapnya melalui sensitifitas jiwa telah luluh begitu jauh dalam dunia fantasi ilham atau inspirasi. Belum tentu. Seorang penulis puisi yang dianggap mulus menggarap sebuah tema tetapi bisa jadi ia akan gagal pada tema tema yang lainnya. Sungguh, sangat rumit menjadi penulis puisi itu, Crut! Tak semudah membalikkan telapak tangan seperti yang pernah anda bayangkan.

Nah, bagaimana dengan orang yang baru (berupaya menulis puisi) lantas sudah mencoba untuk menggarap sebuah tema yang besar?

Dipastikan anda akan gagal!

Lebih tepatnya anda akan menghasilkan sebuah karya yang 'jelek' bahkan lebih cocok disebut lucu. Lucu isinya. Lucu pula melihat anda membacakannya. Ketika hakikat sebuah 'Konde' anda tarik dengan paksa masuk ke sebuah tema yang gelap lalu anda paksa pula untuk menterjemahkan sebuah tatanan humanis yang telah menjadi kultur manusia sejak lama, maka dimana letak keindahannya? Pun kaidah kaidah sastrawi yang belum anda sempat pelajari menguap dari bait bait berantakan membuat sebuah karya hancur berkeping, disoraki orang sepanjang bahu jalan. Sungguh celaka, sungguh celaka! Yang menetas dari kerja kecil ini bukan sebuah mahakarya puisi tetapi marabahaya puisi yang menggema dan -menonjok- pelipis penulisnya (bukan penyairnya) sendiri. Ini lebih disebabkan karena anda belum berlatih tetapi telah memanjat, dahan-dahan tempat tangan anda berpegangan berderak patah lalu runtuh ke muka.

Untuk menggarap sebuah tema yang berat atau besar, anda perlu latihan, Crut. Latihan itu dimulai dari menggarap tema tema kecil dulu, semisal; nelayan dan laut atau petani dan cangkul. Atau lagi bunga dan kumbang bisa juga upin dan ipin. Lebih gampang lagi garaplah tema tema percintaan anak remaja, agar imajenasi anda sedikit ganjen, sebab lebih cepat melatih itu imajenasi yang ganjen untuk mengolah sebuah tema. Jangan langsung menggarap tema yang 'Wah!' sebab anda akan terjerembab ditindih KONDE anda sendiri diseret paksa masuk dalam sebuah seni yang gagal diterjemahkan  banyak orang dengan kacamata tak sempurna.

Tentang Penulis
Riduan Hamsyah, ia hobby mancing di laut dan baru belajar menulis beberapa judul puisi.

No comments